
" Bismillahirrohmanirrokhim. " Zen berhenti sejenak untuk mengambil nafas. " Hari ini, Aku, Muhammad Maliki Zayn akan menikahi seorang bidadari tanpa sayap, satu-satunya di dunia ini. Dia Nalal Muna-ku. Dia adalah bidadari syurga, yang akan menjadi penyempurna untuk agama-ku. Terimakasih Sayang, aku benar-benar beruntung bisa mendapatkan kamu sebagai istriku. " Bukan sedang membacakan surat pernyataan. Zen benar-benar mencoba mengungkapkan perasaannya saat ini.
" Sudah, Mas? " Seseorang melongokan kepalanya disela pintu kamar Zen.
Dia adalah Agung, penyedia jasa foto dan vidiografi yang ditugaskan oleh Umamy Wedding untuk membantu mendokumentasikan acara pernikahan Nana dan Zen hari ini.
" Ini. " Malu-malu Zen menyerahkan audio recorder pada laki-laki yang sedang menenteng kamera besar di tangannya.
Mumum... Mumum... kalau bukan karna Mumum, nggak bakalan Mamam mau bikin kayak beginian. Zen mengeluh.
Zen mengaku pada Agung, jika ia tidak terbiasa difoto apalagi di vidiokan seperti ini. Selama ini, ia hanya foto untuk keperluan pembutan KTP, SIM dan sebagainya saja. Namun pada kenyataannya, di dalam ponselnya dan juga ponsel Nana, sudah penuh dengan foto-foto yang mengabadikan kebersamaan mereka.
Mungkin Zen lupa, atau memang tidak sadar mengenai keberadaan foto-foto itu. Karna saat mengambil foto kebersamaannya dengan Nana ia dalam keadaan mabuk. Iya, Zen sangat mabuk saat itu. Mabuk cintanya bidadari tanpa sayap.
" Nggak usah gerogi ya, Mas. Anggap aja aku nggak ada. " Ucap Agung menyemangati Zen.
" Gimana aku bisa nganggep sampean nggak ada. Lha wong gaya aja di atur-atur sama sampean terus kok. " Protes Zen malah memancing tawa Agung.
__ADS_1
Ia teringat kejadian tadi pagi. Saat dimana ia meminta Zen melakoni adegan bangun tidur untuk keperluan dokumentasi. Ia meminta Zen untuk mengulanginya beberapa kali, sampai ia mendapatkan gambar yang bagus untuk di edit nanti. Meski sempat mengeluh, Zen tetap menuruti Agung dengan patuh. Karna ini sudah menjadi kesepakatannya sendiri dengan Nana. Ia tidak mau mengacaukan impian Nana lagi untuk memiliki kisah indah dalam moment penting seperti ini, seperti yang pernah ia lakukan dulu, pada moment pertunangannya dengan Nana.
" Sudah jam setengah sembilan, Mas. Sampean nggak siap-siap? " Agung mengingatkan. Karna acara akad, akan di dilangsungkan pada pukul sembilan.
" Ya udah aku mau mandi dulu. Jangan diikutin! "
Agung tertawa lagi. Dari awal, ia memang tidak memiliki hasrat sedikitpun untuk membuat domuntasi kegiatan mandi Zen. Tapi tingkah Zen barusan, malah memunculkan ide segar dalam kepalanya.
" Bukannya malah bagus Mas, kalau mandinya direkam juga. Kan biar Mbak Nalal nya bisa tau, perbedaan mandinya Mas Zen pas masih perjaka sama setelah menikah nanti. Keren kan, Mas? "
" Keren g*ndul-mu! " Ucap Zen spontan sambil tertawa.
Di dalam kamar yang sudah terasa lega, karna parsel-parsel untuk seserahan sudah dikeluarkan semua, Zen bersiap-siap. Mengenakan sarung hitam polos, dengan sedikit pola batik berwarna putih melingkar di bagian bawah. Dipadukan dengan jasko (jas koko) putih yang dihiasi sedikit bordiran berwarna hitam silver, untuk menutupi kaos oblong putih yang sudah dikenakan sebelumnya.
Di depan cermin, Zen menghias matanya dengan celak, lalu menyisir rapi rambutnya sebelum ia tutupi dengan pecih hitam yang baru ia keluaran dari dalam kemasan.
Sudah tidak peduli dengan Agung yang mengambil gambarnya dengan berbagai gaya, Zen menggelar sajadah dan melakukan sholat sunnah sebelum berangkat ke tempat acara.
__ADS_1
" Kok mati? " Suara dari soundsystem tiba-tiba menghilang. Agung keluar kamar untuk melihat apa yang terjadi.
Prokkk... Bringnngg...
Prookk... Prokkk... Brinngg...
Bring... Brinnng... Prokk... Brrinnng... Bringg...
Suara itu berasal dari alat rebana yang ditabuh secara kompak oleh pemuda berseragam. Mereka merupakan anak-anak karang taruna yang sekarang masih dalam naungan Zen, sang calon pengantin kakung yang akan diiring menuju tempat acara, yakni di kediaman pengantin putri yang lokasinya masih berdekatan.
Seseorang dengan seragam yang sama dengan penabuh rebana, bergegas menyiapkan payung pengantin, saat melihat Zen keluar dari dalam rumah.
Dalam balutan busana yang sederhana, Zen malah nampak begitu bersinar. Apalagi ditambah dengan manisnya senyuman yang tidak mau menjauh dari bibir calon pengantin itu. Terlihat lebih berwibawa dari pengantin pada umumnya, yang mengenakan jas juga celana berwarna senada untuk acara akad nikah.
" Bismillahirrohmanirrokhim. " Ucap Zen pelan.
Ya Allah, berikanlah kemudahan serta kelancaran-Mu pada hambamu ini yang akan menjalankan sunaturrosul.
__ADS_1
" Amin. " Zen mengusabkan kedua telapak tangannya pada wajah.
Dalam iringan sholawat dan musik rebana Zen yang di dampingi Ibu dan kakak perempuan kedua-nya mulai melangkahkan kaki, menuju rumah keluarga Nana.