Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Berpisah Itu Menyakitkan


__ADS_3

Perut sudah terasa kenyang dengan makanan gratis dari pemilik angkringan. Karena Ia menolak uang yang diberikan oleh Zen, dengan alasan dapat bertemu lagi dengan sahabat lamanya sudah seperti mendapatkan bayaran mahal untuknya. Mungkin terdengar agak berlebihan, namun nyatanya rasa persahabatan yang seperti itu masih dapat kita jumpai hingga saat ini.


Tanggung jawab untuk mengantarkan Nana ke rumah kost dengan aman sudah selesai. Tiba saatnya untuk Zen pulang kerumah, yang berada jauh dari tempat tinggal Nana saat ini.


Cerita kebersamaannya dengan Nana yang sudah lebih dari empat episode ini, dirasa sudah cukup menjadi bekal untuk Zen bawa pulang. Bekal yang akan mengisi ulang semangatnya dalam menjalani kesendiriannya di kampung halaman.


" Assalamu'alaikum, Sayang-ku. " Ucap Zen pada gerbang rumah kost Nana yang sudah tertutup rapat, sebelum benar-benar meninggalkannya.


Udara malam setelah turunnya hujan terasa menusuk hingga ke tulang, tidak begitu Zen hiraukan. Zen tetap melajukan sepeda motornya yang terasa hampa tanpa keberadaan Nana di atasnya. Namun kehampaan itu malah menjadikan perjalanan panjang ini semakin terasa berat untuk Zen.


Baru pisah sebentar sama kamu tapi rasanya udah kangen banget, Mum...


Akhirnya Zen merasakan rasa sakit yang tadi Nana rasakan disaat-saat terakhir kebersamaan mereka di depan gerbang rumah kost Nana.


***


" Alhamdulillah, kita udah sampai. " Zen mematikan deru mesin sepeda motornya.


Meski sudah tiba didepan rumah kost, Nana masih belum bergerak turun dari atas sana. Ia mencoba menahan hatinya yang tiba-tiba menerima guncangan hebat tanpa peringatan. Ia menitikkan air mata, sebagai tanda jika Ia tidak mampu menyelamatkan hatinya yang terlanjur porak-poranda.


" Mumum nggak turun nih? " Ucap Zen dengan nada menggoda. Tanpa mengetahui apa yang sudah terjadi di belakang.


Nana tidak menjawab, Ia masih belum bergeser sedikitpun dari posisinya.


Hikk... Sakit... Membekam mulut, takut jika suara tangisnya terdengar oleh Zen. Karena Ia sudah terlanjur janji untuk tidak menangis lagi.


" Mumum kenapa? " Zen ingin menoleh, melihat apa yang sudah terjadi dibelakangnya. Namun tiba-tiba Nana menjatuhkan kepala di punggungnya.


" Kalau nggak mau turun, langsung tak bawa pulang lho. Hehehe. "


Nana masih tidak bergeming. Padahal Nana yang biasanya, mendengar Zen berucap seperti itu pasti akan segera menjawab secepat kilat. Jadi sudah dipastikan jika Nana yang sekarang berada di atas sepeda motor Zen, sedang bermasalah.


" Kamu kenapa, Sayang-ku? "


Dengan suara yang sudah menjadi serak Nana menjawab, " Masih kangen... "

__ADS_1


Jujur dengan perasaannya. Malah membuat air mata Nana semakin deras mengalir.


Hati Zen terasa tergelitik oleh pernyataan Nana yang terlalu fulgar. Ia ingin tersenyum, tapi permasalahan ini tidak akan terselesaikan hanya dengan semanis apapun senyumannya.


Zen menarik tangan kiri Nana dengan tangan kirinya. Tangan yang tidak melakukan perlawanan itu Ia usap beberapa kali dengan ibu jari.


" Mumum-ku sayang... " Menghela nafas.


" Mamam juga masih kangen. Tapi sekarang udah malem dan Mumum harus istirahat. Mumum kan harus jaga kesehatan, biar bisa fokus belajarnya. Ingat lagi tujuan Mumum disini." Dengan kesabaran serta akal sehat yang penuh.


