
Sesampainya di rumah kost teman Nana, hujan turun lagi agak lama. Menjebak Nana dan Zen untuk mengulur waktu mereka lebih lama lagi disana. Dan baru dapat meninggalkan rumah kost itu setelah adzan magrib berkumandang.
" Dingin, Mam." Butuh pelukan.
Ucap Nana merasakan terpaan angin malam menghujami tubuhnya, disaat sepeda motor Zen keluar dari area pemukiman menuju jalan raya.
" Sama, Mum. " Butuh pelukan.
" Kenapa, Mam? " Nana bingung, kenapa Zen menghentikan laju sepeda motornya dipinggir jalan.
Zen membuka resleting kedua saku jaketnya. Yang berada di sisi bawah kanan dan kiri bagian depan.
" Coba siniin tangan Mumum."
Jangan-jangan dia mau nyuruh aku meluk dari belakang. Dada Nana bergetar.
Selama ini Nana hanya berani berpegang pada jaket atau baju yang dikenakan Zen, saat berboncengan menggunakan sepeda motor. Belum pernah sekalipun Nana memegang pinggang Zen, apalagi memeluknya. Jadi wajar jika Nana berdebar akan hal itu.
Zen yang merasa tidak sabar, menarik kedua tangan Nana secara bergantian. Menggenggamnya kemudian Ia masukkan kedalam saku jaket secara bersamaan.
" Hangat, Mum ? " Tanya Zen.
Tadi aku berfikir apa sih? Peluk? Nana menenggelamkan senyumnya dipunggung Zen.
" Nggeh. " Bagaimana tidak hangat. Meski sudah berada didalam saku jaket, tangan Zen masih belum mau melepaskan genggamannya disana.
Baru pegangan tangan saja sudah terasa hangat, apalagi pelukan ya.
Atau mungkin bukan karena sentuhan tangan yang membuat hangat tubuh mereka, melainkan karena perasaan cinta yang membara dihati keduanya lah yang sedang bekerja disana.
" Mumum pingin makan apa? Biar sekalian nanti bisa minum obat." Zen mengingatkan sesuatu yang dilupakan Nana, obat.
" Apa aja, Mam. Yang penting makannya sama kamu. "
" Haduh... Jadi bikin aku tambah males pulang! " Terenyuh dengan ucapan Nana.
" Ya kalau tadi aku bilangnya, yang penting makannya sama teh botol s*sr*, entar dibilanginnya lagi iklan." Pembicaraan romantis diantara keduannya pun langsung sirna.
***
Zen berhenti di sebuah angkringan yang sangat ramai akan pelanggan yang duduk berserakan diatas tikar yang digelar didepan emperan toko yang sudah tutup. Setelah sebelumnya Ia berhenti di POM bensin, mengisi bahan bakar dan juga menumpang sholat magrib disana bersama Nana.
" Mumum duduk disitu dulu ya." Pinta Zen, sebelum Ia menghampiri si penjual.
Dihadapan Nana aneka gorengan dan jajanan lainnya tertata rapih. Termasuk sate telur puyuh yang selalu menggoda penglihatannya. Namun kali ini Ia harus menelan ludahnya terlebih dulu. Rasanya tidak etis jika Ia makan lebih dulu tanpa Zen.
Sedangkan yang Ia tunggu malah berbincang asyik dengan si penjual, sambil sesekali tersenyum saat menengok kearah Nana.
" Mas, susu sodanya tiga ya." Ucap salah satu pembeli yang baru datang. Mengakhiri pembicaraan antara si penjual dengan Zen.
__ADS_1
Namun tidak membuat Zen begitu saja kembali kedekapkan, eh salah. Ke tempat dimana Nana Ia tinggalkan tadi maksudnya. Malahan Ia terlihat ikut membantu si penjual membuat minuman.
Nana menatap Zen berjalan menuju ke arahnya dengan dua gelas minuman berwarna putih ditangannya.
Maman tau aja kalau aku suka susu.
" Ini buat Mumum." Lalu duduk disamping Mumum-nya.
" Makasih. Emangnya itu siapa, Mam ? Kok kayaknya akrab banget sama Mamam? " Mulai menyeruput minuman hangat yang dibawakan oleh Zen. " Aaa."
Kenapa ada rasa jahe nya ! Antara ingin menelan dan memuntahkan minuman yang masih bersarang dimulut.
" Kenapa, Sayang ? Kepanasan ? " Nana menggeleng. " Enggak enak ya? Tadi aku sendiri yang buat." Seketika Nana menelan air yang tidak seberapa banyak didalam mulutnya itu.
" Enak kok! " Nana tersenyum, sambil menggosokkan lidahnya dilangit-langit mulut berkali-kali. Agar rasa pedasnya segera menghilang.
" Mamam suka wedang jahe tah?"
" Iya. Apalagi minumnya saat habis hujanan-hujanan kayak gini. Kerasa hangat kan dibadan ? "
Nana mengangguk. Bukan hangat, tapi lebih tepat disebut panas yang Ia rasakan hingga ubun-ubun. Seperti sedang mengajak perang emosinya.
" Beneran Mamam yang buat? " Meraih sate telur puyuh yang sejak tadi Ia incar.
Sekalian untuk menetralisir rasa panas yang tertinggal di mulut.
" Masa pembeli disuruh bikin sendiri. Katanya lagi kualahan ngladeni pembeli."
" Emang Mamam kenal sama penjualnya?" Bertanya untuk kesekian kalinya.
