
Setelah perjalanan panjang, akhirnya perahu yang membawa Nana juga kakaknya akan merapat dipesisir pulau, tempat diadakannya acara Syawalan. Yang diartikan oleh generasi sekarang sebagai pesta ditengah laut.
" Awas pegangan ! Perahunya mau kandas." Hafid memberi peringatan, sebelum bagian dasar perahu bergesekan dengan permukaan pasir dibawah air pada Nana dan Raka, yang berada dibagian depan perahu.
Nana memeluk Raka agar anak itu tidak terjatuh saat perahu membentur permukaan. Karna perahu tidak dirancang untuk memiliki rem, maka penumpang harus selalu siap dengan benturan yang dapat terjadi kapan saja, terutama saat perahu tiba ditujuan.
Firman dan Hafid sudah menceburkan diri kedalam air, mendorong perahu agar dapat lebih merapat dipesisir pulau. Supaya nanti saat rob sudah pasang, perahu tidak akan terlalu jauh dari batas garis pantai yang tidak terendam oleh air.
" Eh !" Nana membuka matanya, karna tidak merasakan benturan yang Ia perkirakan. Yang terasa perahu malah tetap melaju perlahan tanpa hambatan.
Kedua kakak Nana yang berada disisi kanan dan juga kiri perahu menahan tawanya saat mengintip ekspresi kebingungan adiknya. Karna saat mereka berdua mendorong perahu, mereka menyembunyikan tubuhnya di air, yang jika mereka berdiri hanya akan menggenangi sebatas lutut mereka.
Nana mengeluarkan ponselnya, untuk mengabadikan keramaian pulau dari atas perahu. Namun tidak disangka saat Ia akan menoleh kearah pulau yang berada dibelakangnya, dua bola mata besar Nana terpaut pada pemandangan lain. Pemandangan bagaimana asyiknya Zen sedang menggoda seorang gadis yang berada diatas perahu, tepat disamping perahunya akan bersandar.
Nana segera menyimpan kembali ponselnya. memalingkan wajahnya sambil menutup mata agar terbebas dari pemandangan yang sudah membuat sakit penglihatannya.
" Dek !" Pekik Firman.
Dengan sigap Firman meraih Nana yang hampir saja jatuh tersungkur diatas pasir yang masih tergenangi air. Karna Ia nekat melompat dari atas perahu yang masih didorong oleh kedua kakaknya.
__ADS_1
" Mum." Ucapnya Zen lirih.
Karna mendengar suara deburan air yang ditimpa Nana juga suara Firman, akhirnya Zen mau menoleh. Mungkin karna terlalu keasyikan atau karna suara soundsystem dipulau yang terlalu kencang hingga membuatnya tidak menyadari kedatangan Nana didekatnya. Tanpa pikir panjang Ia pun segera berlari menghampiri Nana untuk mengetahui keadaannya.
Nana semakin risih, saat Zen sudah menyadari kedatangannya ketika Ia terjatuh di air yang tadinya ingin Ia hindari. Tidak peduli meski kaki bekas kecelakaan terasa ngilu, Nana segera bangkit dan mengajak Raka yang masih berada diatas perahu untuk ikut turun bersamanya.
" Mum." Nana menghempaskan pegangan tangan Zen dari tangannya.
Pertama dan satu-satunya. Huh !!! Nana menahan desakan yang saling berkecambuk dalam dadanya.
Setelah apa yang baru saja Ia lihat dengan mata dan kepalanya sendiri, Nana merasa benci terhadap Zen. Setelah apa yang mereka lalui bersama, Zen masih memiliki keberanian untuk menggoda gadis lain. Dan sentuhan Zen barusan bagi Nana, terasakan seperti garam yang ditaburkan diatas lukanya.
Nggak boleh nangis...!
Nggak boleh nangis...!!
Nana mengedip-ngedipkan matanya, agar tidah ada air yang menggenang disana.
" Mas Raka, kita main kejar-kejaran yuk? Kalau kamu bisa nangkap Bulek, nanti Bulek kasih hadiah ya." Ucap Nana, sambil menggandeng Raka menuju daratan.
__ADS_1
" Oke."
" Dek, jangan lari-larian !" Seruan Firman tidak dihiraukan Nana.
Sesampainya didaratan, Rakapun berlari mengikuti kemanapun Nana melangkahkan kakinya. Ini hanya alasan Nana untuk lari kenyataan. Kenyataan jika mungkin gadis itu adalah kekasih Zen, sebelum dijodohkan dengannya. Kenyataan jika mungkin Zen telah bertemu dengan gadis yang lebih baik darinya. Kenyataan jika mungkin Zen lebih menyukai gadis itu daripada dirinya.
Nana menyeka matan yang terus berair dengan lengan bajunya sambil terus berlari.
Berharap kencangnya angin laut yang menerjang tubuhnya mampu segera mengeringkan luka dalam hatinya, seperti yang Ia lakukan pada baju basahnya.
Apakah aku pantas diperlakukan seperti ini?
Ingin rasanya Nana berlari menuju lautan, agar Ia dapat menenggelamkan kepediahan dalam hati yang sedang Ia alami sekarang. Namun kakinya yang sejak jatuh tadi terasa nyeri, rasanya sudah tidak sanggup jika terus Ia paksakan untuk berlari.
Nana terjatuh, " Apa nggak cukup mata sama hatiku aja yang nyeri, kenapa kamu malah ikut-ikutan nyiksa aku." Nana merasa kesal dengan kakinya, " Hiks. Sakit..." Sambil menyeka air matanya yang kembali menetes dengan hijabnya.
" Ketangkap!" Seru Raka sambil menubrukan tubuh kecilnya pada Nana. " Bulek kenapa? Kok nangis." Raka merasa takut.
" Ya kan Bulek sedih, karna ketangkap sama mas Raka." Nana tersenyum. " Kalau udah ketangkap gini kan, berarti Bulek harus ngasih mas Raka hadiah. Huhuhu." Nana menyakinkan keponakannya jika Ia sedang sedih karna itu.
__ADS_1