" Tapi hatiku rasanya sakit banget, Mam. Nggak pingin pisah sama Mamam. "


Belum pernah sebelumnya Nana mengalami perasaan ini. Ia sudah tidak dapat menahan sakitnya hati yang terasa teriris-iris karena kata perpisahan.


" Mamam juga tidak menginginkan adanya perpisahan seperti ini. Tapi mau gimana lagi? Keadaan kita saat ini tidak mendukung kita untuk bisa sama-sama terus, Mum. Kita masih memiliki banyak batasan yang harus dijaga."


Meski sudah diingatkan mengenai status juga batasan. Nana masih belum menemukan akal sehatnya yang entah terselip dimana. Ia masih berkubang dengan air mata.


" Ini cuma perpisahan sementara, Sayang. Bukan untuk selamanya. InsyaAllah, kita masih bisa ketemu lagi. " Lanjut Zen.


" Ya udah. Mumum maunya gimana? Mau ikut pulang? " Nana hanya menggeleng.


" Ya kalau nggak mau pulang jangan nangis lagi, Sayang-ku. " Zen mulai tersiksa sendiri dengan situasinya.


Nana menarik kepalanya yang sudah terlanjur merasa nyaman dipunggung Zen.


Zen menoleh pada Nana, untuk mengungkapkan ide gilanya, " Apa Mumum pingin nginep di hotel sama Mamam? "


" Nggak lah! "


Ini baru Munum-ku. Zen menunjukkan senyum kelegaan nya. Walau tadi Ia sempat merasa hawatir jika Nana justru nenyetujui ide gilanya. Apa jadinya kalau itu menjadi kenyataan.


" Ya udah ini udah turun. Sana Mamam, pulang. " Ucapnya setelah mau turun dari atas sepeda motor Zen dengan wajah sembabnya.


Meski masih ada perasaan sakit, Nana sudah dapat mengikhlaskan perpisahan sementaranya itu.

__ADS_1


" Hati-hati ya, Mam. " Nana menyalami tangan Zen seperti biasanya.


Dengan kedua tangannya, Zen mengangkat wajah Nana yang tertunduk lesu, kemudian menghapus sisa-sisa air mata yang masih tertinggal di pipi Nana. " Mandi pakek air hangat, terus istirahat ya. "


Nana mengangguk. Kemudian berjalan mendekati pintu gerbang tapi belum berniat untuk membukannya. Sedangkan Zen masih belum ingin beranjak sebelum melihat Nana masuk kedalam.


" Udah sana, Mamam pulang. Nanti kemaleman. " Siapa coba yang tadi mengulur waktu Zen.


" Mumum masuk dulu. "


" Ya nanti, nunggu Mamam jalan dulu. "


Perdebatan dimulai lagi.


" Aku nggak akan sanggup kalau harus melihat Mumum memandangi kepergianku. "


" Aku juga nggak tega kalau harus ninggalin Mamam didepan gerbang sendirian. "


" Kita suit yuk, yang kalah yang pergi duluan. " Akhirnya penyelesaian datang juga dari Zen.


" Aku masuk dulu ya, Mam? Hati-hati dijalan. " Dengan berat hati Nana melambaikan tangannya.


Kali ini Nana harus mengakui kekalahannya. Karena dia kalah suit dari Zen setelah beberapa kali di ulang. Dan Ia pun masuk kedalam, meninggalkan Zen diluar gerbang sendirian.


Zen tersenyum licik saat melihat Nana menghilang dari hadapannya. Karena dia baru saja berbuat curang terhadap Nana dengan trik suitnya agak lambat dari Nana.


Maaf ya, Mum. Aku juga nggak bisa pergi begitu saja ninggalin kamu.


Begitupun dengan Nana, Ia masih berdiri di balik gerbang, menunggu kepergian Zen dengan air mata yang lagi-lagi membasah sampai pipi.


Wa'alaikum salam, Mam... Menjawab salam Zen dalam batin.


Badannya Nana melemas hingga terduduk dipelataran, mendengar deru mesin sepeda motor Zen yang semakin samar dalam pendengarannya.


Ini cuma sementara, Na! Kamu harus kuat. Mencoba tegar dengan kekuatannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2