Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Memilih Hadiah Untuk Mamam


__ADS_3

Nana sudah siap untuk menghadiri seminar di kampusnya, namun Ia masih harus menunggu teman-temannya yang sedang bersiap. Sembari menunggu, Ia mengeluarkan dompet kecil dari dalam tas gendongnya. Dikeluarkannya uang pecahan lima, sepuluh dan dua puluh ribu dari sana. Ini adalah kegiatan rutinnya sejak seminggu yang lalu, mengecek jumlah uang yang berhasil Ia kumpulkan dengan memangkas hampir separuh jatah uang harian dari orang tuanya.


" Dua ratus ribu. " Nana menunjuk-nunjuk uang yang Ia bariskan diatas kasur.


" Dengan uang segini, bisa buat beli apa ya? "


Untuk mengumpulkan uang itu saja sudah terasa berat, kini Nana masih harus memikirkan apa yang dapat Ia beli dengan uang dua ratus ribu dihadapannya.


Ya, untuk mengumpulkan uang yang tidak seberapa itu, Nana yang terbiasa mencuci dan mensetrika bajunya menggunakan jasa laundry, sekarang Ia rela memanfaatkan jasa tangannya sendiri. Nana yang biasanya suka membeli jajanan yang aneh-aneh sekedar untuk memuaskan mata, sekarang tidak Ia lakukan lagu. Semuanya demi dapat menghemat pengeluaran hariannya, termasuk uang makan.


Jika saja waktu itu Ia tidak berbuat iseng dengan mengintip tanggal kelahiran calon imamnya, yang sekarang hanya tinggal menghitung hari, mungkin Ia tidak perlu sampai segininya untuk mengumpulkan uang.


" Nana, ayo berangkat! " teriak Renata dari luar kamar.


" Iya, bentar !"


Dengan sigap, Nana membereskan uang yang Ia gelar di atas kasur itu untuk dikembalikan pada tempatnya semula. Kemudian Ia berjalan keluar dari kamar, menunjukkan bahwa dia sudah siap berangkat ke kampus.


" Aku bareng sama mbak May, ya? " ucap Nana sambil mengunci pintu kamar.


" Oke! " May.


" Sendiri... la... gi.... seper... ti bi... asa!" Eva menyuarakan keluh kesahnya kedalam lagu.


Jarang sekali untuk Eva yang berbeda jurusan, dapat berangkat bersama-sama seperti ini. Tapi tetap saja kali ini Ia mengendarai motor sendirian untuk menghadiri seminar umum di kampus. Karna ini merupakan seminar umum, jadi siapapun dan dari fakultas apapun yang memiliki jam kosong dapat mengikutinya.


" Ini mbak Ren, peke aja sepeda motorku." Renata menerima kunci sepeda motor dari Nana.


Kaki Nana memang sudah tidak bermasalah lagi. Hanya saja dia merasa lebih nyaman saat di bonceng dari pada membonceng.


" Nanti habis seminar, ikut ke swalayan bentar ya. Aku mau beli sabun mandi. " pinta Maimunah pada calon penumpangnya saat bersamaan menuruni tangga.


" Oke Oke. " jawab Nana cepat.


Kebetulan banget ! Nanti bisa lihat-lihat di lantai duanya, siapa tau dapat inspirasi hadiah yang cocok buat Mamam. Begitu batin Nana.

__ADS_1


***


" Mbak, aku langsung keatas ya?" ucap Nana sesampainya di swalayan.


Nana sudah menceritakan pada Maimunah mengenai rencananya untuk membeli hadiah ulang tahun untuk Zen, pada saat diseminar tadi. Pada Maimunah lah Nana dapat membuka semua yang ingin Ia simpan dalam benaknya. Karna baginya, Maimunah lebih dapat diandalkan dalam menyimpan rahasia yang ujung-ujungnya akan diketahui oleh semua teman-temannya juga, seperti saat ini.


" Ya udah sana, aku mau beli minuman dulu. " saut Naila, yang akhirnya mengetahui niatan Nana pergi ke tempat bersama Maimunah.


Dia meyakinkan pada Nana, jika kehadirannya akan sangat membantu dalam pemilihan hadiah untuk Zen. Dan Nana pun begitu saja menyetujui keinginan Naila untuk ikut.


***


" Jaket! " mata Nana tertuju pada tulisan diskon 20% pada barisan jaket yang tergantung rapi.


" Waw, harganya !" hal wajib dan harus dilakukan saat ingin membeli barang di swalayan dan sejenisnya adalah, melihat bandrol harga.


Setelah mengecek satu-persatu bandrol harga yang tertera, tidak ada satupun diantara barisan kaket itu dapat dibeli dengan uang yang sudah susah payah Ia kumpulkan, meski sudah dikurangi dengan diskonnya.


