
Derai tawa yang harmonis layaknya satu keluarga tercipta saat Rif'an memeragakan tangisan Nana yang menahan rasa sakit dihari kecelakaannya.
" Lha emang beneran sakit lho, Dek." Sanggah Nana menutupi rasa malu didepan para tamunya.
" Lho ada tamu ternyata." Ayah yang masih membawa lipatan sajadah dipundak karna baru pulang dari mushola. Entah habis nyangkut dimana, sampai begitu telat sampai dirumah.
" Nggeh Pakde, baru sempat jenguk mbak Nana ini lho." Jawab kakak perempuan Zen nomor dua saat bersalaman.
" Padahal udah janjian mau jenguk pas dirumah sakit, malah Bapak tangannya sakit." Imbuh kakak perempuan pertama Zen.
Ayah Nana langsung ikut duduk bersama tamunya tanpa menyimpan terlebih dahulu sajadah yang sepertinya sudah melekat nyaman dipundaknya. Baru saja duduk dan meletakan sajadah diatas kasur yang berada dibelakangnya, Ayah dikejutkan oleh tindakan Ayah Zen.
" Kang, Ini mohon diterima ya buat genduk Nana." Menyodorkan benda berwarna pink cerah membentuk hati.
Uhukk... Nana terbatuk. Dadanya serasa tertohok begitu dalam saat mendengar namanya disebut oleh Ayah Zen.
Ada apa ini ? Kok tiba-tiba jadi merinding. Nana.
__ADS_1
" Ini apa, Dek?" Ibu Nana.
" Lha ini apa?" Ayah Nana.
Sama-sama meminta penjelasan atas benda yang kini sudah beralih ketangan ayah Nana.
" Ini kenang-kenangan dari kenang Zen untuk genduk Nana, Kang Mbakyu. Jadikan ini sebagai simbol ikatan mereka berdua."
Tunangan ???
Cesshhhh... alih-alih dadanya berdebar karna bahagia, nyawa Nana malah seperti melepaskan diri dari badan. Meninggalkan tanggung jawab moral yang sedang Ia emban.
Ayah dan Ibu menatap kearah Nana secara bersamaan. Melihat tubuh yang tertunduk lesu, hati seorang Ibu bergejolak. Jika Ia dan suami menerima benda pemberian Ayah Zen, yang ada hanya akan menambah beban pada Nana. Masih teringat jelas dalam benak Ibu, bagaimana Nana menolak hubungan ini. Hingga akhirnya dia pasrah menerima, itupun dengan sebuah persyaratan.
" Dek, dengan omongan aja kami sudah cukup. Nggak perlu simbol atau apapun. Kakangmu sama Mbakyu nggak masalah, toh mereka nikahnya masih lama. Masih hatus nunggu Nana lulus kuliah."
" Ini, disimpan dulu aja. Yang penting kita bisa pegang omongan masing masing. Genduk Nana menerima kenang Zen dan kenang Zen mau bersabar menunggu genduk Nana menyelesaikan kuliahnya." Ayah menimpali.
__ADS_1
" Nggak Kang... tolong sampean saja yang simpan." Ayah Zen mendorong kembali benda menyedihkan yang disodorkan ayah Nana kepadanya.
Bagaimana tidak menyedihkan, benda yang berisikan perhiasan itu dilirik pun tidak oleh Nana. Sudah tidak dilirik, malah menjadi bahan lempar-lemparan oleh kedua ketua kubu.
" Udah Pakde terima aja. Biar jadi kemantapan buat Bapak." Usul kakak kedua Zen yang terkenal cerewet.
" Iya Kang tolong diterima. Biar yang ngasih hatinya juga lega." Imbuh Ibu Zen sambil tertawa.
" Ya sudah, ini tak terima ya." Nana menoleh pada Ayah, lalu menunduk kembali. " Tapi tolong sampaikan pada Zen agar bersabar nunggu Nana menyelesaikan kuliahnya."
Ayah Zen mengangguk, " Iya Kang."
" Eh Lupa ! Ini dari mas Zen, Mbak." Rif'an mengambil bungkusan plastik besar yang berada disampingnya. Diletakkannya dengan hati-hati dihadapan Nana.
Apaan lagi ini? Menatap Rif'an, meminta penjelasan.
" Jangan dibanting lho, Mbak..." Ucapan Rif'an masih belum memberi kejelasan apapun atas pertanyaan Nana. Jelas saja, Rif'an kan tidak memiliki darah keturunan dukun yang mampu menebak isi hati seseorang.
__ADS_1
Nana menerima bungkusan itu dengan rasa terimakasih, seraya memberikan senyuman sebagai tip untuk jasa kurir yang sudah menghantarkan padanya, barang titipan dari Zen itu.