Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Nasi Goreng Made in Nana


__ADS_3

Selepas sholat magrib suara riuh menggema di dapur kost Nana, yang berada di lantai satu. Hal itu bukanlah kejadian aneh, disaat para gadis sedang berkumpul. Mereka tertawa dan menjerit tanpa menghiraukan beban masa depan yang sudah menanti.


Gadis-gadis ini adalah Nana, Tia, Rena, Dian, May dan teman sekamarnya, yang juga satu angkatan, satu fakultas namun beda jurusan, yaitu Eva. Mereka mentertawakan Nana yang kalah suit dan harus memasak nasi goreng sebagai konsekuensinya.


Sebenarnya memasak bukanlah hal sulit untuk dilakukan oleh Nana. Karna saat Nana tinggal di Lampung, Ia sudah terbiasa membantu kakak iparnya yang memiliki usaha katering. Bahkan saat Nana libur sekolah, sering kali kakak ipar mempercayakan menu yang dipesan pelanggannya dimasak oleh Nana. Dan sengaja atau tidak, hal itu menjadikan Nana sangat akrab dengan bumbu dapur.


" Ini sih senjata makan tuan namanya." Keluh Nana yang disambut tawa pendengarnya.


" Iya ya. Masa dia yang ngusulin suit malah dia yang kalah. Hahaha." Dian.


" Udah terima aja nasib kamu. Sana cepetan masak !" Rena.


" Tapi inget ! Jangan kamu racuni nasgor kita, Na." Eva.


" Oh iya ! Sekarang kita suit lagi yuk. Yang kalah harus ngawasin Nana, jaga-jaga siapa tau dia mau racunin kita." Celetuk Rena lagi.


" Yang bocah-bocah aja ya! Soalnya aku mau keluar bentar."


" Mbak Tia mau kemana? Kan kita mau makan nasi goreng." Tanya Nana yang sedang menyiapkan bumbu nasi gorengnya.


" Mau ngeprint file sekripsi, buat bimbingan sama dosen besok. Nanti tak beli'in krupuk."


" Oh iya ! Kenapa tadi sore pas kita beli bumbu gak keinget krupuk ya mbak May. Untung Emak kita orangnya tanggap. Hehehe." Nana mengedip-ngedipkan mata pada Tia, yang dimaksud Nana sebagai Emak.


Tia pun meninggalkan junior-junior kurang ajarnya itu. Nana ditemani May mulai memasak nasi yang didapat dari Ibu kost tadi siang, dalam rangka syukuran. Karna lauknya sudah habis tidak bersisa dan hanya meninggalkan nasi yang masih cukup banyak, jadilah ide membuat nasi goreng ini. Sedangkan yang tidak bersangkutan bertugas didapur, menunggu diruang tamu sambil belajar untuk ujian akhir semester yang dimulai esok pagi.


" Na, itu ponsel kamu bunyi. Ada pesan masuk kayaknya." Menunjuk ponsel yang tergeletak dilantai, tempatnya mengulek bumbu tadi.

__ADS_1


" Tolong gantiin aku bentar, Mbak." Menyerahkan sutil pada May. " Sebentar ! Tak kecapin sekalian nasgornya." Nana membubuhkan kecap pada masakannya.


Dalam hati, Nana mengharapkan itu adalah pesan dari Zen. Karna dari pertemuan mereka waktu itu, belum ada kelanjutan komunikasi lagi diantara mereka. Nanapun terlalu gengsi untuk memulainya duluan.


" Ye, kiraain dari siapa ! Ternyata dari operator !" Nana kesal. Kecewa juga.


Saat Nana mau meletakkan ponselnya diatas kursi yang ada didapur, ponselnya kembali berbunyi. Dengan enggan, Nana memeriksanya. Karna masih kepegang aja itu ponsel, makanya sekalian aja Nana memeriksanya .


Eh ! Nana.


Melihat sekilas nama pengirim pesan kali ini, jantung Nana berdebar lebih kencang. Kemudian mengucek matanya, siapa tau dia sedang berhalusinasi karna memang mengharapkan. Dan ternyata nama yang muncul memang orang yang Ia harapkan.


" Assalamu'alaikum, mbak Nana. Gimana kabarnya?" Pesan dari Zen.


" Wa'alaikum salam. Alhamdulillah baik. Ini siapa ya?" Balasan Nana, yang entah berapa kali mengalami pengeditan.


