Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Menyesal


__ADS_3

Malam semakin larut. Hiburan yang di selenggarakan oleh keluarga Nana, dalam rangka perayakan pernikahan anak gadisnya pun sudah usai. Seperti halnya dengan perayaan yang khusus digelar oleh sang pengantin baru di dalam kamar tidur mereka.


Alhamdulillaahilladzii kholaqo minal maa i basyaroo.


Tanpa suara, Zen mengucapkan sepenggal do'a. Yang di tutup dengan sebuah kecupan mersa pada kening Nana yang basah karna keringat. Zen tersenyum puas.


" Hah... "


Jadi, seperti ini toh yang dinamakan surga dunia? Melemaskan namun sangat menyenangkan.


Zen menjatuhkan tubuh basahnya di samping Nana dan segera meraih selimut. Menariknya, hingga menutupi sebatas dada. Karna ia tidak rela memperlihatkan tubuh polos Nana pada mahluk lain. Bahkan untuk seekor cicakpun, tidak ia biarkan melihat.


Terimakasih Ya Allah, atas kenikmatan-Mu yang luar biasa ini.


Ia sangat bersyukur bisa mendapat kesempatan, merasakan pengalaman baru yang mungkin tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.


Meski bukan empat tahun, melainkan hanya dua tahun masa penantiannya untuk dapat menikah dengan Nana. Tapi bisa dibilang, dua tahun yang sudah ia lewati itu adalah dua tahun terberat dalam hidupnya. Coba dan goda silih berganti menerjang dan mengikis iman-nya.


Kini hari-hari seperti itu sudah berakhir, sebelum Zen benar-benar terjerumus dalam kelamnya dosa zina. Karna ia hanyalah manusia biasa. Manusia normal yang juga memiliki nafsu bawaan dalam tubuhnya.


Terimakasih, karna sekarang aku bisa menyalurkan nafsu-ku dengan cara yang Engkau halalkan.


Mungkin karna baru pertama, atau memang 'olahraga malam' terasa berat untuk mereka. Hingga, AC di dalam kamar seperti kehilangan berfungsinya. Karna bulir keringat terus terkucur meski 'olahrga malam' sudah usai.


Sambil memeluk tubuh Nana, yang ia balut selimut. " Makasih ya, Sayang... sudah menyempurnakan kehidupan Mamam. "


Karna tidak memberikan respon, Zen ingin memastikan lagi apakah Nana sudah terlelap. Ia pun mengintip wajah Nana yang menghadap ke arah berlawanan dari tempatnya sekarang.


" Mumum... Mumum kenapa? "


Kaget bercampur hawatir, Zen melihat air yang terus menetes dari kedua ujung mata Nana yang tengah terpejam. Rupanya, ia sedang menahan tangis dalam diamnya.


Bukannya menjawab, secara perlahan, Nana malah memiringkan tubuhnya dan membelakangi Zen.


" Sayang... "


Zen menggoyang pelan bahu Nana. Ia menjadi merasa tidak nyaman dengan situasinya saat ini. Dan lagi, ia paling tidak tahan dengan Nana saat ia sedang menangis.


" Mumun jangan kayak gini. Kasih tau Mamam, ada apa? " Ucap Zen sambil mengeratkan pelukannya pada Nana.


" Mumum marah ya sama Mamam? Ma'af Sayang, kalau Mamam ada salah sama Mumum. Tapi Mumum harus kasih tau, dimana salahnya. Biar Mamam bisa perbaiki kedepannya. "

__ADS_1


Nana menggeleng. Perasaan Zen jadi bertambah kacau. Ia berharap Nana mau membuka mulutnya. Meskipun yang akan keluar dari sana, merupakan amarah ataupun kata-kata kasar sekalipun akan ia terima. Karna dengan begitu ia bisa tau apa yang dirasa dan diinginkan oleh Nana.


" Sekarang kita kan sudah berumah tangga, Sayang. Jadi harus lebih terbuka lagi satu sama lain. "


Deg. Tiba-tiba terlintas kemungkinan terburuk dalam benak Zen.


" Mumum nyesel ya, nikah sama Mamam? " Meski terasa menyakitkan, tapi Zen tetap mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya. Agar tidak menjadi ganjalan.


" Nggih. "


Seketika, tubuh Zen tergelepar. Ia menjadi tidak berdaya karna jawaban Nana yang sudah seperti bom itu. Membuat runtuh dunianya dalam sekejap. Rumah tangga yang baru saja ia tapaki, entah akan seperti apa nanti jadinya jika seperti ini kondisinya.


Ia tidak tau harus bersikap seperti apa, jika memang itulah yang sekarang dirasakan Nana terhadap dirinya.


