
Akhirnya datang juga hari yang dinantikan oleh Nana. Hari libur menjelang hari raya Idhul Adha, lebaran haji atau lebaran Qurban. Nana sudah tidak sabar untuk segera sampai dirumah, bertemu keluarga kecil Rahmad serta sholeh, yang tiba dari Lampung sejak dua hari yang lalu. Sebagai ganti ketidak hadiran mereka pada hari raya idhul fitri kemarin.
Tin... Tin..., terdengar suara klakson sepeda motor di jalanan rumah kost, Nana mengintip dari balik jendela kamarnya.
" Kok nggak ada orang. " Nana mengedarkan pandanganya dari ujung ke ujung jalanan. Namun tidak ia temukan seseorang yang sedang tunggu.
Ada sedikit perasaan kecewa menyelinap dalam hatinya. Karna setelah melewati hari-hari kelam penuh dengan air mata, akhirnya datang juga hari ini. Hari dimana ia akan bertemu seseorang yang begitu ia rindukan.
" Awww! " Pekik Nana mengiringi dering ponsel yang tergeletak diatas kasur.
Mungkin karna suara dering telfon tadi sempat membuat pandangannya teralihkan sebentar, hingga tidak sadar disaat tangan kanannya menarik daun jendela itu dengan keras untuk dikunci kembali, ia lupa bahwa jari-jari tangan lainnya masih merpegangan pada kusen bagian luar.
Nana mengibas-ngibaskan tangan kirinya yang menjadi mati rasa karna terjepit di jendela.
Klunting.
Tanda sebuah pesan masuk tidak lama setelah dering telfon berakhir tanpa sempat Ia menerimanya.
Nana memeriksa pesan yang baru saja masuk dengan mata yang berkaca-kaca. Bukan karna mendapatkan kabar buruk, melainkan karna rasa sakit di jari-jari yang mulai terasa menjalar.
" Mamam udah nyampe kost, Sayang. " Begitu kalimat yang Nana baca di layar ponsel.
Seperti sebuah pesan ajaib, selain dapat menghapus rasa sakit di jari, pesan itu seperti memberikan dua sayap besar dipunggung Nana. Hingga membuat Nana mampu berhambur dengan cepet ke lantai satu, dimana Zen sekarang sedang menunggunya.
Mamam, Mumum-mu datang...
***
Zen baru turun dari sepeda motor, saat Nana berlari menuruni tangga menuju padanya.
" Sayangku... " Seru Nana yang terus berlari sambil merentangkan kedua tangannya.
" Mumum! " Ucap Zen lirih.
__ADS_1
Zen tidak tau harus berbuat apa. Apakah ia harus merentangkan tangan untuk menyambut rentangan tangan Nana yang sudah semakin mendekat padanya atau lebih baik menghindar.
Pingin sih, tapi kok malah keinget dosa. Guman Zen dalam hati.
Kenyataan bahwa saat ini ia belum dapat menjadi Nana sebagai muhrim, membuatnya tenggelam dalam pilihan yang sulit.
Perasaan rindu yang teramat dalam menuntun Zen untuk memejamkan mata dan sedikit membentangkan tangannya. Perasaan tidak tega jika harus melihat Nana kecewa juga ikut berperan penting disana.
Sekali ini saja ya, ya Allah...
" Sayang... Mumum kangen... Emmuah... Emuah... "
Loh?
Zen membuka sedikit matanya, mengintip apa yang sebenarnya terjadi. Karna ia tidak dapat merasakan apapun. Pelukan maupun ciuman dari Nana.
" Hih! " Menendang kesal roda sepeda motor disampingnya.
Kesal bercampur malu Zen rasakan sekaligus. Ternyata Nana melewati dirinya, dan memilih si merah yang ia kendarai tadi untuk mendaratkan pelukan dan ciumannya.
" Kan kita belum jadi muhrim... " Ucap Nana manja.
" Udah tau belum muhrim, tapi malah mancing-mancing " Menghindari bertap mata dengan Nana.
Nana menarik lengan jaket Zen,
" Ternyata Mamam juga mau pelukannya Mumum tah? " Nana tersenyum menggoda. Meski Zen masih belum mau melihat kearahnya. " Sini... Sini... " Sambil merentangkan tangannya seperti sebelumnya.
