Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Penasaran


__ADS_3

Walau hanya sebentar, Zen masih merasa tidak rela meninggalkan Nana sendirian. Apalagi setelah Nana mengancam akan menggoda laki-laki lain selagi ia tidak ada disampingnya.


Zen menoleh sekali lagi dan melambaikan tangannya pada Nana yang ternyata masih menatap kepergiannya. Zen lega, Nana masih duduk manis disana dan tidak melakukan apa yang ia ucapkan tadi.


Nggak digoda pun, pasti mereka sudah tergoda sama kamu, Mum! Mamam-mu ini contohnya. Zen tersenyum. Ia malu akan pengakuannya sendiri.


" Mas Zen sini! " Fahmi melambaikan tangannya saat melihat kehadiran Zen.


" Cuma tinggal nungguin Mas Zen ini. "


" Asslamu'alaikum. " Zen memberikan salam sebelum menduduki tempat kosong di samping Fahmi.


" Wa'alaikum salam. " Sebagai muslim mereka semuanya menjawab salam Zen.


" Aku ditinggal juga nggak apa-apa. Kan udah ada pak ketua disini. "


" Kan Mas Zen sesepuh kita, jadi harus ditungguin dong! "


Dengan usia Zen ini, wajar saja kalau dia disebut sesepuh dalam orgasisasi ini.


Fahmi tersenyum penuh arti dan mengacungkan ibu jarinya kedepan,


" Mas Zen, monggo langsung dibuka aja forumnya! Biar bisa menghemat waktu. "


" Amet sewu. Mau nanya, ini ketuanya emang lagi kemana ya kok minta diwakilin buka forumnya? " Ucap Zen dengan nada serius.


" Tadi sih aku lihat pak ketua di semak-semak sana, Mas. "


" Hahaha. Di kira aku ini jangkrik apa! Namanya juga ketua Mas, bebas dong ngasih mandat ke bawahannya. " Fahmi membanggakan jabatannya.


Guyonan Zen dan Fahmi mampu membuat suasana di forum yang dihadari oleh para ketua karang taruna tingkat desa se kota demak ini menjadi lebih santai. Samai membuat Siska tanpa ragu pindah duduk ke samping Zen. Walau sebenarnya tidak ada kelonggaran jarak antara Zen dan orang yang berada di sebelahnya, tapi Siska tetap memaksakan diri untuk duduk disana.


" Geser sana, Mi. " Pinta Zen, karna lututnya bersentuhan dengan bagian bawah tubuh Siska.


Ah, ternyata Mas Zen perhatian banget sama aku, nyampe minta si Fahmi geser tempat duduknya. Siska terharu dengan perhatian Zen.


Kayaknya Mas Zen emang ada rasa sama aku deh! Hati Siska sudah dipenuhi dengan kenyakinan seperti ini.


Mungkin karna ia terlahir dari keluarga yang berada, dan terbiasa mendapatkan apa yang ia inginkan. Membuatnya memiliki keyakinan yang tinggi seperti itu. Apalagi dengan parasnya yang cantik dengan rambut sebahu, serta pekerjaannya di sebuah bank swasta yang berhasil ia dapatkan meski baru saja selesai di wisuda, menambah kepercayaan diri Siska untuk mendapatkan hati Zen dengan mudah.

__ADS_1


Kok aku baru nyadar ya kalau Mas Zen sekeren ini!


Coba dari kemarin-kemarin aku sadarnya, pasti sekarang kita udah pacaran ya, Mas. Hhehe.


Siska sudah tidak peduli dengan apa yang sedang dibicarakan di forum ini. Ia hanya ingin fokus memenuhi pandangan dan pikirannya dengan Zen.


***


Zen menutup pertemuan khusus antara pengurus tingkat kabupaten dan ketua karang taruna tingkat desa, setelah mendapatkan konfirmasi apa-apa yang diperlukan untuk acara di tempat ini. Termasuk jumlah anggota yang bisa hadir, guna memastikan jumlah tenda yang akan mereka sewa untuk beristirahat nanti malam.


" Ini buat Mas Zen. " Siska memperlihatkan perhatiannya lewat satu kotak nasi yang ia berikan pada Zen.


" Iya. Makasih Mbak. " Ucap Zen.


" Kok cuma Mas Zen sih Mbak, yang diambilin? Aku kan juga mau. " Fahmi menggoda Siska.


Ya iyalah! Kan cuma Mas Zen yang spesial di hatiku. Siska tersenyum.


" Kamu masih punya tangan kan? Ambil sendiri lah! "


Siska masih meladeni godaan Fahmi yang berlanjut. Sambil sesekali siska melirik ke arah Zen yang dengan serius melihat catatan hasil rapat, yang ia buat.


" Udah nggak ada yang perlu dibahas lagi kan? " Tanya Zen ada Fahmi.


Akhirnya kelar juga! Jadi aku bisa cepet-cepet balik lagi kepelukannya Mumum. Hehehe.


" Aku pamit duluan ya. " Zen bersiap untuk meninggalkan tempat duduknya.


Deg. Ada perasaan sakit dalam dada Siska saat melihat Zen mau pergi tanpa sempat menyentuh sedikitpun nasi kotak yang khusus ia ambilkan tadi


" Mau kemana lho Mas? Buru-buru banget! " Beberapa orang memberikan pertanyaan yang sama.


