Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Dia Aisyah


__ADS_3

Tubuh Nana terasa lemas. Dia terduduk ditempatnya semula. Meski sudah tidak dapat melarikan diri, namun Zen masih saja memegangi tangannya dengan kencang. Karna Zen maumenyelesaikan permasalahnnya dengan Nana sekarang juga.


" Kenalan dulu sana, sama bulek Nana." Zen memberikan kode pada bidadarinya untuk mendekat pada Nana.


Bulek? Nana mengangkat wajahnya yang tadi tertunduk lesu.


Tuaan juga dia, ngapain nyuruh manggil aku Bulek? Dia tidak tau lagi apa yang ada dalam pikiran Zen.


Wajah gadis itu memang terlihat lebih dewasa dibanding Nana, " Ya awas, tangannya lepasin dulu." Memisahkan tangan Zen dari Nana.


" Bulek." Gadis itu mengulurkan tangannya pada Nana sambil tersenyum.


Dengan ketulusan hati dan sisa-sisa tenaga yang habis terkuras, karna menahan gejolak emosi. Nana membalas uluran tangan dan juga senyuman dari gadis itu.


" Eh." Nana kaget karna gadis itu menarik tangannya lalu dicium.


" Aku Aisyah, Bulek. keponakannya, paklek Zen."


" Hah ?!" Nana menutup mulutnya tidak percaya. " Beneran?" Menengok kearah Zen. Zen mengiyakan sambil tersenyum.


" Kamu sengaja ya ngerjain aku?" Akhirnya air matanya tumpah. Namun kali ini merupakan air mata kebahagian untuk Nana.


" Emangnya ada apa sih?" Aisyah merasa bingung dengan dua manusia di sebelahnya.


" Dia bilang, kalau kamu itu selingkuhannya." Bohong. Padahal itu adalah asumsi Nana sendiri.


" Hah?" Aisyah menatap Zen, masih dengan wajah bingung. " Kok bisa-bisanya sih Paklek !" Memukuli lengan Zen. Tidak terima sudah dijadikan bahan untuk membohongi Nana.


" Aw. Kapan sih Mum, aku bilang kalau dia selingkuhanku? Kan kamu sendiri yang..."


" Iya, tadi kamu bilang gitu."


Nana tersenyum malu dan memilih melimpahkan kesalah pahaman yang Ia buat sendiri pada Zen. Yang memang sejak awal tidak pernah mengatakan apapun tentang Aisyah. Dan tidak menjelaskan ataupun menyangkal atas tuduhan yang dilontarkan Nana padanya.

__ADS_1


" Kalaupun aku mau selingkuh juga bakal pilih-pilih tau, Mum !"


" Apa?!" Nana dan Aisyah kompak.


Aisyah adalah gadis polos yang perilaku juga ucapannya sangat lembut. Cerminan dari gadis jawa solo. Dan sangat dekat dengan Zen.


" Ayo Bulek, kita gelitikin paklek Zen." Ucap Aisyah yang tau persis kelemahan Zen, yang sangat sensitif dengan sentuhan.


" Ayok." Nana bersemangat, karna ingin melampiaskan kekesalannya hari ini.


Zen sudah berhasil melarikan diri sebelum tangan-tangan gatal itu menggrayangi tubuhnya.


" Waktu paklek Zen jemput aku di pondok. Dia pamer ke aku tentang bulek Nana."


" Pamer, apa?"


" Pamer, bilang kalau punya pacar cantik anak kuliahan, nggak ada apa-apanya deh dibandingkan sama aku. Eh, ternyata beneran cantik banget. Aku jadi minder ! Hehehe."


" Hahaha. Nggak usah peres deh ! Dipondok nyambi sekolah apa cuma ngaji, Dek?" Lidah Nana masih kerasa kaku untuk memanggil Aisyah dengan sebutan Dek.


" Kamu hafalin al-Qur'an?" Nana merasa takjub.


" InsyaAllah, Bulek. Minta do'anya."


