Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Rumah Sakit 3


__ADS_3

Nana sedang berfikir keras. Mencari bahan untuk membuat Hafid berhenti berpura-pura ngambek. Karna Nana tau pasti, yang dilakukan Hafid itu hanya untuk meledeknya semata.


" Mas..." Dengan suara lembut cenderung genit.


" Hmm." Hafid membuang muka sambil menahan tawa.


" Masku..." Sekarang Nana membujuk Hafid dengan mengedip-ngedipkan mata cantiknya.


" Apa?" Berhasil ! Hafid tertawa. Lalu mencubit pipi Nana karna gemas.


Mbak Nana... Tega-teganya berbuat genit seperti itu sama mas Hafid didepanku. Hehehe tapi mereka lucu.


Zen terus memperhatikan Nana, sikap manjanya pada Hafid sedikit membuat hatinya iri. Dia berharap, kedepannya Nana hanya akan berlaku seperti itu padanya. Tidak boleh ada laki-laki lain meski itu kakak kandungnya. Tapi siapalah dirinya, hingga bisa berbuat egois, mengatur Nana sampai segitunya.


Mungkin situasi mereka bertiga saat ini, dapat digambarkan seperti dua laki-laki yang sedang berebut perhatian seorang gadis yang mereka sayangi. Sedangkan sang gadis masih tak menyadari akan hal itu. Hehe, mungkin sedikit lebay. Tapi kenyataannya kedua laki-laki itu memang menyayangi Nana dengan porsinya masing-masing.


" Mas, Adek capek rebahan terus. Pingin duduk."


" Biar aku aja yang bantu." Hafid mempersilahkan sang calon imam Nana beraksi.


Ia menyetel bagian atas ranjang tidur Nana untuk naik. Agar posisi tubuh Nana pada bagian atas dapat naik tanpa harus menggeser tubuhnya.


Namun Nana masih merasa tidak nyaman dengan posisinya. Kepalanya terasa berat karna terus berbaring. Akhirnya dia memilih duduk tanpa bersandar. Dia melakukan sedikit peregangan. Dari menggerakkan kepala, pinggang hingga menyentuh ujung kakinya sendiri.


Pada setiap gerakan tubuh Nana, terdengar bunyi yang membuat ngilu pendengarnya. kreeteeekk... kreeeteekk... begitu bunyinya.


" Kamu ini anak kuliahan apa anak kuli bangunan sih, Dek ?" Memandang heran Nana.


Nana meraih bantal dibelakangnya, lalu dihantamkannya pada Hafid.


Jangan-jangan ?! Dengan cepat dia menoleh pada Zen. Dia melihat Zen juga tertawa. Dalam benak Nana timbul pertanyaan, apakah Zen juga berfikiran sama dengan Hafid?


" Ya kan capek ! Habis dari kampus trus perjalanan pulang. Bukannya istirahat di rumah malah disini. Eh ! motorku gimana, Mas?" Tiba-tiba teringat sepeda motornya lagi. Yang entah bagaimana nasibnya sekarang.


" Nggak papa, besok di bawa ke bengkel dealer. Nunggu mobilnya mas Firman dateng."


" Emangnya motor Adek rusak parah?"

__ADS_1


" Malah tanya. Emang kamu nggak inget kejadiannya?"


" Ya ingetnya cuma pas bagian lampu jalan yang dari arah Semarang udah hijau. Tapi dari arah pertigaan masih ada mobil yang nyelonong gitu aja. Terus nabrak motor anak sekolah di depanku. Akunya mau menghindar tapi tiba-tiba motor yang ditabrak mobil itu malah lari kemotorku. Terus aku jatuh kekanan. Trus kayaknya ada motor dari belakang nyenggol helmku pas aku udah jatuh, nyampe lepas helmnya." Mengenang kejadian sambil mempraktekkan adegan ala kadarnya saat bercerita.


Zen dan Hafid menyentuh tengkuk leher masing-masing bersamaan. Seperti ada beban juga ketegangan dibagian itu, saat Nana menyelesaian ceritanya.


Aku bersyukur padamu Ya Allah. Engkau selamatkan mbak Nana. Zen.


Alhamdulillah. Allah masih memberikanmu keselamatan, Dek ! Hafid.


Memang sudah sepantasnya mereka bersyukur. Kalau Nana sampai tidak selamat, mungkin kisah ini pun berakhir sampai disini. Hehehe.


" Mas, Bapak sama Ibu nggak ikut kesini?"


" Manja... Sakit gitu aja pingin di temeni Bapak sama Ibu !"


