Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Menuju Hari 'H'


__ADS_3

Sekitar dua puluh pemuda anggota karang taruna berkumpul di depan rumah keluarga Zen. Bahu membahu menyelesaikan pekerjaan mereka yang menjadi tertunda karna hujan deras bercampur angin kencang, mulai sore hari hingga subuh menjelang.


Karna akan segera digunakan untuk sima'an Al-Qur'an, beberapa orang dari mereka memanjat ragangan penyangga box-box soundsystem yang sempat mereka pasang sebelum hujan mengguyur, untuk membuka penutup pelindungnya. Dan beberapa lagi, sedang bersiap untuk menghidupkan mesin diesel yang berfungsi sebagai pembangkit listrik dan lampu-lampu penerangan nantinya. Dan sisanya, bekerja sama merangkai besi-besi tarup atau tenda yang akan didirikan. Sebagai tanda, akan di adakannya sebuah hajatan besar disana.


Mereka terlihat begitu cekatan. Karna sudah lebih dari dua tahun mereka menjalankan jasa penyewaan ini. Zen sendirilah yang mengusulkan usaha ini pada awal-awal ia menjabat sebagai ketua karang taruna. Dengan tujuan, agar organisasi mereka lebih mandiri, karna bisa menghasilkan dana operasional sendiri.


Hari sudah semakin siang, namun matahari masih malu-malu menampakkan sinarnya.


Melihat mobil yang berhenti di depan rumah, salah satu dari mereka berseru, " Mat! Setelin musik temu manten, Mat. "


Yang lainnya ikut bersorak memberikan dukungannya. Karna mereka tau, bahwa Zen lah yang tadi pagi keluar menggunakan mobil itu.


Mamat yang dasarnya memang sudah nyeleneh, langsung saja menuruti keinginan teman-temannya. Mumpung sima'an Al-Qur'annya belum di mulai.


Zen kaget, Mamat benar-benar menyetel musik itu. Ia yang tadinya sudah menarik hendel pintu, menjadi urung untuk keluar dari mobil. Karna Ia tidak ingin senyum malu-malunya dilihat oleh teman-temannya. Bisa-bisa mereka akan tambah gencar untuk menggodanya.


" Waawww! " Sorak mereka saat melihat Zen keluar dari mobil. " Silau men... "


Suiittt... Suuuiittt... suara siulan bersaut-sautan. Membuat Zen gagal untuk mengendalikan senyum diwajahnya.


" Kerja-kerja! " Ucap Zen malu-malu sebelum memasuki rumah.


Didalam rumahpun, terjadi hal yang sama. Kakak-kakak perempuan Zen, Aisyah dan anak gadis Pak Kiyai yang dulu pernah ditawarkan padanya untuk dinikahi menatap takjub pada penampilan barunya. Penampilan dengan potongan rambut baru. Pendek dan rapih, yang biasa orang-orang sebut dengan potongan nganten.

__ADS_1


" MasyaAllah Mbah Zen. Gantenge toh... ! " Seru Aisyah yang kini sudah memiliki anak.


Mendengar pujian Aisyah yang terdengar perez itu, membuat Zen semakin malu. Sedangkan kedua kakak perempuannya dan anak Pak Kiyai yang sedang bersiap untuk mulai sima'an Al-Qur'an itu ikut malu sendiri melihat tingkat Zen yang menjadi kikuk. Begitupun dengan Ayah yang duduk di ruang tamu, senyum-senyum mengamati tingkah Zen sejak dia berada di depan rumah tadi.


Untuk menghindari orang-orang. Zen langsung masuk ke dalam kamarnya.


" Telfon Mumum, Ah! " Melakukan panggilan vidio, untuk menunjukkan potongan rambut barunya pada Nana. Tapi sayangnya Nana menolak panggilannya itu.


Mumum kenapa sih? Di telefon tak di angkat, di SMS tak di balas. Benar-benar menguji perasaan Zen yang sedang merindu.


" Oeeeekkkk. Oeeeekkkk. " Bayi kecil Aisyah yang sedang di tidurkan di kamar Zen menanis. Dan Zen mencoba menenangkan bayi itu dengan cara menepuk-nepuk pelan tubuhnya.


" Sayang, ibu disini. " Aisyah masuk kedalam kamar. " Kenapa nangis? " Tanyanya pada bayi yang baru berusia dua bulan itu, saat mengangkatnya.


Tiba-tiba muncul ide dikepala Zen saat melihat Aisyah dan bayinya.


***


Masih di dalam kamar berbalut selimut, Nana membuka pesan chat yang baru saja masuk.


" Mbah Nana, lagi ngapain? " Kalimat yang menyertai foto anak Aisyah yang sudah selesai menangis.


" Ya Allah, aku udah jadi embah toh! " Ia masih tidak percaya jika dirinya audah memiliki cucu.

__ADS_1


Walau ia tidak menikah dengan Zen pun, Nana akan tetap di panggil Mbah oleh anaknya Aisyah. Karna hubungan keluarga sebelumnya yang sudah mengikat.


" Gemesin banget sih anaknya Aisyah. " Nana tersenyum sambil mengetikan pesan balasan. " Mbah lagi tiduran dikamar, Dek. Kamu habis nangis ya? Kenapa? "


" Lho, emang Aisyah nggak ikut sima'an Al-Qur'an ya? " Nana baru sadar, saat pesan balasan dari nomor Aisyah masuk.


" Habis dicubitin sama Mbak Zen aku, Mbah. Mbah Zen-nya nakal. "


Nana tertawa. Ada-ada aja nih Aisyah!


" Emm, kasihan.... Main sini, temenin Mbah. Biar Mbah-nya cepat sembuh. "


Tidak lama kemudian, ada pesan beruntun yang masuk ke ponsel Nana.


" Mumum kenapa? "


" Mumum sakit tah? "


" Mumum, Mamam kangen banget. Kenapa nggak mau angkat telfon dari Mamam? "


" Mumum sakit apa? "


" Hmmm. Tuh, kan! " Sekarang Nana tau, siapa sebenarnya yang berada di balik ponsel Aisyah.

__ADS_1


Nana mengabaikan pesan-pesan itu. Karna ia ingin menghindari Zen sebisa mungkin.


__ADS_2