
Nana yang seharusnya sudah berpengalaman dengan laki-laki, tetap saja merasa canggung saat bertemu dengan Zen. Entah karna sudah lebih dari setahun tidak berpacaran atau mungkin karna terlalu fokus belajar, sehingga dia lupa untuk mempersiapkan diri dengan kemungkinan seperti ini. Karna cepat atau lambat waktu pasti akan mempertemukannya dengan Zen.
" Mbak..."
" Hhemm ? " Menatap kearah Zen.
" Ma'af ya kalau kedatanganku kesini, malah mengganggu dan bikin mbak Nana jadi nggak nyaman." Zen memelas.
Meski Nana terkesan cuwek, tapi sebenarnya dia adalah orang yang mudah merasa tidak enakan. Sama seperti kondisinya sekarang ini. Saat matanya menangkap kesediahan diwajah Zen, hatinya terasa begitu sakit. Dia memang sudah berusaha bersikap baik. Namun sepertinya Zen tetap melihat ketidak tulusan dari sikapnya.
Nana... Kamu jangan jadi orang jahat. Dia itu calon suami kamu. Masa depan kamu. Sekarang tenang, tarik nafas lalu buang.
Merasai doktrinnya sudah merasuk keseluruh tubuh, Nana menghirup nafas panjang lalu menghempaskannya pelan. Seolah Ia menghempaskan semua rasa tegang, canggung dan juga gelisah yang senyelimuti auranya.
Oke ! Sekarang bersikaplah layaknya calon istri yang baik. Semangat, kamu pasti bisa! Mengacungkan kepalan tangan dibawah dagu, memperlihatkan semangat yang terisi penuh.
" Hehehe. Nggak kok, Dek. Tenang aja !"
" Beneran? "
" Masa sampean meragukan aku sih ? " Dengan nada genit Nana mengucapkan kalimat spontan itu.
__ADS_1
Kok aku jadi begini banget. Tetep jaga image kamu, Nana.
Nana tertawa karna malu dengan ucapannya sendiri. Sedangkan Zen tertawa karna ucapan yang begitu menggemaskan dan tidak pernah Ia sangka akan keluar dari bibir merahnya Nana. Merekapun sekarnag tertawa bersama tanpa beban ataupun kesenjangan.
" Oh iya !" Tersadar sesuatu. " Bentar ya, Dek. Tak buatin minum dulu."
Nana beranjak meninggalkan Zen. Namun terhenti, karna tangan Zen lebih dulu meraih tangannya sebelum dia melangkah.
" Ada apa, Dek?" Mendekapkan tangan yang lain pada dadanya. Merasai jantung berdebaran.
" Nggak usah, Mbak. Aku kan kesini cuma mau lihat mbak Nana." Zen memperlihatkan lesung pipi dalam senyumannya.
Zen menarik tangan Nana. Menyuruhnya untuk duduk kembali disampingnya. Dan sekarang mereka duduk berdampingan seperti sedang dipelaminan, dengan tangan Zen yang masih memegang tangan Nana.
" Emang udah mau pulang ya, Dek?" Sepertinya Nana merasa kecewa.
" Iya. Makanya pingin di puas-puasin lihat mbak Nananya." Masih menggenggam salah satu tangan Nana.
" Jangan ! " Sambil memalingkan wajahnya
" Kenapa?" Zen merasa hawatir, jika ucapannya sebelumnya merupakan sebuah kesalahan.
__ADS_1
" Nanti kalau bikin kangen kamu gimana?" Dengan santainya Ia mengucapkan kalimat memalukan lagi.
MasyaAllah... Zen menunjukkan ekspresi yang melemas hingga tersandar di sandaran sofa.
" Kamu kenapa, Dek?"
" Jangan bilang kayak gitu." Malu sendiri mengingat ucapan Nana.
" Kenapa?" Heran.
" Nanti kalau aku gak bisa pulang gimana?"
" Kenapa?" Belum memahami ucapan Zen.
" Ucapannya mbak Nana tadi bikin aku lemes. Kalau udah lemes begini gimana bawa motornya coba?"
Nana tidak mampu menahan tawanya. Bahkan dia berani memukul gemas paha Zen, melampiaskan perasaan malu yang dideritanya.
Nana dan Zen terlihat semakin akrab. Semuanya berjalan dengan normal. Karna mereka sudah melupakan kecanggungan yang sempat mereka alami satu sama lain.
Epilog :
__ADS_1
Jika ada yang mempertanyakan kenapa Zen masih memanggil Nana dengan sebutan "Mbak" atau Nana yang memanggil Zen dengan sebutan "Dek". Maka jawabannya adalah karna untuk sekarang mereka belum berada di posisi untuk memanggil "Sayang". hehehe.