" Hishh ! Adek kan cuma nanya, Mas..." Meninjukan tangannya pada Hafid. Jika waktu kecil Hafid suka mengganggu Nana karna kesal telah membuatnya gagal menjadi anak bungsu. Maka sekarang Hafid mengganggu Nana karna sudah menjadi kebiasaan untuknya.


" Ibu lagi sakit. Makanya Mas sengaja nggak kasi kabar ke Bapak sama Ibu. Kalau Ibu tau, pasti bakal memaksakan diri buat nungguin kamu disini. Bisa-bisa malah Ibu jadi tambah sakit." Nana terdiam dan menunduk lesu mendengar penjelasaan dari Hafid. " Kamu nggak papa kan cuma ditemani Mas?"


Nana menganggukan kepala terlihat kuat, namun matanya berkata lain.


Zen tidak tega melihat Nana bersedih. Ia memberanikan diri meraih tangan Nana, menggenggamnya lalu mengusapnya dengan ibu jari. Mencoba menguatkan Nana dengan cara yang Ia tau.


Aku juga ada disini buat kamu, Mbak. Kata yang tersirat pada senyuman Zen saat sepasang matanya beradu dengan mata Nana.


Apasih. Kok tanganku pake dipegangin. Aku kan malu...


Lain di Batin lain ditangan. Bukanya melepas genggaman Zen, tangannya justru membalas genggaman tangan itu.


" Mas, Adek pingin mandi. Gatel !" Memandang Hafid. Dia malu kalau aroma asam cuka tubuhnya, sampai tercium Zen.


" Udah malem, Mbak... Cuci muka aja ya. Lagian kakinya kan di gips, nanti kalau kena air gimana?" Sahut Zen.


" Ya udah deh. Yang penting tolongin ke kamar mandi dulu aja."


Hafid memapah Nana dengan hati-hati menuju kamar mandi. Sedangkan Zen membawakan cairan infus dan ransel Nana. Sesampainya didalam kamar mandi, ruang perawatan. Hafid mendudukan Nana diatas kloset, sedangkan Zen menggantungkan cairan infus pada cantolan yang tersedia di dalam kamar mandi.

__ADS_1


" Hati-hati ya ? Perbannya juga jangan sampai basah." Pesan Zen sebelum mengikuti Hafid keluar dari dalam kamar mandi.


" Dek."


" Hhmm?" Nana memberikan kode dengan gerakan kepala dan bibir yang dimaju-majukan. Namun Zen telah gagal mengartikannya.


" Tasnya ?"


" Oh iya ! Lupa. Hehe." Kirain mau minta apa ! " Nanti kalau mau manggil ketuk pintu aja ya?"


***


Nana sudah berada diranjangnya kembali. Dia terlihat lebih segar dan yang pasti lebih percaya diri karna sudah mengganti bajunya dengan baju yang bersih. Yang kebetulan Ia bawa dari kost.


" Mas, minum Adek habis." Menunjukkan botol minum yang selalu Ia bawa telah kosong.


" Terus?"


" Sekalian minta beliin kebab."


Kebab? Merek pembalut ya? Kok kedengaran asing. Zen bertanya dalam hati.


" Ceritanya, Mas di usir secara halus nih?" Hafid menggoda adiknya lagi.


" Biar aku aja Mas yang keluar. Sekalian beli makan malam. Mbak Nana pingin apa?" Bertanya pada Nana.


" Pingin kebab tapi saosnya yang banyak."


Oh, itu nama makanan ternyata ! Ya paling tidak sekarang Zen tau, jikalau kebab itu adalah jenis makanan. Bukan barang, apalagi merek pembalut wanita.


" Emang kamu udah makan nasi ?! " Nana menggeleng untuk menjawab pertanyaan Hafid.


" Emang belum dapat jatah makan?" Pertanyaan Zen ditertawai Hafid. Masa iya, Zen sampai tidak menyadari adanya piring jatah makan Nana, diatas meja sebelah tempatnya duduk.


" Itu." Nana menunjuk piring makan berbahan steanles khas rumah sakit, yang tercampakan diatas meja.


" Makan nasi dulu ya, kalau nggak suka lauknya nanti tak beliin diluar." Membuka penutup piring makan, mengintip isinya. Nanapun mensetujui saran Zen.

__ADS_1


Huhh ? Hafid kaget, tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Kenapa kamu murahan banget sih Dek ! Kalau Ibu yang nyuruh makan nasi aja, pasti akhirnya jadi drama mogok makan. Lha ini sama Zen langsung ngangguk-ngangguk aja ! Menggelengkan kepala, merasa takjub dengan pengaruh yang Zen buat pada adiknya.


__ADS_2