Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Tisu Gulung


__ADS_3

Perut Nana sudah terasa terguncang, saat sepeda motor Zen mulai menyusuri jalan terjal menanjak yang diimbangi dengan banyak kelokan. Belum lagi udara khas lereng pegunungan yang langsung menusuk di setiap inci bagian tubuhnya.


Sesampainya di parkiran, seakan sudah di komando Nana yang baru turun dari sepeda motor langsung memuntahkan makan siangnya.


" Hoekkkk! "


" Mumum... " Buru-buru Zen memegangi tubuh Nana yang terlihat lemas tak berdaya.


" Mumum kenapa? "


" Nggak kenapa-napa, Mam. " Ucap Nana malu.


Karna dinginnya udara yang menerpa, sudah mengalahkan semangatnha yang membara saat mengetahui bahwa Zen akan membawanya ke tempat wisata alam.


" Mamam, tolong ambilkan tisu di tasnya Mumum. "


Hanya melihat keadaan Nana yang seperti ini, sudah cukup membuat Zen bersedih hati. Matanya tidak dapat menemukan tisu yang sebenatnya terlihat jelas, di bagian samping tas punggung Nana. Ia malah membuka resleting tas dan merogohkan tangannya ke dalam untuk mencari keberadaan tisu.


Ini apa? Zen mengeluarkan gulungan kecil berwarna pink, yang tadinya ia kira adalah tisu gulung.


Deg. Karna rasa penasaran yang tak tertahan, tangannya diam-diam mengurai gulungan yang ternyata adalah segitiga pengaman, dengan hiasan pita di bagian karet pinggangnya. Sebuah pemandangan langka dan ajaib, karna mampu merubah wajah tegang Zen menjadi wajah merona dalam sekejap mata.


" Mamam lama banget sih! " Nana melepaskan tali tas yang melingkar di bahunya.

__ADS_1


Saat meraih tisu, Nana mendapati tasnya menganga lebar. Tanpa berfikir apapun, dengan cepat Nana merubah pandangannya ke arah Zen yang tengah bingung harus bagaimana bersikap sekarang.


" Mamam!!! " Nana merebut si pink dari tangan Zen. " Dasar cowok celamitan!" Sengak Nana dengan rona merah di pipinya


Rasanya Nana ingin lari saja dari kenyataan ini. Tapi ia hanya bisa memalingkan wajah malunya agar tidak terlihat oleh Zen.


" Mamam nggak sengaja. Mamam kira tadi itu tisu gulung, makanya Mamam ambil. " Begitu polos Zen menjelaskan pada Nana.


" Nggak! Nggak! Mumum nggak percaya. Emangnya ada toh, tisu gulung yang ukurannya segitu? "


Bagi Nana itu hanya alasan Zen yang sangat tidak dapat di nalar oleh otaknya, meski Zen sudah memberitahukan kebenarannya.


Emangnya ada ya tisu gulung warna pink? Karna kalaupun memang beneran ada, Nana ingin sekali membelinya.


Di atas gardu pandang, area camping yang berada di ketinggian 1.300 meter diatas permukaan laut, Nana dapat menyaksikan secara langsung keindahan gunung merbabu dan gunung-gunung lainnya yang tidak ia kenali satu persatu namanya. Tapi tetap bisa memanjakan pandangan mata indahnya.


" Mumum kok nangis. Kenapa? " Zen yang berada dibelakang Nana, sekilas melihat air mata di pipi Nana.


" Mumum terharu... pemandangannya cantik banget. " Nana mengusap air matanya yang tidak dapat ia kontrol. Terus mengalir dengan sendirinya.


Sebelum pergi ke fasilitas gardu pandang, Nana dan Zen sudah menyelesaikan masalah si pink, panorama gunung terbalik yang sempat menyulut konflik batin diantara mereka.


" Mumum suka? " Nana mengangguk.

__ADS_1


" Suka banget, apalagi udaranya. Syueegerrrr tenan. "


Kok Mamam bisa tau tempat ini ya? Jangan-jangan... Nana menaruh curiga pada Zen. Jika ternyata ia bukan satu-satunya cewek yang pernah di ajaknya ke tempat ini.


" Sebelum ini Mamam udah pernah kesini toh? " Ucap Nana sinis, karna sudah terperangkap dengan rasa curiganya sendiri.


" Belum. Makanya Mamam ngajak Mumum kesini buat pembuktian. " Sambil menggenggam tangan Nana yang masih berbalut kaos tangan.


" Pembuktian apa? "


" Pembuktian, kalau... tidak ada keindahan yang dapat menandingi keindahan yang ada di hadapan Mamam ini, yang bisa membuat Mamam jatuh hati, bahkan sebelum kita bertemu. "


Eh, kok kayak pernah mengalami kejadian ini ya? Merasa dejavu. Karna Zen memang pernah mengalaminya, tapi hanya di dalam mimpi (episode mimpi basah).


" Alah gombal! " Meski tau itu hanyalah gombalan, tapi tetap saja Nana merasa sangat senang. " Mamam kursus dimana sih, kok sekarang pintar banget ngegombalnya? "


" Nggak perlu belajar apalagi kursus untuk memuji Mumum. Karna Mamam hanya mengucapkan apa yang Mamam lihat di diri Mumum. "


" Mamam!! Cepetan lamar aku. " Teriak Nana sekencang-kencangnya.


" Mumum! "


Zen celingukan melihat ke sekitar. Jangan samapai teriakan Nana mengundang perhatian orang di sekitar. Tapi sudah terlambat, orang-orang dengan sepasang telinga di kepala mereka, terlanjur menyorotkan pandangan mata padanya dan Nana.

__ADS_1


__ADS_2