
Sejak bangun tidur Nana sudah menyiapkan baju yang akan Ia kenakan untuk pergi. Tentunnya setelah lama membola-balik pakaian dalam lemari. Karna memang dirumah tidak ada banyak baju untuk dipilih.
Mungkin karna bukan Hafid atau Firman yang akan pergi bersamanya, membuat Nana menjadi lebih memperhatiakan penampilannya kali ini.
Setelah mandi dan sarapan, Nana bersiap. Mengenakan celana jeans dipadukan dengan kaos panjang berwarna pink coral, bergambar "Hello Kitty" besar dibagian depannya. Kemudian berdandan natural dan yang tidak pernah ketinggalan mengenakan celak sebagai penghias mata cantiknya.
Nana memilih mengenakan kerudung pasmina berwarna senada dengan kaosya agar terlihat simpel. Bolak-balik Ia didepan cermin mematut diri. Membenarkan kerudung yang sama sekali tidak bermasalah.
" Assalamu'alaikum." Nana merdengar ucapan salam disaat Ia sedang memasukan barang-barang yang Ia butuhkan kedalam tas gendong kecil berwarna hitam, yang dulu Ia kenakan sewaktu perjalanan pulang dari Lampung.
" Wa'alaikum salam." Dengan penuh semangat Nana keluar dari kamar untuk menyambut seseorang yang datang.
" SubkhanAllah... cantiknya. Tak kirain tadi ada bidadari." Terus memandangi Nana yang berjalan mendekat, menyambut kedatangannya.
" Apasih !" Menutup mulut dengan punggung tangan, agar senyum dan pipi yang pasti memerah karna malu mendengar pujian Zen dapat tertutupi. " Udah sarapan?" Mencium tangan Zen.
__ADS_1
Hari ini mereka sudah janjian untuk pergi bersama. Namun bukan pergi untuk berkencan. Namun pergi ke rumah sakit, mengantarkan Nana untuk cek up.
" Kalaupun belum sarapan, bisa lihat senyum mbak Nana kayak gini aja rasanya udah kenyang."
" Itu namanya bukan kenyang tapi eneg !" Dasar... kesambet apa sih dia ! Kok jadi gombalin terus gini. Nana gemas, mencubit pinggang Zen dengan cubitan mesra. " Mau sarapan disini?" Tanyanya lagi.
" Emang mbak Nana belum sarapan?" Berjalan ke sofa untuk duduk.
" Udah. Tapi kalau sampean mau sarapan itu bareng Bapak sama Ibu dibelakang."
" Bentar, tak pamit dulu ya?"
Selesai berpamitan, Nana dan Zen keluar rumah diikuti dengan Ayah dan Ibu dibelakangnya. Nana agak penasaran kenapa ada mobil dihalaman rumahnya. Dan yang membuatnya kaget lagi saat Zen membuka pintu mobil itu, mengajaknya untuk masuk.
Memang sih semenjak kepergian Nana ke Lampung ada banyak sekali perubahan di kampung halamannya. Jalan utama masuk kampung memang sudah diperlebar meski masih belum di aspal. Namun jalan di kampung tetap sempit, jika harus bersimpangan hanya mampu memuat mobil dan motor.
__ADS_1
" Ini mobil dapat ngembat dari mana?" Tanya Nana setelah duduk didalam mobil, karna Ia tidak akan mempercayai kalau itu mobil milik Zen. Dia saja sudah sampai bersiap memakai celana jeans jika terpaksa menggunakan speda motor sport milik Zen.
Zen hanya tertawa, membiarkan Nana penasaran. Karna dia sedang fokus menyetir dijalan kampung yang ramai orang berjalan juga anak-anak kecil yang bermain di pinggir jalan, takut kalau-kalau ada yang nyelonong berlari kejalan.
Nana mamandangi Zen yang sedang fokus. Sepertinya ada yang beda dengan Zen yang dilihatnya semalam. Tapi apa ya? Nana masih memperhatikan, mencari tau jawabannya. Sedangkan Zen yang tau sedang di amati, menjadi malu-malu dan terkadang salah tingkah.
Deg. Ah ! Nana menemukan jawaban saat matanya beradu pandang dengan mata Zen, yang mengakibatkan debaran dalam hati pada keduanya.
Ternyata dia pake celak kayak aku... Nana menoleh kekaca pintu mobil sambil memegangi bibirnya. Seperti sedang membungkam, agar bibirnya tidak membuat pengakuan bahwa Ia menyukai Zen yang mengenakan celak seperti sekarang ini.
Tidak ingin bertemu pandang untuk kedua kali. Nana memaksakan matanya untuk melihat pemandangan diluar melalui kaca pintu, yang sebenarnya tidak menarik sama sekali. Karna yang di inginkan mata dan batinnya sekarang, yaitu memandangi Zen lagi.
" Kenapa berhenti?" Tanya Zen sambil melirik Nana.
" Apanya?" Ah, akhirnya bisa menatap Zen lagi.
__ADS_1
" Mandangin akunya." Sepontan Nana membuang muka. Ingin rasanya Ia membenturkan kepalanya di kaca. Karna membiarkan Zen membaca isi pikirannya.