
Beberapa hari yang lalu, Nana berhasil menyakinkan ayah agar mau memilihkan hari baik untuk menghalalkan cintanya untuk Zen. Dimana ia diberi dua pilihan tanggal, agar ia dapat menyesuaikan sendiri dengan kegiatan di kampusnya.
Walau sebelumnya Nana sempat mengalami penolakan dari ayah karna merasa khawatir, jika keinginan Nana ini hanya karna di pengaruh oleh suatu hal, dan kemungkinan bisa berubah lagi suatu hari nanti. Tapi Nana akhirnya dapat membuat ayah percaya jika kini ia sudah dewasa dan siap untuk menikah.
Ia mengira pertemuannya dengan Zen hari ini dapat ia tutup dengan cerita manis, yang pasti akan membuat Zen terkejut.Tapi sayang, yang terjadi malah tidak sesuai dengan harapan. Meski ia sudah berusaha memberikan kode pada Zen untuk membahas masalah pernikahan, namun kode itu sepertinya membeku di suatu tempat, hingga tidak tersampaikan pada Zen. Atau mungkin kode itu terlalu susah untuk dipecahkan oleh Zen yang mulai memendam keinginannya untuk bisa segera menikahi Nana.
Ah, tau gini dari awal nggak usah kasih kode, langsung blak-blakan saja, batin Author.
" Boleh kenalan kan? " Si pengganggu itu mengulurkan tangannya pada Nana. “ Aku Fahmi. "
Ini orang ngapain lagi, pakai ngajak kenalan! Nggak tau apa, kedatangannya aja udah merusak suasana.
Nana melirik pada Zen. Ia Berharap Zen akan melarangnya untuk berkenalan dengan Fahmi. Namun sepertinya Zen menganggap wajar perkenalan itu, Nanapun membalas uluran tangan si pengganggu dengan senyum ramah. Walau dalam hati, ia menyimpan amarahnya untuk Zen. Karna ia tidak memberikan reaksi yang diharapkan Nana.
" Nana, Kak. "
Cantiknya... Fahmi terkesima dengan senyuman di wajah Nana.
" Adek ini anak mana? Masih sekolah? " Fahmi yang tertarik pada Nana, langsung menggeser posisi duduknya ke hadapan Nana.
" Ehem... Ehem... kok serak ya. " Zen mengeluarkan peringatan pertamanya untuk Fahmi.
" Ngapain sih Mas? Nggak usah gangguin, itu kopinya cepet dihabisin, keburu dingin nanti. " Ucap Fahmi. Ia tidak peduli dengan deheman Zen yang terkesan disengaja saat ia sedang menggeser posisi duduknya.
Sebenernya Mamam cemburu nggak sih, kalau aku di deketin sama cowok lain kayak gini!
__ADS_1
Nana membukakan tutup botol air mineral yang ia ambil dari kantung kresek berlogo betamart untuk Zen. Karna ia mengira bahwa kerongkongan Zen memang sedang bermasalah.
Mumum!!! Mumum kok nggak ngertiin maksud Mamam sih!
Zen menggenggam botol minum tanpa tutup pemberian dari Nana dengan hati-hati. Ia sedikit jengkel, karna Nana salah mengartikan maksudnya. Jika botol itu sudah kosong, ingin sekali ia memeras botol itu dihadapan Nana dan Fahmi, agar mereka tau jika seperti itulah keadaan hatinya sekarang.
" Orang Demak, Kak. Udah kuliah. " Jawab Nana.
" Oh ya!? Kuliah dimana? "
" Di Universitas Negeri XX. "
" Beneran? Sama dong sama kakak. Semester berapa? Fakultas apa? " Fahmi bersemangat dengan pertanyaannya.
Memasuki semester lima artinya adalah ini sudah tahun kedua kebersamaan Nana dan Zen. Pada semester sebelumnya, Nana sudah memiliki niatan untuk mempercepat pernikahannya, saat mendengar bahwa Zen siap mengantar jemput kuliah dirinya setiap hari. Entah karna memang belum jalannya atau apa, Nana menjadi sibuk dengan tugas kuliah yang tidak ada habisnya, sampai membuatnya lupa dengan rencananya sendiri.
" Fakultas Teknik, semester tujuh. " Mendengar Fahmi mengataman fakultas teknik, Nana langsung bersemangat. Karna itu adalah fakultas yang diidamankannya sejak awal. " Kok aku nggak pernah lihat kamu di perkumpulan anak IMADE (Ikatan Mahasiswa Demak) ya, Dek? " Sebuah nama organisasi yang menaungi para mahasiswa yang berasal dari kota Demak, di kampus di Universitas Negeri XX Semarang.
" Aku emang nggak aktif di organisasi itu, kak. "
Sejak mengenal Zen, Nana mulai membatasi diri dalam kegiatan organisasi dan lebih fokusnya pada rencana untuk menyelesaikan masa kuliahnya secepat mungkin, agar semakin cepat pula rencana pernikahannya. Syukur-syukur bisa lulus dengan nilai memuaskan. Begitu harapan Nana.
" Kenapa? Sini minta nomor kamu, biar nanti kalau ada acara di IMADE, aku bisa menghubungi kamu. "
Zen mengetuk-ngetukan jarinya di meja. Ia merasa semakin tersingkir dengan obrolan mereka. Ingin protes secara terang-terangan, tapi hawatir jika itu hanya akan membuat Nana menjadi tidak nyaman.
__ADS_1
Jangan dikasih, Mum! Dia itu playboy. Zen.
Hish, sebenarnya masih cinta nggak sih! Masa nggak protes sama sekali. Nana berharap Zen akan melarang untuk memberikan nomor ponselnya pada Fahmi karna cemburu.
" Mi, tak cariin ternyata malah disini sama cewek. " Datang lagi temannya si pengganggu. Ia menepuk pundak Fahmi dari belakang kemudian ikut duduk di bangku panjang yang juga diduduki Fahmi.
" Mas Zen kan? " Gadis itu tersentak melihat Zen yang berada di hadapannya.
Zen tersenyum. " Iya, Mbak Siska. "
Mamam! Kok kamu tau nama dia sih! Nana melirik tajam.
" Tak kira Mas Zen lupa sama namaku. " Siska merasa sangat senang namanya di kenali oleh Zen, yang aslinya memang memiliki daya ingat tinggi.
Lama nggak ketemu, Mas Zen kok jadi ganteng banget sih. Siska merasakan debaran yang tak biasa saat menatap Zen.
Deketin ah! Ucap Siska penuh percaya diri. Siapa tau ternyata jodoh!
" Apa kabar, Mas? Lama ya nggak ketemu. " Siska bersikap manis dan mencoba menarik perhatian Zen.
Haduh, satu pengganggu belum pergi malah tambah lagi satu!
" Udah sore, pulang yuk. Nanti Mamam pulangnya kemaleman. " Ajak Nana pada Zen.
Siapa sih itu cewek, kok manja banget sama Mas Zen. Siska melirik Nana dengan tatapan tidak suka.
__ADS_1