Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Pasangan Dholim


__ADS_3

Karna diminta oleh Fahmi untuk kumpul dengan pengurus karang taruna kabupaten, mau tidak mau Zen harus meninggalkan Nana. Sebab, Nana sendiri menolak untuk ikut serta bersamanya ke pertemuan khusus itu.


Emang aku cewek apaan, ngintilin Mamam sampai segitunya, Huh! Sungut Nana dalam hati.


" Sana, Mamam udah ditungguin itu lho. "


" Mumum beneran nggak mau ikut? " Zen memastikan sekali lagi. Karna ia tidak tenang untuk meninggalkan Nana sendirian.


" Nggak, Sayang-kuuu. Mumum nggak mau ikut. Mumum kan mau godain cowok-cowok disini, selagi nanti Mamam nggak ada! "


" Apa?!? Bilang apa tadi? "


Ucapan Nana membuat Zen semakin tidak tenang untuk meninggalkannya sendirian. Ia tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup untuk bersaing dengan semua laki-laki disini. Karna mereka kebayakan lebih muda, lebih ganteng dan juga lebih mapan ketimbang dirinya. Ibaratnya, Zen hanya mengandalkan keberuntungan untuk membuat Nana tetap berada di sisinya.


" Mumum ngomong apa sih tadi emangnya? Kok Mumum jadi lupa ya, Mam! " Pura-pura lupa tepatnya.


" Ayo ikut sini! " Zen menarik tangan Nana.


Ia mengajak Nana untuk bergabung dengan anak-anak perempuan yang sedang duduk bergerombol, di gelaran tikar yang nantinya akan digunakan untuk tempat acara sharing dengan pemuda-pemudi karang taruna wilayah ini.


" Mumum diem disini aja ya. Awas kalau berani cari yang lain! "


" Iya. Tapi kalau Mumum nggak khilaf ya! "


" Mumum... " Zen memperingatkan Nana.


" Iya iya. Udah, Mamam cepetan kesana! " Usir Nana lagi. " Dan cepetan balik ke pelukan Mumum lagi. " Lanjut Nana dengan berbisik di telinga Zen.


" Eeenngggg, Mumum. " Hati Zen terasa meleleh.


Tapi tidak sampai membuat Zen lengah untuk tidak menitipkan Nana pada salah seorang yang juga sedang duduk diatas tikar yang baru saja diduduki Nana.


" Hist! Emangnya Mumum barang apa, pake dititipin segala. "

__ADS_1


" Hehe. Mamam tinggal ya. Jangan nakal. Jangan berantem sama temen-temennya. " Zen mewanti-wanti Nana, sebelum melambaikan tangannya dan menghilang dari pandangan Nana.


" Itu tadi pacarnya, Mbak Mumum ya? " Tanya gadis yang di beri tanggung jawab oleh Zen untuk mengawasi Nana.


Mbak Mumum? Nana menutup mulutnya. Ingin tertawa tapi takut kualat.


" Kenalan dulu Mbak, namaku Nana. Mbaknya namanya siapa? " Masih ada bisa menahan tawanya


" Mita. Loh, tadi masnya manggilnya Mumum, kirain nama sampean Mumum! "


Begitulah Nana dan Mita berkenalan. Meski sempat diwarnai sedikit kesalahpahaman, tapi mereka tetap bisa menemukan kecocokan satu sama lain. Selain itu, usia mereka yang seplantaran, meski Mita berada di semester tiga, alias juniornya di universitas lain, membuat keduanya lebih bebas tanpa hambatan dala berkomunikasi.


***


Beberapa menit kemudian, Zen sudah kembali muncul di hadapan Nana dan Mita yang sedang melahap nasi kotak yag dibagikan panitia.


" Mum. Mumum kok nggak makan? "


" Belum ... " Pingin makan. Kalimat Nana terpotong.


Nana tertawa, tanpa mengomentari ucapan asal dari mulut Mita itu. Karna ia juga penasaran dan ingin tau bagaimana reaksi Zen menanggapi hal itu.


" Hayo Mumum! Tadi Mamam bilang apa coba? Nggak boleh nakal kan? Ini malah pake nggak mau makan. "


" Ya makanya, Mamam suapi Mumum toh! " Ucap Nana manja.


Gantian Mita yang tertawa sampai tersedak. Niat hati hanya ingin menggoda, tapi ia malah seperti menyuarakan keinginan terpendam dari teman barunya itu.


Dasar si Nanak !


" Ya udah sini! Mana nasinya. " Zen ikut duduk di samping Nana.


Eh! Kok jadi beneran. Nana sendiri tidak menyangka jika Zen bersedia.

__ADS_1


Hah? Ini cowoknya juga mau-mauan aja nuruti Nanak. Mita.


" Aaakk. " Satu sendok berisikan nasi dkk sudah siap di depan mulut Nana.


" Aduhhh! Pemandangan ini sungguh sangat menyakitkan mata batin jomblo anyaran ini. " Ucap Mita sambil meutup matanya dengan satu tangan.


Mita sudah menceritakan pada Nana, bahwa alasan ia mengikuti acara camping dan sharing ini adalah untuk bersenang-senang. Ia ingin mengobati rasa sakit yang ditinggalkan oleh mantan pacarnya


yang menuduh dirinya berselingkuh, sebagai alasan putus. Dan baru diketahui belakangan ini, bahwa mantannya itulah yang berhianat dengan memacari temannya sendiri.


" Ma'af ya, Mit. " Nana nyengir. " Mita itu baru diputusin sama pacarnya, Mam. Ngenes ya? " Nana menjelaskan keadaan Mita pada Zen.


" Hu'um, kasihan. "


Mita sudah ingin tertawa dengan simpati Nana yang terlihat meyakinkan. Tidak sesuai dengan karakter Nana yang ia kenal.


" Siniin sendoknya, Sayang. " Pinta Nana. Ia terlihat merasa bersalah terhadap Mita.


Tapi tidak selang lama setelah itu,


" Mamam, aaakkkk.... "


Tuh kan... Mita sudah menebak jika ada yang tidak beres dengan sikap Nana.


Karna dengan sengaja, Nana memamerkan kemesraaannya. Dihadapan Mita, yang ia sebut jomblo ngenes itu, Nana gantian menyuapi Zen.


" Enak nggak, Sayang? " Ujung jari Nana mengelap ujung bibir Zen yang sebenarnya tidak ada kotiran yang menempel disana.


" Enak lah! Soalnya kan Mumum-ku yang nyuapi. " Ucap Zen yang seolah sudah diajak kerja sama oleh Nana sebelumnya.


" Dasar, pasangan dholim kalian itu! " Ucap Mita sambil tertawa.


Bikin iri orang aja!

__ADS_1


Meski batinnya mengalami kesengsaraan, tapi Mita merasa senang bisa mengenal pasangan dholim itu disini.


Ia hanya bisa menyesali ucapannya yang mengantarkannya pada kesengsaraan batin ini.


__ADS_2