Nana membuang nafas secara kasar, saat mengambil salah satu jaket yang menggoda matanya.


Ketika Ia memandangi jaket dengan dua saku samping di bagian bawah itu, terbayang oleh Nana, kejadian yang telah lalu. Dimana Zen dengan kelembutan, menarik kedua tangannya untuk dimasukkan ke dalam saku jaket, untuk meredakan rasa dingin yang Ia rasakan saat itu. Dan perlakuan yang diterima Nana itu, hampir saja membuat jantungnya melompat, karna tidak sanggup menahan debaran di sana sini secara bersamaan.


Aaaahhhh... Wajah Nana memerah, terhanyut dalam kenangan manis yang terus berputar di kepala.


" Apa aku ambil uang dari tabungan aja ya. " Nana merada tidak rela jika tidak dapat membelikan jaket itu untuk Zen.


Siapa tau, dengan membelikan jaket itu, dia dapat mengulang kenangan manis itu hingga menjadi sebuah kebiasaan yang manis pula. Begitu kiranya yang ada dalam pikiran Nana saat ini.


Nana memang suka menabung. Uang jajan tambahan yang Ia dapat dari kakak maupun keluarga besarnya Ia masukkan semuanya kedalam rekening bank. Dan sampai sekarang, belum pernah Ia menguranginya sedikit pun untuk sekedar membeli kebutuhan hariannya.


" Dek, sini !" Naila melambaikan tangan, menyuruh Nana untuk mendatanginya.


Naila dan Maimunah sudah berada di lantai dua bersama, tanpa disadari oleh Nana yang sedang membuai dirinya sendiri dengan kenangan manisnya bersama Zen.


" Apa, Mbak?

__ADS_1


" Sini, Dek. Cepetan !"


Maimunah tersenyum. Dia juga merasa tidak sabar melihat bagaimana reaksi Nana, saat mengetahui apa yang ingin Naila tunjukkan padanya.


Sedangkan Nana masih merasa berat untuk beranjak dari tempatnya berdiri sekarang. Disisi lain Naila terus melambaikan tangannya, sepertinya ada sesuatu yang penting untuk Ia ketahui.


Mbak Nay, gangguin aja !


Kamu disini dulu, ya. Nanti aku balik lagi, pesan Nana pada jaket yang Ia gantungkan kembali pada tempatnya.


" Mbak Nay, mau beli daleman? " ucap Nana saat menghampiri Naila dan Maimunah.


Mereka berdua tidak menjawab. Hanya memberikan senyum dengan sejuta makna pada Nana.


" Apa sih ? Nggak jelas banget kalian ini. " merasa heran dengan kedua sahabatnya.


" Tara ! " Naila menunjukkan manekin separuh badan yang sedang mengenakan satu set pakaian dalam wanita. Berbahan renda tipis, dilengkapi tali-tali kecil untuk mengenakannya.


Mata Nana terbelalak dan mulutnya juga menganga. Wajahnya berubah menjadi kemerahan, meski tidak semerah warna pakaian dalam yang berada di hadapannya.


Dengan otomatis, tangan Nana menutupi dua bagian sensitif miliknya. Karna merasa ikut ditelanjangi dengan hanya melihat pakaian dalam yang super seksi itu. Transparan dan memiliki fentilasi pada bagian-bagian tertentu.


" Mbak Nay, cepet singkirin daleman laknat itu! " meski sudah mengalihkan pandangannya, dadanya masih saja terus berdebaran.


" Astagfirullah hal adzim. Astagfirullah hal adzim. Astagfirullah hal adzim. " Nana mengurut dadanya.


Naila dan Maimunah tidak dapat menahan tawanya, melihat reaksi Nana yang melebihi dari dugaan mereka.


Kurang aja banget itu yang disain. Sudah se-transparan itu, masih dikasih bukaan di sana sini. Buat apa coba ? Tinggal tarik talinya, udah kelihatan semuanya kok! Entah apa yang ada dalam benak Nana kini.


" Kamu kan lagi cari hadiah buat mas Zen. Mendingan ini aja, Dek ! " Naila masih tertawa cekikikan.


" Kalian udah pada gila apa ! Buat apa coba Mamam-ku dikasih hadiah gituan? "


" Buat apa lagi, kalau bukan buat memudahkan mas Zen bayangin tubuh seksi kamu! " Naila menggrayangi tubuhnya sendiri sambil berlenggak lenggok.

__ADS_1


" Edddiiiiannnn tenan !!! " Nana melepas sepatu di salah satu kakinya, kemudian berlari mengejar kedua sahabatnya yang sudah lari terlebih dulu.


__ADS_2