" Nggak mau! Masa Mamam dikasih bekasan tangki motor. " Jawab Zen tegas.
Zen tersenyum, melirik bidadarinya yang masih belum berhenti tertawa.
" Ya Allah, Mum ! " Mata Zen menangkap darah yang menetes dari jari Nana. Lalu meraihnya. " Ini kena apa, Sayang? "
__ADS_1
" Loh, kok ada darahnya. " Karna melupakan rasa sakitnya, Nanapun tidak memperhatikan jika jarinya berdarah. " Tadi kejepit jendela. ".
Tanpa rasa jijik, Zen menghisap jari Nana agar darahnya bisa berhenti keluar. Dan ternyata benar, cara itu sangat efektif. Selain membuat darahnya berhenti mengalir, cara itu juga langsung menyembuhkan lukanya. Hanya saja efek samping dari metode yang digunakan Zen itu terlalu besar. Wajah Nana tiba-tiba memerah dan jantungnya berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Mungkinkah gejala tersebut menunjukkan bahwa Nana sedang mengalami over dosis? Entahlah...
" Aduh duh... perutku kok tiba-tiba jadi mules ya? " Ucap Renata yang baru pulang dari warung.
Syukur deh, bisa lihat itu bocah jadi normal kayak gini.
" Mbak. " Zen menyapa Renata.
Selain sebagai trman Nana yang tadi membukakan pintu gerbang untuknya, Zen juga mengenali Renata sebagai teman Nana yang sudah mengirimkan pesan padanya dimalam itu.
***
" Ini Mas. " Rif'an menyerahkan ponsel baru pada Zen. " SIM-cardnya udah aku masukin. Udah aku isi paket internat sekalian aku daftarin di aplikasi chat juga biar bisa vidiocall sama Mbak Nana. "
Beberapa hari yang lalu ponsel Zen terjun bebas ke kali saat ia sedang menuju tambak menggunakan perahu. Meski sudah di selami, tapi ponselnya tetap tidak ditemukan. Untuk itu, ia meminta tolong pada adiknya untuk membelikan ponsel sekalian menguruskan pembuatan SIM-card baru dengan nomor lamanya dan hari ini akhirnya datang juga pesanannya.
Vidiocall sama Mumum? Zen menatap adiknya, mendengarkan penjelasan Rif'an dengan baik meski tidak tau maksudnya.
" Berarti ini kontak telfonnya masih kosong? "
" Udah aku masukin beberapa nomor. Termasuk nomor Mas Firman, tapi nomornya Mbak Nana aku nggak tau, Mas. " Penjelasan Rif'an, Adik yang super pengertian.
" Ya udah, nggak apa-apa. "
Udah tau aku sukanya yang simpel, malah beli HPnya yang kayak gini. Tidak berani memprotes adiknya secara langsung.
Setelah Rif'an keluar dari kamarnya, Zen mencoba megetuk, mengelus layar ponsel barunya. Meski merasa kerepotan dengan ponsel tanpa tombol keyword seperti miliknya sebelumnya, Zen tetap berusaha menghubungi Firman untuk meminta nomor ponsel Nana. Karna nomor itulah yang paling penting diantara nomor-nomor yang pernah mengisi kontak telfonnya.
Klunting.
" Ada pesan masuk! " Zen segera mengetuk notifikasi yang tiba-tiba muncul dilayar berbarengan dengan suara tadi.
__ADS_1
" Assalamu'alaikum Mas Zen, ini aku Renata. Ma'af kalau aku lancang pake HP Nana ini. Tapi aku nggak tega lihat Nana yang jadi penyendiri dan nangis setiap malam. Dan nggak mau cerita apa masalahnya. Jadi aku pikir cuma Mas Zen yang bisa bantuin dia. Ma'af sekali lagi kalau aku udah ganggu waktunya Mas Zen. Wassalam. " Pesan panjang yang memenuhi layar ponsel baru Zen.
Sebelum memutuskan untuk menghubungi Nana, Zen meminta Rif'an untuk mengajarinya melakukan vidiocall seperti yang ia bicarakan sebelumnya. Dengan begitu Zen dapat melihat bagaimana keadaan Nana saat ini.