
Setelah menyelesaikan makan siang, Zen segera masuk ke dalam kamarnya untuk mengistirahatkan tubuh yang letih setelah menyelesaikan pekerjaannya di tambak hari ini.
Berguling ke kanan dan ke kiri di atas ranjang tidur dengan mata terpejam, Zen masih belum dapat terlelap dalam dunia mimpi.
Kangen... Zen mengeratkan pelukannya pada guling.
" Mumum-ku lagi apa ya? " Sembari memeriksa ponsel.
Zen tau, jika pagi tadi Nana menghadiri sebuah seminar umum di kampusnya. Karna Nana sudah mengatakan hal itu, saat Zen menelfonnya di pagi buta. Disaat Ia ingin tidur lagi setelah menunaikan sholat subuh. Karna semalam Nana harus begang sambil menonton drama korea untuk mengisir rasa takut, hasil dari cerita horor dari teman-temannya. Bukannya menemani Nana yang semalam harus tidur sendiri tanpa Tia yang sudah pulang ke kampung halaman, mereka malah sengaja menciptakan suasana seram di kamar Nana.
Zen sudah menyerah dengan usahanya untuk dapat tidur siang. Ia mencoba menghubungi Nana. Siapa tau dengan mendengar suara Nana dapat membuatnya menjadi rileks dan akhirnya mudah untuk tidur. meski baru pagi tadi Ia bertukar kabar dengan Nana via telfon.
" Mumun lagi ngapain sih, kok nggak diangkat. Nggak tau aku lagi kangen banget apa! " Padahal baru pagi tadi mereka ngobrol lebih dari satu jam.
Mungkinkah ini kutukan Dilan? Entahlah. Kenyataannya ini lah yang dialami oleh Zen. Baru sekali panggilannya tidak terjawab Nana, dia sudah mengeluarkan dadil kerinduannya yang seperti tidak tertahankan lagi.
Zen mencoba menghubungi Nana untuk kedua kalinya.
" As sala mu'alai kum, Ma am. " Terdengar nafas Nana tersengkal-sengkal.
Zen bangun dari posisi tidurnya karna panik.
" Mumum kenapa? Kok ngos-ngosan gitu. "
__ADS_1
" Nggak apa apa, Mamm. Bentar. Tunggu bentar. " Nana mengatur pernafasan sebelum menjelaskan keadaannya.
" Mumum lagi dimana sih? "
Panik. Rasanya Zen ingin memiliki alat teleportasi, mesin waktu, lorong waktu atau apapun itu yang berfungsi membuatnya dapat melihat keadaan Nana dimanapun dan kapanpun itu, tanpa harus menyita banyak waktunya. Seperti saat ini, Ia benar-benar ingin melihat apa yang sedang terjadi pada Nana disana.
" Aduh. Mumum capek, Mam! "
" Mumum lagi ngapain sih! " Jawaban Nana justru semakin menyulut kepanikan Zen.
Ia sudah akan bersiap untuk berangkat ke Semarang, jika Nana masih memberikan jawaban yang ambigu padanya.
" Mumum habis ngejar mbak Nay sama mbak May, Mam! " Nana terdengar sudah lebih dapat mengontrol nafasnya.
" Mereka ngajarin Mumum yang nggak-nggak lho, Mam! "
" Hemm? " Ajaran seperti apa yang dimaksud Nana, sampai membuat nafasnya tersengal-sengal karna mengejar Naila dan maimunah, adalah makna dari kata hemm yang diucapkan Zen.
" Masa iya, Mumum disuruh beli daleman yang seksi banget buat dijadiin hadiah buat Mamam. " Blussh. Wajah Zen merona.
" Mana warnanya merah lagi! Sama kayak warna sepeda motor Mamam. "
" Emm. " Tidak tau harus menjawab apa.
__ADS_1
Zen mengira ceritanya sudah selesai sampai disitu. Namun nyatanya di salah.
" Yang bentuknya kayak bikini itu lho, Mam. Yang satu set atas sama bawahannya. Cara pakenya diiket sama tali tipis, kalau talinya putus gimana coba?" Blush... Blush... bertambah merah warna di wajah Zen.
Nana masih belum menyadari apa yang sedang Ia ceritakan pada Zen. Ia masih bersemangat melanjutkannya.
" Kan bahannya renda ya, Mam. Padahal udah transparan banget, nyampe dalemnya kelihatan gitu, tapi masih aja di kasih lubang-lubang di bagian pas itunya, Mam. " Blush... Blush... Blush... Blush...
Setiap kata yang diucapkan Nana. seperti menghujamami tubuh Zen berturut-turut dari segala sisi, hingga membuat tubuhnya ambruk.
Zen merasa tidak berdaya diatas kasur, hanya merasakan lemas dan panas di titik-titik tertentu, hanya karna mendengar cerita yang terasa fulgar dari Nana.
Jika cerita ini berada di dalam komik, pasti keadaan Zen sekarang di gambarkan dengan semburan darah yang keluar dari dalam hidungnya dan bertuliskan kata ******. Atau bisa juga digambarkan dengan telinganya yang membesar dan berwarna merah padam. Karna dari sanalah masalah ini bersumber.
Setelah mengakhiri ceritanya dengan rasa penuh bangga, " Eh! " Terdengar suara Nana yang tersentak.
Mungkin Ia sudah menyadari sesuatu, karna setelah itu hanya terdengar bunyi tut.. tut... tut... dari ponsel Zen yang ikut tergeletak di samping empunya. Menandakan bembicaraan mereka berdua telah berakhir.
Namun tidak dengan efek yang timbul karnanya.
" Yang bener aja, Mum ! jangan-jangan kamu sengaja ya mau nyiksa aku? " Ucap Zen lirih.
" Ini gimana nasibku ya Allah.... Baru setengah tahun bersama, cobaanku udah seberat ini. Terus apa jadinya aku ini, kalau masih harus menunggu Mumum-ku lulus kuliah! " Hanya dapat berguman meratapi nasib. karna Ia masih belum memiliki cukup tenaga untuk menggerakkan tubuhnya.
__ADS_1
Salah Zen sendiri, kenapa begitu meresapi setiap kata dalam cerita Nana. Entah sampai mana imajinasinya bermain-main, hingga sekarang Ia harus merasakan sesatnya.