" Makan disini aja lho Mas, bareng sama yang lainnya. " Pinta Fahmi untuk mencegah Zen pergi.


" Kalian aja ya. Soalnya aku kesininya nggak sendirian. Jadi aku harus cepet balik kesana lagi. " Fahmi reflek menatap Zen yang sudah berdiri.


Sekarang bukan hanya rasa sakit, namun dada Siska terasa seperti sedang terbakar oleh ucapan Zen. Jangan-jangan yang dimaksud Mas Zen, cewek itu!


" Kasihan juga kan, kalau dia belum dapat jatah makan. " Lanjut Zen, yang sudah tidak sabar ingin melihat keadaan Nana.

__ADS_1


Zen yang seperti ini, membuat mereka semakin penasaran tentang siap yang sedang Zen maksud, sekaligus tambah semangat untuk menggodanya. Kapan lagi coba, bisa meledek Zen yang penuh wibawa itu!


" Roman-romannya, yang dimaksud cewek pasti! Iya kan Mas? "


" Ya iyalah! " Tidak ada keraguan sedikitpun untuk Zen menjawab. " Kan bosen kalau kumpulnya sama Fahmi lagi Fahmi lagi. "


Semua tertawa senang, dan yang lainnya memberikan bersorak. Ini adalah kabar gembira untuk mereka. Karna sosok pemimpin dihadapannya itu tadinya tidak terlihat memiliki ketertarikan terhadap perempuan.


" Kok namaku dibawa-bawa sih, Mas! " Protes Fahmi.


" Emang kesini sama siapa sih, Mas? Jadi tambah penasan aku. "


Sedangkan Siska, Ia hanya bisa membenci suasana yang ada di sekitarnya dalam diam. Ia juga merasa benci dengan dirinya yang sudah membiarkan perasaannya terhadap Zen, tumbuh hingga sebesar ini.


Jahat baget kamu, Mas! Kalau udah punya pacar, ngapain juga kamu kasih harapan ke aku. Siska sudah salah paham dengan sikap yang diperlihatkan Zen.


" Yang mana sih, Mas? Kok nggak dikenalin sama kita-kita. "


" Oh! Yang tadi sore duduk sama Mas Zen di warung itu toh! " Seru Ali, salah satu dari mereka.


Kebetulan saat Ali sampai di tempat ini, ia melihat Fahmi di warung kemudian menghampirinya yang sedang ngobrol dengan Zen dan Siska. Dan mata jelalatannya, tidak dapat melewatkan sesosok gadis di samping Zen, yang terlihat mencolok dari yang lainnya.


" Nasinya itu lho cepetan dimakan, nanti keburu jadi dingin! " Zen mengalihkan pembicaraan sebelum pergi membawa wajah malunya.


" Hahaha. Mas Zen-nya kabur! " Teriak Fahmi yang juga ikut senang untuk Zen. Hanya saja ia masih belum bisa mempercayai bahwa gadis yang sudah membuat wakilnya itu jatuh cinta adalah Nana.


Setelah melihat Zen pergi tanpa memperdulikannya sedikitpun, Siska pun ikut meninggalkan tempat itu dengan membawa kesedihan dan rasa sakit dalam hatinya. Ini terlalu menyakitkan untuknya, tapi ia harus berusaha menutupinya agar tidak ada mengetahui perasaannya yang sebenarnya terhadap Zen. Jika sampai ada yang tau, bukan tidak mungkin predikat pelakor akan disematkan padanya. Dan hal itu hanya akan aib untuk keluarganya yang merupakan orang yang terhormat.


" Heh, beneran kamu lihat ceweknya Mas Zen? " Pemuda yang berada di sebelah Ali bertanya.


Dan merembet kesebelahnya, kesebelahnya dan kesebelahnya lagi hingga menimbulkan forum diskusi baru di tempat itu, meski Zen sudah tidak berada disana, tapi tidak bisa menghilangkan rasa penasaran mereka begitu saja.


Mereka ingin tau, seperti apakah gadis yang beruntung mendapatkan cinta dan perhatian dari orang seprti Zen. Karna Zen dimata mereka merupakan sosok pemimpin yang ideal dengan karismatik tinggi, namun sangat pandai membaur dengan siapapun, kecuali kaum hawa.


" Seperti apa orangnya, Kang? "


" Cantik nggak? "


Dalam benak mereka sudah terfikir, seperti apa gadis yang cocok dengan karakter Zen. Seorang gadis dewasa dan anggun dengan balutan baju syar'i ditubuhnya. Sifat lemah lembut keibuan dan juga memiliki pemikiran dewasa setara dengan pemikiran Zen.

__ADS_1


Tidak ada satupun kriteria yang terfikir oleh mereka, ada pada diri Nana. Tapi kenyataannya, dia lah gadis spesial yang sudah memberikan warna dalam kehidupan Zen, dia lah gadis yang mampu membuat Zen yakin untuk memasrahkan masa depannya bersama dia, dan dia lah gadis yang diinginkan Zen sebagai dijadikan patner, dalam menjalani sisa usianya.


Jodoh itu tidak melulu tentang kreteria seberapa cocok mereka dimata orang lain. Karna tidak ada yang tau, akan seperti apa jodoh kita, dan dengan cara apa dia akan dipertemukan dengan kita. Karna jodoh itu merupakan rahasia dari sang pemilik kehidupan kita.


__ADS_2