
Nana sedang berdiri diantara rak-rak buku perpustakaan, saat ponsel yang ia titipkan pada Naila bergetar. Karna sedang digunakan Naila, pesan yang baru saja masuk itu, tidak sengaja terbuka olehnya. Yang ternyata, merupakan pesan dari Zen.
" Mumum-ku, lagi sibuk apa? Mamam kangen. "
Hehehe. Kerjain, ahh... Mumpung Nana masih sibuk nyari buku.
" Iya nih lagi sibuk. Tapi sibuk mikirin Mamam. " Naila cekikikan, saat menambahkan banyak emoticon penuh cinta dalam pesannya.
" Ternyata berbalas pesan sama pacar orang itu, bisa seasik ini. Hehehe. Pantas aja, kalau ada barisan para pelakor di luaran sana. " Pasti ini nih penyebabnya. Naila menganalisa.
" Hei! Dari tadi lho aku lihatin Mbak Nay, cekikikan terus. " Nana memuncul dari belakang Naila.
Iya, Naila terlalu asik mentertawakan teori yang baru saja ia temukan, secara tidak sengaja itu. Asal-muasal bibit pelakor, begitu ia memberikan nama pada teorinya.
" Ini lho, kamu di cariin Mas Zen. " Naila menyerahkan ponsel pada Nana.
Dreett. Masih dalam mode getar, sebuah pesan masuk lagi.
" Sibuk mikirin Mamam, apa sibuk mikirin acara pernikahan kita? " Zen menambahkan emoticon manyun.
Beberapa hari belakangan ini, Ia merasa kurang diperhatikan oleh Nana. Saat ia telfon, pasti nomor Nana sedang sibuk. Saat ditanya, Nana pasti memberikan alasan yang sama, yakni sedang membahas mengenai acara pernikahan dengan keluarganya.
Hah? Hampir saja!
Iya bersyukur, bahwa Naila tidak sempat membaca pesan ini. Ia masih ingin merahasiakan mengenai acara pernikahannya dari naila dan juga teman-temannya di rumah kost. Karna ia ingin pernikahannya ini akan menjadi kejutan yang sangat mengemparkan untuk mereka nantinya.
" Hist, dasar ngambekan! " Ucap Nana sambil mengetikan pesan untuk Zen.
***
" Sibuk mikirin bagaimana caranya, setelah nikah nanti, Mumum bisa menjadi istri yang bisa memuaskan Mamam-ku, lahir maupun batin. " Pesan Nana masuk.
Aaaaa...
" Paling bisa ya, bikin Mamam-nya kehilangan kata-kata. " Zen senyum-senyum. Ia benar-benar tidak tau bagaimana membalas pesan dari Nana itu.
__ADS_1
Zen merebahkan dirinya pada sandaran jok mobil, yang sedang terparkir di area pasar. Tidak lama kemudian, ia kembali menegakkan posisi duduknya. Ia teringat, Rif'an memintanya untuk membelikan cat dan perlengkapan lainnya. Untuk mengecat ulang, rumah.
" Mas, nanti kalau ada ibu-ibu yang mau buka mobil itu, tolong bilang ya, kalau aku lagi ke toko bangunan yang di depan itu. " Saat keluar dari mobil, Zen menitipkan pesan pada penjaga parkiran. Ia hawatir jika nanti ibu akan mencarinya.
Setelah menyebutkan warna cat dan kebutuhan lainnya yang akan dibeli pada karyawan toko, tiba-tiba ia teringat dengan Nana. Kemudian ia pun menghubunginya.
" Assalamu'alaikum, Mamam-ku. " Nana menyahut duluan.
" Wa'alaikum salam. Mumum lho, nakal. "
" Emang Mumum ngapaincoba? Nggrayangi badan Mamam aja nggak pernah, kok bisa-bisa dibilang nakal! "
" Tuh kan, tuh kan. Malah mancing-mancing. "
" Emang bagian mana sih, yang terpancing sama Mumum? Padahal Mumum nggak punya umpan lho. "
" Nggak punya? Mamam kasih tau ya, seluruh tubuh Mumum itu mengandung umpan. "
Cukup lama Nana terdiam, ia berfikir sepertinya kata-kata Zen barusan, tidak terasa asing baginya.
Zen tertawa. mendengar Nana sampai melantunkan lagu itu untuk meledekinya.
" Mas, ini ada tambahan lagi nggak? " Karyawan di toko bangunan, menanyai Zen.
" Mamam lagi dimana? "
" Eh iya! Bentar ya, Mas. " Zen baru ingat tujuan awalnya, kenapa ia menelfon Nana.
" Mamam lagi dipasar. Nganter ibu belanja. Mum, warna kesukaan Mumum apa aja? "
" Pink coral. Pink rose. Pink bubble... "
" Selain pink, Mum! "
Cuma warna pink aja, bisa bayak macemnya gitu! Namanya susah-susah banget lagi.
__ADS_1
" Apa ya, Mam? " Nana berfikir. " Magenta, Mam. Mumum suka banget itu. "
Itu warna apalagi sih!
" Mas, sampean punya cat warna magrenta? Eh, magenta ding, Mas. " Zen menjauhkan ponselnya, saat berbicara pada karyawan toko.
" Bentar ya, Mas. Coba tak tanyain sama bosnya. Soalnya namanya kayak asing banget. "
Tukang bangunan aja bilangnya asing, Mum. Apalagi Mamam-mu ini, Mana ngerti!
" Mam. Mamam lagi ngapain sih? " Nana mulai penasaran dengan apa yang sedang dilakukan Zen sekarang.
" Sabar sayangku. Nanti juga tau! "
" Mas, warna itu katane harus pake mesin tinting. Disini belum ada. Coba ke toko bangunan yang lebih besar di daerah kota. "
***
" Alhamdulillah, selesai juga! " Ucap Zen, sambil memperhatikan setiap sudut kamarnya. " Semoga Mumum-ku suka. "
Zen ingin memastikan lagi, kalau pekerjaannya tidak akan kalah dengan tukang bayaran yang akan mengecat rumahnya nanti.
Tembok yang sejal awal berdiri hanya berwarna putih polos, demi menyambut datangnya penghuni baru yang sebentar lagi akan menempati kamar ini bersamannya.
Ia memolesnya dengan warna hijau muda, warna yang paling masuk akal untuknya, diantara warna-warna yang disebutkan Nana tadi siang.
Tadi siang.
" Emang warna magenta itu yang kayak apa sih, Mas? Kok harus pake mesin? " Tanya Zen pada karyawan di toko bangunan.
" Warna magenta itu kayak gini. " Bos dari toko bangunan memperlihatkan sebuah warna dari ponselnya.
" Owalah. Ternyata warna pink juga toh! "
Setelah mengetahui seperti apa warna magenta, Zen meminta warna lain pada Nana. Dan melarangnya menggunakan bahasa asing dalam menyebutkan warnanya. Akhirnya, tercetus warna hijau rumput dari mulut Nana, yang merasa sedang kena hukuman, menyebutkan segala macam warna yang ada dimuka bumi ini.
__ADS_1