Hehehe. Hampir aja keceplosan ! Dia kan nggak tau kalau aku nyimpen nomor ponselnya !


" Iya... iya... Aku udah tersindir ini !" Nana meletakkan ponselnya, lalu mengambil alih kembali m masakannya. " Udah diicipin belum, Mbak?"


" Udah mateng ya?" Sahut Dian yang tiba-tiba muncul.


" Bantuin aja nggak! Nanya-nanya dah mateng belum." Nana dan May kompak menggunakan nada sewot.


" Iya deh, sini tak bantu icipin." Dian mengambil sendok lalu menyendok nasi goreng diatas wajan untuk di icipi.


" Lha kok enak banget ya bantuinnya." May berkacak pinggang, yang sama sekali bukan gayanya. Jadi terlihat lucu melihatnya seperti itu.

__ADS_1


" Enak ! Matiin Na, kompornya. Aku udah laper ini." Tingkah Dian semakin membuat Nana dan May geleng kepala.


" Aku pulang...! Udah mateng ya? Harumnya kecium nyampe diluar gerbang lho." Tiga pasang mata didapur menatap sebentar kedatangan Tia bersamaan, lalu kembali memperhatikan Nasi goreng yang sedang mereka siapkan diatas Nampan.


" Ya udah ! Nggak tak kasih kerupuk kalau gitu." Ucap Tia karna merasa dicuwekin.


" Hehehe. Gitu aja ngambek! Mbak Tia sayang nasgornya udah mateng, ayo kita makan bareng diruang tamu." Rayuan Nana agar bisa menikamati krupuk yang dibawa Tia.


Sesampainya diruang tamu, Renata dan Eva dengan sigap menyingkirkan buku-buku yang berada diatas meja, agar dapat segera ditempati oleh nasi goreng yang mereka nantikan.


" Nggak usah bilang enak ! Soalnya aku tau, itu cuma rayuan kalian biar aku mau disuruh masak lagi !" Ucap Nana, yang disambut gelak tawa teman-temannya. Karna itu memang kerjaan mereka untuk ngakalin Nana, anghota termuda dirumah kost.


Mereka bersiap menikmati nasi goreng yang terhidang dihadapan mereka sambil duduk dilantai mengelilingi meja. Kecuali Nana, dia duduk diatas sofa, bersiap untuk berbaring sambil membuka pesan masuk diponselnya.


" Kamu ngapain duduk diatas? Nggak makan? Mau kumat itu maagnya? Biar besok gak ujian sekalian." Renata emang paling cerewet pada Nana masalah makan, karna Ia merasa diamanati Ibunya Nana untuk itu.


Pada saat Ibunya Nana berkunjung kerumah kost, diantarkan oleh Hafid karna sudah tidak dapat menahan rindunya pada Nana. Kebetulan saat ibu berkunjung, Renata sedang belajar bersama Nana diruang tamu. Jadilah dia diajak nimbrung oleh Nana dan Ibunya. Dan saat itu Ibunya Nana memang meminta tolong padanya untuk menjaga Nana, terutama masalah makan. Sedangkan Renata yang memang suka sekali menjahili Nana, menjadikan pesan dari Ibu itu sebagai alasan setiap kali Ia mau memarahi ataupun menjahili Nana.


Tau aja nie mbak Rena, kalau aku nggak niat makan. Hiks. Nyalinya menciut.


" Iya.. ini mau makan. Hehehe." Nana merosotkan diri kelantai. Terduduk disamping Renata yang matanya masih melototi Nana.


Sambil mengunyah nasi goreng, Nana bermaksud membalas pesan dari Zen. Karna hatinya dan juga jari-jarinya sudah tidak sabar. Tapi urung Nana lakukan.


Plakk. Tangan Tia mendarat diatas tangan kiri Nana yang hampir menyentuh ponsel. Nana memang sudah salah mencari posisi duduk. Dia duduk diantara Renata dan Tia yang sama-sama suka menyiksanya.


" Awwwwww." Nana mengelus-elus punggung tangannya.

__ADS_1


Hikkk... hikkk... Belum juga kepegang ponselnya, tapi udah kena ceplakan tangan mbakTia. Lanjut Nana dalam hati.


Sedangkan yang lainnya, melihat Nana yang kesakitan malah tersenyum kompak sambil mengacungkan jempol mereka pada emak Tia.


__ADS_2