Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Aku Takut... by : Nana


__ADS_3

Seperti biasa, Nana terbangun sebelum adzan subuh menggema sampai didalam ruang kamar kostnya. Nana mencari keberadaan ponsel miliknya, yang entah lari kemana.


Dalam keadaan kesadaran yang belum pulih, Nana meraba-raba lantai yang biasa Ia meletakan ponsel saat tidur. Masih belum di jumpai apa yang dia cari. Dia paksakan tubuhnya yang terasa berat untuk bangun, bergerak membereskan buku serta makalah yang Ia pake untuknya belajar semalam.


Plukk. Ponsel terjatuh saat ia mengangkat salah satu buku.


" Owalah.... Lupa aku ! Semalam kan emang tak selipin dibuku ini. Hehehe." Tersenyum mengakui kebodohannya.


" Heh hemmm." Suara menguap Nana tertahan bibirnya yang mengatup.


" Jam empat kurang." Melihat layar ponsel.


Nana merebahkan diri kembali. Sesaat sebelum meletakan ponselnya, Ia teringat percakapannya semalam dengan Zen. Dia membuka kotak pesan dalam ponsel, melihat bukti percakapan yang berbaris rapi didalam layar.


" Hati-hati melarikan dirinya, jangan sampai jatuh apalagi terluka. Hehhe. Jaga kesehatan dan semangat belajarnya. Tapi tidurnya jangan kemalaman ya ? Sampai ketemu lagi. Assalamu'alaikum." Ia membaca pesan terakhir dari Zen yang sengaja Ia abaikan semalam.


*Kenapa sih perjaka tua itu harus seperhatian ini. Nanti kalau aku jatuh cinta beneran gimana coba*!


Wahai Nana, apakah engkau lupa ? Kalau kakak kamu Sholeh usianya lebih tua dari Zen. Kalau kau sebut Zen perjaka tua lalu kau sebut apa kakak kamu itu? Bagian hati paling kecil Nana memprotes ucapan dalam pikirannya sendiri.


" Hehehe." Iya ya? Jadi keinget mas Sholeh.


Air mata Nana menetes kesamping mengikuti posisinya yang sedang berbaring menghadap kesisi kanan. Ia perhatikan lagi pesan terakhir dari Zen.


Dek...


Aku memang sudah menerimamu sebagai calon suamiku.


Tapi...


Jangan biarkan hatiku jatuh cinta secepat ini,


Padamu, wahai calon imamku.

__ADS_1


Aku takut...


Benar-benar takut ! Hati Nana terasa bergetar, air matanya bercucuran tidak terbendung lagi.


Mungkin kamu belum pernah jatuh cinta sebelumnya, Jadi engkau juga tidak tau bagaimana rasa sakitnya.


Rasa sakit karna perpisah sebelumnya,


Masih membekas dihati sampai kini.


Lalu bagaimana aku menghadapi kehidupanku nanti,


Jikalau engkau yang akan menjadi calon imamku,


Menjauh dariku, meninggalkan aku,


Disaat hati ini telah mengukir namamu sebagai pemiliknya.


Aku takut....


Ku mohon hentikan !


Untuk memberiku perhatikan,


Lebih dari ini.


Aku takut...


Antara aku dan kamu hanyalah kisah yang akan menghilang.


Karna takdir tak akan biarkan kita bersama.


Karna takdir tak akan izinkan kita menyatu,

__ADS_1


Dalam indahnya mahligai rumah tangga,


Yang ku impikan. Nana mulai terdengar sesenggukan.


Bukan berarti aku tidak yakin akan dirimu.


Aku hanyalah seorang wanita biasa,


Yang juga tidak punya kuasa,


Untuk membuatmu bertahan dalam penantian ini.


Aku takut....


" Na... kamu nangis ? Kenapa?" Tia terbangun mendengar suara sesenggukan Nana.


" Aku nggak nangis kok mbak...! " Nana berbohong.


" Kamu nggak sholat? Kan udah adzan." Tia turun dari ranjang, ingin pergi ke kamar mandi.


" Bentar lagi. Nunggu adzannya selesai, Mbak..." Nana menyembunyikan wajahnya dibawah guling, agar matanya yang sembab tidak terlihat oleh Tia.


Aku takut...


Kelak engkau meninggalkanku.


Tanpa engkau tau rasa sakitku,


Karna kehilanganmu.


Puisi by : Nalal Muna.


Setelah menyelesaikan puisi yang tidak jelas maksud dan tujuan, Nana menghapus air mata buayanya.

__ADS_1


" Enggggggmmmh." Menggeliat membuat nyaman sekujur tubuh yang terlihat capek. Mungkin karna menciptakan puisi secara dadakan, membuat letih jiwa dan raganya.


" Sholat ah..." Nana bangun dengan semangat untuk menyambut pagi. Meninggalkan puisi yang terinspirasi dari pesan Zen yang terakhir Ia baca. Puisi yang mungkin tidak akan dia ingat lagi tiap baitnya.


__ADS_2