Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Ratunya Bidadari


__ADS_3

Nana merasa kondisi tubuhnya sudah membaik, untuk itu Ia meminta izin pada dokter jaga agar diperkenankan untuk pulang. Sebelum mengizinkan Nana keluar dari klinik kampus, dokter memeriksa ulang suhu tubuhnya yang ternyata sudah turun banyak mendekati angka normal.


" Ini dihabisin ya, kalau ada apa-apa besok kesini lagi." Saran dokter sambil menyerahkan obat pada Nana.


Namun sepertinya Nana sudah tidak membutuhan obat lain. Hanya dengan keberadaan Zen di sampingnya, sudah seperti obat yang manjur untuk segala rasa sakit Nana. Namun sayangnya obat ini memiliki efek samping yang membahayakan untuknya, karna hanya akan membuatnya ketagian yang berujung pada ketergantungan akut pada obat yang satu ini. Obat khusus ini memiliki merk "CimaZen", Alias "Cinta dari Mamam Zen".


" Mumum belum makan kan?" Ucap Zen setelah keluar dari ruang dokter bersama Nana.


" Udah." Nana tersenyum, " Tadi pagi. Hehehe." Padahal sekarang sudah menjelang sore.


" Astagfirullah hal Adzim ! Jangan-jangan Mumum disini jarang makan ya? Makanya jadi kurusan kayak gini."


" Kan aku lagi diet. Biar nanti waktu pake baju pengantin jadi kelihatan bagus !" Ucap Nana sebelum berlari meninggalkan Zen yang lagi-lagi mematung karna ulahnya.


" Mum !" Walau masih belum dapat menghentikan senyuman di bibirnya, Zen ikut berlari mengejar Nana.


Sekarang mereka terlibat kejar-kejaran dilorong klinik yang terlihat sepi, karna tidak banyak mahasiswa yang mau menggunakan fasilitas kampus ini saat mereka sakit. Karna lokasinya yang berada di samping fakultas kedokteran. Dan jauh dari gedung fakultas lainnya.


***


Puas bermain kejar-kejaran seperti di film India, mereka memutuskan untuk pergi ke kedai makan yang sering dikunjungi Nana bersama teman-temanya.


Saat sampai dilokasi yang ditunjukan,


Zen turun dari sepeda motor dan mendapati wajah Nana yang berada dibelakanganya kembali pucat. Zen memegang kening Nana memastikan sesuatu.


" Tuhkan ! Kamu sih tadi main lari-larian, jadi demam lagi kan, Mum." Ucap Zen sambil membantu Nana melepaskan helm yang dikenakan.


Itu adalah helm milik Nana yang sengaja Renata tinggalkan diatas sepeda motor milik Zen. Saat diusir pulang oleh Nana karna ketahuan mengintip bersama Maimunah dan juga Naila.


" Mumum duduk disana ya, biar aku yang pesen makanannya." Zen menunjuk meja kosong saat menggandeng Nana memasuki kedai.


Setelah memberitahukan makanan juga minuman yang Ia inginkan pada Zen, Nana menempati meja yang tunjuk Zen.

__ADS_1


" Ini minuman kamu, Mum." Zen datang membawa dua gelas minuman. Kemudian duduk didepan Nana. Sambil menunggu makanannya datang.


Nana menyeruput minuman hangat didepannya, sebelum memulai obrolan dengan Zen.


" Mam." Nana meraih jemari Zen yang berada diatas meja, kemudian menggenggamnya.


" Makasih ya, karna udah selalu ada buat aku."


" Coba kita udah sah ya, Mum? Kita bisa tinggal bareng, makan bareng, tidur bareng, mandi bar..." Mempererat genggaman Nana.


" Udah-udah. Nggak usah diterusin ! Aku nggak kuat."


Nana malu sendiri, karna tanpa Ia sadari Ia terhayut dan ikut membayangkan setiap kegiatan yang dapat mereka lakukan setelah menikah mengikuti diucapkan Zen.


" Hahaha. Belum juga praktek, Mum. Masa udah bilang nggak kuat sih !" Menarik tangan Nana untuk Ia tempelkan pada pipinya. Terasa panas, namun tidak sepanas saat pertama kali Ia menyentuh Nana ketika berada di klinik kampus.


Naluri Zen sebagai laki-laki sudah mulai merusak image kepolosannya sendiri. Dia yang tadinya tidak berminat memiliki hubungan seorang perempuan apalagi memikirkan pernikahan, sekarang menjadi menggebu-gebu saat membayangkan indahnya kehidupan pernikahan bersama Nana dikepala.


" Udah, Mam. Jangan kamu racunin pikiranku yang polos ini lagi. Sebenarnya aku masih agak kesal tau sama kamu, Mam !" Mengaku-ngaku polos, padahal mantannya berserakan.