Itulah mengapa Zen suka memanggil Aisyah dengan sebutan bidadari. Hanya sebatas ungkapan untuk perasaan bangganya yang teramat terhadap Aisyah, sang calon penghafal al-Qur'an. Yang adalah anak pertama dari kakak pertamanya. Dan juga keponakan pertamanya yang memiliki tekat untuk menghafal al- Qur'an.


***


Perasaan Nana begitu lega. Beban yang tadinya seperti menghimpitnya sekarang sudah menghilang. Seiring menghilangnya Aisyah dari hadapannya. Nana membersihkan bajunya yang sudah kotor tertempeli pasir dimana-mana. Nana mulai memperhatiakan penampilannya, agar saat bertemu Zen lagi, masih ada sisa-sisa kecantikannya yang dapat Ia perlihatkan pada Zen.


Setelah beberapa saat Nana menunggu, Zen tak muncul lagi ditempat itu. Nana memutuskan kembali keperahu untuk mengambil bekal makanan yang sudah Ia siapkan untuk Zen.


" Mam-ku sayang..." Nana berlari menghampiri Zen yang datang dari arah berlawanan.

__ADS_1


Pluk. Sebuah topi pantai mendarat dikepala Nana saat berada dihadapan Zen.


" Cantiknya, Mum-ku." Zen tersenyum saat Nana memandanginya sambil memegangi pinggiran topi.


Sebenarnya topi itu sudah Zen siapkan sejak pagi tadi. Saat sampai dipulau, dia melihat penjual topi yang membuatnya membayangkan betapa cantiknya topi itu jika dikenakan oleh Nana. Namun karna Nana terus menghindarinya, baru sekarang Ia dapat memberikannya.


" Mam-ku..." Imam ku.


" Iya, Mum-ku." Makmum ku.


Sejak pulang dari menengok anak Firman, Nana dan Zen menggunakan nama itu untuk meledek satu sama lain . Yang akhirnya keterusan menjadi nama kesayangan hingga sekarang, karna juga lebih nyaman dari panggilan sebelumnya yaitu Mbak dan Adek. Nama yang mungkin terdengar aneh untuk orang lain yang mendengar.


" Ma'af ya, udah menuduh yang bukan-bukan." Nana mengakui kesalahannya.


" Mum." Zen memegang kedua tangan Nana dengan lembut. " Anggap saja ini sebagai pelajaran kedepannya. Terutama nanti saat kita sudah membina rumah tangga." Kalau ada masalah, apapun itu jangan disimpulkan sendiri. Jangan dipendam sendiri. Mari kita bicarakan, agar masalah itu cepat selesai dan tidak menjadi berlarut-larut seperti ini."


" Iya." Nana menunduk merasa bersalah.


" Mum, masih ingat kan sama ucapan Mumum sendiri. Jika mulai sekarang kita tidak boleh membiarkan kedua orang tua kita mencampuri hubungan kita lagi. Walaupun mereka lah yang membuka jalan ini, namun pada akhirnya kita lah yang akan menjalani. Ingat ?"


Nana memang pernah mengucapaknlan kalimat itu pada Zen. Dimana saat itu Nana sedang menumpahkan kemarahannya terhadap Zen setelah terjadinya pertunangan yang tidak sesuai dengan harapannya.


" Iya aku inget, Mam."


" Maka dari itu perlu adanya saling percaya, dan saling menjaga kepercayaan masing-masing, Mum." Zen menyentuh dagu Nana agar Ia dapat memandangi wajah cantiknya.


" Mau kan, Mum?" Nana mengangguk


" Kita keperahu yuk. Aku punya sesuatu buat, Mamam."


Mereka bergandengan, berjalan bersama menuju perahu untuk mengambil bekal yang sudah Nana siapkan spesial untuk Zen.


" Ehheeem... eheemmm... " Suara deheman bersaut-sautan dari Firman, Hafid dan Dinda yang sedang makan diatas perahu, saat melihat Nana dan Zen mendekat.

__ADS_1


Terlihat gelagat malu-malu dari pasangan baru itu. Baru baikan maksudnya.


__ADS_2