Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Pecel Terong


__ADS_3

Menangkupkan selimut pada tubuh bagian bawahnya, Zen pergi menuruni ranjang. Ia ingin mencari keberadaan ransel yang menyimpan baju ganti serta hadiah yang ia persiapkan untuk Nana.


" Mamam! Selimutnya! " Nana mempertahan ujung selimut sekuat tenaga.


Dengan kondisi lampu kamar yang masih menyala terang, ia merasa malu dan tidak sanggup untuk melihat kondisi tubuh telanjangnya saat ini. Terutama, setelah momen-momen mendebarkan yang baru saja ia lewati bersama Zen. Yang mungkin, menyisakan beberapa tanda bukti pada tubuh mulusnya.


" Bentar, Mum! " Tidak mau kalah dengan Nana. Zen juga mempertahankan satu-satunya penutup di tubuhnya. " Mamam pinjam sebentar, Sayang... "


Pluk. Sebuah benda mendarat tepat di atas kepala Zen. Benda yang sengaja dilemparkan oleh Nana untuk mengecoh. Agar Zen mau tidak mau akan melepaskan genggamannya pada selimut yang sedang ia rebut.


Dan benar saja. Zen berhasil masuk ke dalam perangkap Nana. Namun, di saat Zen menjembreng benda yang ia dapat dari atas kepalanya, Nana merasa begitu gugup sekligus malu.


" Ma...mam... " Merasa bersalah.


Nana berniat turun dari ranjang, dan memeluk Zen sebagai permintaan ma'afnya. Namun hal itu urung ia lakukan.


" Aaaaaaaaa!! Mamam, itu apaan?! " Nana menyembunyikan seluruh tubuhnya di dalam selimut. Sesuatu telah menodai penglihatannya.


" Mana, Sayang? " Celingukkan, mencari penyebab kehisterisan istrinya.


Nana berdebaran. Dengan jelas, ia menyaksikan sendiri kebangkitan dari se-onggok daging tanpa tulang.


" Itu lho yang di bawah Mamam! " Pandangan Zen langsung tertuju pada bagian bawahnya.


" Hah?! "


Ia tersenyum karna malu. Kenapa semudah itu nafsunya bisa terpancing.


Masa iya, cuma gara-gara lihat ini ! Zen meremas celana dalam Nana yang masih berada dalam genggaman tangannya.


Mungkin bukan sepotong kain itu yang menjadi penyebabnya. Namun karna sepotong ingatan mengenai rasa dari isi yang dibalut oleh kain tersebut.


Setelah mendapatkan apa yang ia cari di dalam ranselnya, Zen kembali menaiki tempat tidur. Memasukkan tubuhnya ke dalam selimut yang sama dengan yang digunakan Nana untuk bersembunyi.


" Bukannya tanggungjawab, malah di tinggal nyumpet! "


" Aaww! " Nana menjerit karna perbuatan Zen yang dengan sembarangan meremas dadanya. " Mumum takut, Sayang... "


" Takut kenapa??? "


" Takut, kalau-kalau adek-nya Mamam merenggut keperawanan Mumum lagi! " Jawab Nana sambil nyungir.


Adek? Zen merasa lucu dengan sebutan Nana untuk alat vitalnya.


" Keperawanan mana lagi yang Mumum maksud? Hem? "


" Awww! " Bukan karna remasan, Namun karna colekan tangan Zen, pada tempat Nana menyimpan keperawanan.


Menghadap pada Zen, Nana mulai melakukan pengamatan secara seksama pada wajah suami-nya.


" Ternyata wajah-nya Mamam, benar-benar menipu ya? " Zen menaikkan alisnya karna keheranan. " Kelihatannya sih pendiam, tapi ternyata... "


" Menghanyutkan? " Sahut Zen cepat.

__ADS_1


" Bukan! " Sambil mencubit gemas kedua pipi Zen. " Ternyata, nakal banget! "


Tidak terima disebut nakal, Zen memberikan klarifikasi.


" Itu namanya bukan nakal, tapi kreatif Sayang-ku... " Mencium kening Nana yang terdiam. " Barokallah fi umrik nggih, istrinya Mamam. "


" Ini apa, Mam? " Nana menerima gulungan kertas yang di jepit dengan karet gelang.


Apa sih? Surat cinta ya? Nana berharap.


" Baca aja. Itu hadiah dari Mamam. "


Pelan-pelan Nana membuka gulungan, yang ternyata berisi dua lembar. Yang bisa ia lihat pertama kali di kertas, adalah sebuah logo berwarna hijau, milik dinas Kementrian Agama.


" Hah!? "


Nana tidak tau kenapa tiba-tiba ada air yang mengalir dari pelupuk matanya tanpa permisi.


" Sayang... " Nana menatap wajah Zen. Ia merasa tidak pantas untuk menerima hadiah itu.


Mahar dengan mata uang Real memang ide dari Nana. Dengan sebuah harapan, suatu saat nanti ia dan Zen dapat menunaikan ibadah haji bersama-sama. Tapi ia benar-benar tidak menyangka, jika Zen akan langsung mengabulkan harapannya.


Ya, bukan surat cinta yang di dapat Nana, melainkan Surat Pendaftaran Pergi Haji (SPPH) atas namanya lah yang diberikan oleh Zen, di dua perayaan penting dalam hidupnya. Hari pernikahan dan hari ulang tahun yang hanya selisih satu hari saja.


