
Di dalam kamar, Ayah dan ibu memasang lebar telinga mereka, agar dapat mendengar pembicaraan antara calon mantu dan anak gadisnya di ruang tengah.
" Hehee. Itu anak gadismu kurang ajar banget toh, Pak! Kenang Zen sampe keselek, gara-gara dikagetin. " Ibu mulai berkomentar.
Ibu terlihat senyam-senyum mendengarkan apa yang bisa ia dengar dari dalam sana. Ibu merasa senang, mengetahui jika hubungan Nana dan Zen dapat berjalan sebaik ini. Berbeda dengan ibu yang menyalutkan ekspresi juga komentarnya, Ayah hanya diam dan mendengarkan dengan tenang.
" Ya Allah..., itu Kenang Zen udah diapakan sama Adek? Sampai jadi manja seperti itu. "
Tentu saja Ibu tidak menyangka. Bagaimana anak gadisnya yang masih kekanak-kanakan itu dapat merubah Zen, laki-laki gagah yang sudah tidak muda lagi, tiba-tiba memperlihatkan sikap manja di hadapannya, yang memiliki usia jauh dibawah Zen.
" Pak! Mbok ya cepat, pilihkan tanggal buat pernikahan mereka! "
" Memangnya kenapa toh, Bu? "
Ayah heran dengan permintaan Ibu yang tiba-tiba. Apakah Ibu sudah lupa, jika mereka menyetujui, bahwa Nana sendiri lah yang menentukan kapan pernikahannya akan diadakan. Karna Nana juga lah akhirnya yang menjalani.
" Lha wong mereka sudah sedekat itu. Lagian kasihan Kenang Zen juga Pak, kalau harus nunggu sampai Nana lulus."
" Lha mau gimana lagi? " Ayah sudah bertekat untuk tidak memaksakan kehendak pada Nana.
Ibu terdiam. Jika ayah saja tidak mendukungnya, lalu ia bisa apa selain menurut. Walau ibu sendiri merasa tidak sabar untuk menjadikan Zen sebagai memantu lelaki satu-satunya dalam keluarga.
Mungkin Zen sendiri tidak menyadari bahwa sikapnya ketika sedang bersama Nana sering terlihat kekanak-kanakan. Karna dia sendiri tidak mengetahui, bahwa jauh di bawah alam sadarnya, ia berusaha untuk dapat menyesuaikan dirinya dengan Nana. Yang sejak awal memiliki jurang pembatas dengannya, yang di nyatakan dalam bentuk jarak pada usia meraka.
Semakin banyak sifat Zen yang menyerupai sifat Nana. Bisa dikatakan semakin besar pula rasa cinta Zen yang tumbuh untuknya. Dan pada akhirnya tidak akan lagi terlihat adanya kesenjangan untuk mereka dalam menjalin hubungan.
__ADS_1
***
" Ibu, Adek sama Mamam ke atas ya? " Ucap Nana didepan pintu kamar ayah dan ibu, memastikan bahwa mereka sedang berada didalam.
Mum... Zen tersipu malu. Mendengar Nana membahasakan dirinya Mamam pada Ayah dan Ibu yang tidak lain adalah calon mertua Zen.
" Ya wis. Sekalian Kenang Zennya diajak makan sana. " Jawaban ibu dari dalam kamar.
" Nggih. " Ucapnya sebelum pergi dari depan pintu. " Ayo! " Ajak Nana pada Zen, sambil memberikan isyarat dengan lambaian tangan.
" Mau kemana? " Zen bertanya.
" Ke pelaminan! "
Nana berjalan didepan, seperti sedang memberikan layanan 'pemandu perjalanan' mengingat ini pertama kalinya Nana mengajak Zen masuk kerumah pribadinya yang masih terhubung dengan pintu belakang rumah orang tuanya.
Sesampainya didepan tangga, Nana menghentikan langkahnya. Menunggu Zen mendekat.
" Kenapa Sayang? " Ikut menghentikan langkahnya.
" Gandeng... " Pinta Nana saat mengulurkan tangannya pada Zen. " Biar Mumum nggak jatuh lagi. "
Deg, dada Zen tersentak. " Mumum pernah jatuh dari tangga? Kapan? Tapi Mumuncku nggak kenapa-napa kan? " Zen neraih uluran tangan Nana. Ia panik, ia benar-benar merasa hawatir saat ini.
" Iya, Mam. Mumun sering jatuh disini. " Ucap Nana dengan nada sendu sambil memegangi dada.
__ADS_1
" Sering??? ya Allah, Mum.... Tapi Mumum nggak kenapa-napa kan? " Salah satu tangannya memegangi pipi Nana, sedangkan matanya tetap fokus pada wajah Nana.
Nana tersenyum, memperlihatkan bahwa dirinya adalah gadis yang kuat. " Nggak apa-apa kok, Mam. Meski harus jatuh berkali-kali Mumum nggak masalah. "
" Kok gitu sih? Kan sakit, Sayang... " Tidak tau jalan pikiran Nana.
" Kan jatuhnya, jatuh cinta sama Mamam-ku. "
Aaaaaaahhhhhhhh !!! Hati Zen meradang.
" Awww! " Nana kaget, karna Zen menggigit jarinya lagi. " Mamam kenapa lagi sih? "
Tanpa rasa bersalah, Zen tertawa.
" Mumum memang nggak masalah, jika harus jatuh cinta berkali-kali sama Mamam. Tapi jadi masalah, jika jari Mumum terus di gigitin sama Mamam kayak gini. Lama-lama kan jari Mumum bisa habis. "
Tidak menanggapi omelan Nana, Zen malah menarik jari yang terdapat cap giginya disana, lalu ia tempelkan pada bibir. Cup. Seketia Nana menghentikan omelannya dan menggantinya dengan senyum malu-malu.
" Maleh (lagi) ! " Ucapnya, saat Zen sudah menjauhkan bibirnya dari jari Nana.
" Emmuaaaahhh. "
" Aaaa ! " Pekik Nana, merasa senang karna Zen mengabulkan permintaanya untuk mencium lagi jarinya.
Suara adzan, pertanda telah masuk waktu shola isyakpun berkumandang. Menyadarkan Nana pada tujuan awalnya untuk mengajak Zen naik ke lantai dua. Karna disana masih ada kejutan yang sedang menunggu Zen.
__ADS_1