Zen memikirkan setiap ucapan hingga perbuatan yang Ia perlihatkan disaat kebersamaannya dengan Nana.


" Kamu habis dapat lamaran dari pak Kiyai kan? "


" Hah ? Kok Mumum bisa tau sih, padahal aku aja pernah ngomongin masalah itu."


Seminggu yang lalu, saat Nana menghubungi Ibu untuk membagikan kabarnya. Ia justru mendapat kabar yang mengejutkan dari Ibu. Yakni mengenai lamaran yang datang dari seorang Kiyai sebuah pondok pesantren di desanya pada Zen untuk putrinya.


Tentu saja tidak ada hal yang perlu dihawatirkan tentang itu, karna Zen pasti tidak akan menerima lamaran tersebut. Secantik apapun putri pak Kiyai yang ditawarkan padanya, tidak akan mengubah perasaannya yang terlanjut terpaut hanya pada Nana.


" Aku tau kok, kalau Mamam pasti nyesel banget kan ? Harus rela melepas anak pak Kiyai, karna terlanjur terikat sama aku." Nana terlihat sedih.


" Kenapa Mumum bisa berfikir seperti itu?" Zen bersandar pada sandaran kursi sambil menyilangkan tangannya didada.

__ADS_1


" Mamam kan suka banget sama perempuan penghafal al-Qur'an, seperti Aisyah."


Kamu mau ngomong apa lagi sih, Mum! Zen mengernyitkan dahi.


" Terus ?" Membiarkan Nana menuangkan apa yang ada dalam pikirannya.


" Ya kan anak pak Kiyai penghafal al-Qur'an. Pasti Mamam nyesel banget, harus melepas bidadari yang juga adalah anak dari seorang Kiyai."


" Bidadari?"


" Ya kan Mamam manggil Aisyah bidadari karna dia calon Hafidz Qur'an. Kalau anaknya pak Kiyai udah hafidz berarti harusnya aku manggil ratu bidadari ya?"


Zen tertawa sambil memegangi keningnya sendiri, yang terasa memanas. Meski ini bukan pertama kalinya Nana berbicara seenaknya, namun Ia masih tidak dapat mempercayai pemikiran Nana yang terasa tidak masuk akal untuknya.


" Mum. Bidadari atau ratunya bidadari buat aku ya itu cuma kamu, Sayang. Satu-satunya perempuan yang menjadikan hari-hariku penuh kebahagiaan. Dan aku menjuluki Aisyah seperti itu hanya sebagai ungkapan kebanggaanku aja. Nggak ada maksud lainnya." Mengatur Nafas yangvterasa berat.


" Mumum nggak suka ya kalau aku manggil Aisyah seperti itu ? Kalau iya, aku janji ini terakhir kalinya aku mengibaratkan dia seperti bidadari. Yang penting Mumum senang."


" Nggak, Mam. Aku tau diri. Buat baca al-Qur'an aja aku nggak fasih, apalagi menghafalnya seperti anak pak Kiyai. Aku juga bukan anak pesantren yang memiliki banyak ilmu agama. Kalau dibandingkan sama dia aku ini nggak ada apa-apanya. Tapi kenapa Mamam masih mau bertahan sama aku?"


" Mum, jangan bilang kamu sakit gara-gara mikirin itu !" Setengah membentak.


Kenapa dia marah ? Nana kaget merasa dibentak.


Ini pertama kalinya Zen berucap dengan nada setinggi itu pada Nana. Selama ini Nana hanya melihat senyum dan kelembutan dari Zen. Nana tidak meyangka Zen memiliki sisi yang seperti ini.


" Mamam, marah ?" Nyali Nana menciut. Kemudian tertunduk.


Zen menarik kedua tangan Nana yang berada diatas meja, " Mum, mau Mumum begini, Mumum begitu, selagi itu adalah Mumum Nana-ku, aku nggak akan pernah mempersalahkan apapun. Karna itulah sosok Mumum yang aku cintai, yang ingin aku jadikan istri untuk menghabiskan sisa usiaku." Zen berucap penuh kasih sayang.


" Jangan pernah lagi Mumum membandingkan diri Mumum dengan orang lain jika itu hanya akan menyakiti hati Mumum. Apalagi sampai membuat tubuh Mumum sakit seperti ini. Aku nggak suka, Mum."


" Ma'af." Nana menitikan air mata.

__ADS_1


" Jangan menangis, Mum... Mumum adalah kebahagianku, maka jangan pernah menangis. Karna itu hanya akan menyakiti hatiku melebihi kesedihan yang Mumum rasakan. " Zen mengecup kedua tangan Nana yang berada dalam genggamannya.


__ADS_2