Semakin difikirkan, malah semakin membuatnya terhayut dengan kekurangan yang ada pada dirinya, yang mungkin baru Nana ketahui. Dan hal itu tidak dapat ia toleransi.


Tanpa sepengetahuan Zen, Nana sudah berhenti mengeluarkan air mata dan mulai tersenyum. Karna ia sudah dapat beradaptasi dengan rasa perih pada bagian vitalnya, karna mendapatkan serangan bertubi-tubi dari Zen.


Emang enak, Mumum kerjain! Wheeekk.


Salah sendiri! Udah bikin Mumum-nya sakit. Malah tinggal senyam-senyum terus.


Nangis dulu aja sana!


" Mumum nyesel. " Karna tidak tega, Nana mulai membuaka suara. " Nyesel banget. Nikah sama Mamam, sekarang. " Nana serius.


Masih menutupi mata dengan lengannya, Zen menjawab, " Kenapa? "


Kenapa hubungan kita jadi seperti ini, Mum!


" Kenapa nggak dari dulu aja sih kita nikahnya. "


" Heh? " Kaget, Zen mengangkat lengannya.


" Maksudnya? "


Zen menahan diri untuk tidak senang dulu. Karna ia masih takut dengan makna, dari ucapan Nana.


Menghadap Zen, Nana berteriak. " Kenapa nggak dari dulu aja, kenapa baru sekarang kita nikahnya. " Mengurangi volume suaranya sendiri, " Mumum kan nyesel jadinya, karna baru tau kalau nikah itu seenak ini. "


Entah karna merasa hawatir jika Nana akan berteriak lagi, atau memang Zen sedang melampiaskan rasa kesalnya. Ia membungkan mulut Nana dengan mulutnya.

__ADS_1


" Ini tuh istrinya siapa ya? Kok nakal banget kayak gini!! " Mencubit pipi Nana dengan gemasnya.


" Aaawww.... sakit.... " Zen melepaskan cubitannya. " Tak bilangin sama Bapak lho ya, kalau Mamam suka KDRT sama Mumum. "


" Hih!! " Menggigit pundak Nana yang tidak tertutupi selimut.


" Aaahhhh... "


" Nggak tau apa! Mamam-nya sampai was-was setengah mati gara-gara Mumum. "


" Jangan stroke dulu, Sayang.... Mumum belum siap jadi janda. "


" Stroke??? "


Zen tidak mengerti dengan apa yang sedang dibicarakan oleh Nana. Dia masih terlalu sehat untuk mengalamani stroke.


" Katanya tadi Mamam sampai setengah mati. Berarti kan stroke. "


Zen sudah tidak sanggup lagi menahan rasa gemasnya. Ia menyibak selimut dan naik ke atas tubuh Nana.


" Mamam mau ngapain?!? Turun nggak!! Udah malem ini lho, jangan petakilan disitu. " Panik, Nana menutupi area dadanya dengan tangan.


Sebenarnya Nana merasa belum siap, jika harus melayani nafsu Zen untuk yang kedua kalinya di malam pertama mereka. Karna rasa perih yang ditinggalkan Zen tadi, masih belum menghilang sepenuhnya.


Dengan tenaganya yang sudah kembali pulih, dengan mudah Zen dapat menyingkirkan kedua tangan Nana yang menutupi pemandangan di depannya.


" Mamam!!! " Dengan posisinya sekarang, Nana tidak dapat mengamankan barang-barang berharganya.


Zen tertawa, lalu menciumi Nana dengan gemas. " Kirain, Mumum nyesel karna Mamam nggak bisa muasin Mumum. " Bisik Zen.


" Ya iyalah Mumum nggak puas! Kalau langsung puas, nanti Mamam-nya jadi nganggur dong! " Tiba-tiba. " Aaaaaaa, Mamam... geli. "


Dengan penuh semangat, Zen mengunyel-nguyel tubuh mulus Nana. Dan tidak ingin melepaskan Nana dengan mudah. Ini adalah hukuman untuk Nana. Karna sudah menjadi wanita menggoda dalam hidupnya.


" Sayang!!! Mumum lemes! " Sentak Nana sambil memegangi wajah Zen dengan kedua tangannya.


" Suami-ku Sayang.... Makasih ya, udah jadi hadiah terindah, di hari ulang tahun Mumum. Emmmuaaahhh... " Memberikan kecupan di bibir Zen.


Oh iya, hadiahnya!


Saking asyiknya, Zen sampai lupa jika sekarang sudah lewat tengah malam. Artinya, usia Nana sekarang genap duapuluh tahun.

__ADS_1


Zen tidak lupa, jika hari pernikahannya hanya selisih satu hari dengan hari ulang tahun Nana. Maka dari itu, Ia sengaja menyiapkan sebuah hadiah spesial untuk istri tercintanya dari jauh-jauh hari.


__ADS_2