Nana berusaha bersikap wajar saat menyeruput lagi minuman susu jahe dihadapannya. Agar terlihat oleh Zen jika Ia menikmati minuman yang sudah Ia buat.
" Dia teman waktu dipesantren."
" Berarti Maman udah sering kesini ya?" Nana penasaran. Karna angkringan ini berada di kawasan kampusnya.
" Baru sekali ini, sama Mumum. Udah lama banget sejak aku keluar dari pesantren nggak ketemu sama dia. Terus belum lama ini aku ketemu temen, terus cerita kalau dia nikah sama orang Semarang. Trus bikin angkringan di daerah ini." Menunjuk si penjual, yang tidak terlihat oleh Nana orangnya.
" Tadi sebenarnya aku nggak niat ngajakin Mumum kesini. Tapi karna aku lihat dia sekilas pas lagi ngantetin minuman disebelah sana. Kayak nggak asing, makanya aku coba samperin."
Insting Mamam beneran jos banget ! Teringat saat Zen menyebutkan ciri-ciri Azam beserta sepeda motornya. Meski hanya pernah melihatnya dari kejahuan.
" Oh... " Nana menyeruput lagi minumannya.
Sebenarnya Nana tidak begitu menyukai minuman yang berbahan dasar jahe. Karna hanya akan meninggalkan rasa panas dan membuat mulutnya seperti mati rasa. Namun dengan kekuatan cinta yang Ia miliki, Nana menyeruput lagi dan lagi, agar wedang susu jahe racikan Mamamnya bisa segera habis. Selain untuk menghargai minuman yang dibuat Zen, Ia juga berusaha membiasakan diri dengan apa yang disuka oleh calon imamnya. Agar kelak Ia dapat membuatkannya sendiri dengan tangannya.
" Mum. "
" Dalem. " Nana menatap wajah Zen yang terlihat serius.
__ADS_1
" Lihat susu jahe digelas ini, aku jadi inget tentang kita, Mum."
" Maksudnya, Mam ?"
" Lihat jahe ini. " Zen menyendok satu ruas jahe yang sengaja Ia tambahkan dalam gelasnya, untuk diperlihatkan pada Nana.
" Meski memiliki banyak manfaat dan kegunaan tapi banyak orang yang kurang suka sama rasanya. Apalagi untuk dijadikan minuman seperti ini."
Hehhe. Iya Mam, termasuk aku. Dalam batin Nana.
" Dan lihat susu ini. Keberadaannya mampu menyamarkan keberadaan jahe. Jahe yang rasanya pedas, menjadi terasa nikmat karnanya. Dan menjadikan wedang ini jadi diminati banyak kalangan. Begitupun dengan kita." Zen menghentikan ucapannya dengan neneguk wedang jahe susu di depannya.
" Emang apa hubungannya susu jahe sama kita, Mam ? "
Dia mau gombalin aku bukan sih? Nana antusias menunggu kaliamat selanjutnya.
" Sebelum kenal sama Mumum, aku itu ibarat jahe ini. Sedangkan keberadaan Mumum itu ibarat susunya. Jadi pelengkap yang mampu membuat manis dan indah seluruh kisah dalam kehidupanku."
" Mamam tolongin !!!! Ini kenapa hatiku jadi cenat-cenut kayak gini? " Sambil memegangi dada.
" Haaaatchhimmm." Suara bersin yang hampir berbarengan dari Nana dan Zen saat keduanya sedang tertawa.
Zen mengarahkan bersinnya ke belakang. Sedangkan Nana menutupi bersinya dengan kedua tangan.
Alhamdulillah. Nana.
Alhamdulillah. Zen.
" Yarhamu kallah." Saling memintakan rahmat pada Allah secara bersamaan. Tertawa karna malu pun juga bersamaan.
" Mum, itu kan. " Menunjuk Id-card yang berada ditangan Nana. Lalu memeriksa sakunya untuk memastikan lagi.
Sadar sudah ketahuan, Nana malah menyembunyikan tangannya yang sedang memegangi Id-card milik Zen. Tadinya Ia berniat akan mengembalikannya saat perjalanan pulang kerumah kost, tapi yang terjadi malah diluar dugaan seperti ini.
Aku kan belum sempat lihat tanggal lahirnya. Penasaran dengan usia calon suaminya.
Ketika tadi tangannya berada disaku Zen, Ia merasa bergesekan dengan sesuatu disana. Karna rasa penasaran Ia pun merabanya satu persatu. Kemudian mengambilnya dua diantaranya saat Zen berhenti didepan angkringan, yang ternyata adalah SIM-card dan Id-card.
" Hehhehe." Tawa malu Nana.
" Siniin, Mum." Zen mencoba merebut. Ia malu, jika Nana melihat fotonya yang tidak layak dilihat di kartu-kartu itu.
" Bentar, Mam. Aku belum lihat. " Nana mempertahankan diri.
Terjadilah adegan rebut merebut di angkringan itu. Tidak peduli berapa banyak mata yang beralih perhatian pada Mamam dan Mumum yang sedang dimabuk cinta itu. Termasuk pemilik angkringan yang tidak lain adalah sahabat lama Zen, dia menggelengkan kepalanya sampai tiga kali seraya tersenyum.
Kang Zen... Kang Zen... Malu sendiri melihat tingkah sahabatnya.
Kenapa dulu aku sama istriku nggak kayak gitu ya... Antara iri dan dengki.
__ADS_1