" Ma'af ya, Mum. Mamam cuma mampu daftarin yang reguler, jadi berangkatnya masih lama banget. " Mencium telapak tangan Nana, yang tengah mengusap pipinya. " Mungkin saat itu tiba, anak kita udah genap sepuluh. "


" Sepuluh, Mam??? Bentar... bentar...! Mumum tak pingsan dulu. "


Sambil tersenyum, " Bilang aja, kalau pingin dikasih nafas buatan sama Mamam! "


" Nggak... nggak...! Pingsannya batal. Mumum mau bubuk. " Membelakangi Zen sambil berguman. " Enak aja! Kalau di atur kayak gitu sih, dia bisa menang banyak. "


***


Nana membuka mata. Ia merasa terganggu dengan suara bising yang berasal dari luar kamarnya. Ia masih mengantuk.


" Heh, jam sembilan! " Nana tidak percaya dengan apa yang dilihat oleh matanya.


Tadinya, ia mengira jika sekarang masih belum masuk waktu subuh. Karna ia tidak mendengar suara adzan sama sekali.


" Sayang..., bangun yuk... "


Di luar, langit sedang mendung. Membuat suasana di dalam kamar sang pengantin baru bertambah sejuk. Zen yang sebenarnya sudah terbangun sebelum Nana, menjadi malas untuk membuka matanya. Apalagi ia sudah melewatkan sholat subuhnya. Cukup memalukan, untuk hari pertamanya tinggal di rumah mertua.


Nana sempat menangkap senyum tipis di bibir Zen, saat ia menyedekahkan satu kecupan untuk membangunkan suami-nya.


Hem... Awas aja kamu, Mam! Nana sadar, jika Zen sedang pura-pura tidur.


Dengan pikiran jail, Nana mendekatkan wajahnya pada dada Zen. Dan mengecup put*ng-nya dengan keras.


" Mum... Engh... " Dengan kuat, Zen mendekap kepala Nana.


Nana yang tidak tau menahu, jika itu adalah 'tombol pintas' untuk mengaktifkan seluruh nafsu yang ada pada diri Zen, menjadi kaget.

__ADS_1


" Hiks. Nakal... " Zen mengendorkan dekapannya.


" Bukan nakal, tapi kreatif! " Menirukan ucapan Zen semalam. " Makanya, ayo bangun! "


Zen membiak selimutnya, " Nih, udah bangun! cepetan tanggungjawab! "


Nana membatu. Hanya bola matanya yang mampu bergerak kesana kemari. Antara malu dan penasaran, untuk menatap bagian tubuh Zen yang tengah mengacung diri sambil memamerkan urat-uratnya.


Wajah Nana terlihat memerah. Mungkin efek dari rasa panas di dalam tubuhnya yang sedang mengenang memori, bagaimana rasanya saat benda tumpul itu menerobos masuk dalam dirinya.


" Em... " Tak mampu berkata-kata.


Sedangkan Zen yang sudah tidak sabar menunggu, langsung menubruk tubuh Nana yang memang dari semalam belum mengenakan lagi bajunya. Bukan karna tidak sempat. Namun, karna dilarang oleh Zen yang ingin merabai tubuh Nana hingga tertidur.


" Mamam udah sekarat kayak gini, bukannya ditolongin malah di tinggal bengong. "


Emang sakit ya, kalau lagi tegang gitu? Nana bertanya-tanya.


" Mumum kan masih polos, Sayang... Jadi nggak mudeng gimana cara nolonginnya. " Ucap Nana manja. Sambil tangannya merabai setiap area di tubuh Zen.


" Engh... Sayang. " Lenguh Zen. Saat tangan nakal Nana mencubit dua gumpalan yang menojol di dadanya.


" Ini, yang dinamakan masih polos? "


" Kan emang polos. Soalnya lagi nggak pake baju. Nih lihat, polos kan? "


Seperti sedang menggoda, Nana mengangkat kedua tangan ke atas kepala. Memamerkan kepolosan tubuhnya pada Zen.


Cup. Mulut Zen mendarat di atas dada Nana.


" Ahhhh... "


Merasakan nikmat, tangan Nana mendekap kepala dan punggung Zen. Belajar dari pengalamannya yang pertama. Di pengalaman kedua ini, Nana terlihat lebih aktif memberikan perlawanannya. Hingga pergulatan yang terjadi diantara Zen dan dirinya lebih panas dari sebelumnya.


Tok... tok... tok... Seseorang mengetuk pintu kamar Nana.


" Na, Zen. Sarapan... "


Itu adalah suara Yuni, korban dari kegaduhan yang disebabkan oleh Nana dan Zen semalaman. Karna dia dan Firman lah yang semalam menempati kamar yang berada di sebelah kamar Nana.


Setelah dapat mengatur pernapasan, Nana menyahut, " Iya Mbak. Nanti. "


Karna ada hal yang lebih penting untuk mereka selesaikan sekarang. Yakni ronde tiga, di hari pertama, setelah sah menjadi pasangan suami istri.


Sambil mengaitkan tangannya pada leher Zen, Nana berbisik. " Soalnya, masih nunggu pecel 'terong-nya' mateng, Mbak. "


Sambil tersenyum Zen menjawab. " Mumum lebih suka pake santen yang kental apa yang encer, buat pecel terongnya? "


 


~ SELESAI ~


 

__ADS_1


__ADS_2