Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Puskesmas 3


__ADS_3

Sekitar satu jam penantian, akhirnya petugas memanggil Nana dan Zen untuk masuk lagi ke ruang laborat. Karna hasil pemeriksaan mereka sudah bisa diambil.


" Kok cepet banget ya Mum. "


" Cepet apanya! Lha wong kita nunggunya aja lebih dari satu jam kok. " Sanggah Nana yang sadar dengan waktu.


" Apa iya, Mum? "


Nana tidak memperdulikan pertanyaan Zen ini, padahal Zen memang membutuhkan seseorang yang dapat membuatnya percaya, bahwa ia telah melalui waktu lebih dari satu jam di bangku itu bersama Nana.


" Oh iya! " Zen menghentikan langkahnya.


" Kenapa, Sayang? " Nana kaget dengan seruan Zen.


" Mamam baru sadar, Mum! " Dengan ekspresi super serius, Zen membuat Nana panik.


" Sadar kenapa, Mam?? "


" Satu jam bersama Mumum rasanya kayak satu detik, tapi satu hari tanpa Mumum, rasanya seperti satu tahun. Ini adalah bukti kalau Mamam sudah memindah tangankan, kepemilikan hati ini ke Mumum! Dan sekarang, Mumum-lah sang pemilik tunggal yang sah dari hatinya Mamam! " Memegangi dada.


Nana merapatkan diri ke tembok, juga menempelkan pipinya disana. Seakan Nana dan tembok puskesmas adalah satu kesatuan yang tidak mungkin terpisahkan lagi.


" Mumum ngapain? " Sambil tersenyum, Zen mempertanyakan kelakuhan Nana.


Dalam fikiran Zen, apa yang dilakukan Nana sekarang ini pasti berhubungan dengan rayuannya tadi. Ia menjadi tidak sabar ingin mendengar tanggapan Nana.

__ADS_1


" Mumum lemes, Mam! Gombalan Mamam tadi, menancap pas di ulu hati Mumum. " Ucap Nana sambil memegangi perut bagian atasnya.


Zonk! Bukannya lemes karna meleh dengan rayuan Zen, Nana malah berlagak seperti orang kesakitan, karna penyakit magg.


" Mumum! Masa Mamam disamain sama asam lambung! "


***


Memasuki ruang laborat, Nana dan Zen di persilahkan untuk duduk di hadapan dokter spesialis patologi klinik, yang bertugas menangani hasil pemeriksaan mereka.


" Mbak Nalal Muna sana Mas Muhammad Malik-ki ya? " Dokter perempuan itu, memastikan lagi nama pasiennya.


" Nggih, Bu. " Nana menjawab.


" Bu, yang tadi pagi. Jangan lupa. " Sahut Zen, saat melihat dokter mengambil kertas yang baru keluar dari mesin printer.


Zen memberikan kode, yang langsung dibalas anggukkan oleh dokter di hadapannya itu.


" Aku ngundang Bu dokter, ke acara nikahan kita. "


Tanpa sepengetahuan Nana, Zen telah mengajukan pemeriksaan lain untuknya dan Nana, diluar pemeriksaan sebagai pelengkap berkas di KUA. Dan untuk itu pula, ia meminta tolong, agar dokter mau merahasiakan pada Nana mengenai pemeriksaan itu.


" Mbak Nalal, mondok apa udah kerja? " Dokter berbasa-basi pada Nana.


" Saya nggak mondok, Bu. Saya juga belum bekerja, saya masih fokus kuliah. " Dengan sedikit rasa malu, Nana menjelaskan dengan sopan keadaannya.

__ADS_1


Mondok atau belajar ilmu agama di sebuah pesantren, merupakan hal umum yang biasa dilakukan oleh mayoritas penduduk di daerahnya. Itulah mengapa hal tersebut juga biasa dipertanyakan oleh orang asing ketika baru pertama kali bertemu.


" Tadi berapa usianya? " Dokter menilik pada kertas di tangan.


" Sembilan belas menuju dua puluh, Bu. " Nana tersenyum.


" Oh, iya. " Melihat angka yang tertera di keterangan usia Nana. " Seumuran sama anak gadisku ternyata! Kuliah dimana, Mbak? Semester berapa? " Pertanyaan tumpang tindih diajukan pada Nana.


" Di universitas negeri XXX, Bu. Baru semester lima. "


" Anak-ku malah baru semester tiga. Lha terus masalah kehamilannya nanti, mau nunda apa gimana? " Basa-basi dokter berlanjut.


Eh? Nana.


Eh? Zen.


Sambil senyam-senyum mereka saling melempar pandangan penuh makna.


" Owalah! Senyum calon pengantin itu memang beda ya, kayak ada manis-manisnya. " Ucap dokter untuk menggoda, kemudian lanjut memberikan penjelasan secara umum mengenai hasil pemeriksaan mereka berdua.


Setelah di melipat dan memasukkannya kedalam amplop besar, dokter menyerahkan empat amplop yang berisikan semua hasil pemeriksaan yang diminta, pada Zen.


" Begini ya Mas Mbak. Ini cuma sekedar saran, nggak ada maksud mau menakut-nakuti atau gimana. Yang namanya perencanaan itu memang penting, apalagi Mbak Nalal ini masih memiliki kesibukan di bangku kuliah. Biar nanti tidak ada penyesalan, ataupun merasa ada yang di rugikan, karna kuliah jadi terbengkalai contohnya. Lebih baik semua dibicarakan di awal, mumpung belum kadung. Termasuk masalah kehamilan. " Dokter tersenyum.


" Bikinnya sih memang bersama, tapi dampaknya itu lho, yang nggak bisa ditanggung bersama. "

__ADS_1


Bukan sebagai dokter, tapi sebagai seorang yang lebih berpengalaman dalam mengarumi pedas asam asinnya kehidupan, dokter mengajukan dirinya untuk memberikan nasehat pada Nana dan Zen yang akan segera mengembangkan layar kapalnya.


__ADS_2