Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Menunda


__ADS_3

Setelah menyerahkan hasil pemeriksaan kesehatan mereka kepada petugas KUA, Zen kembali melajukan kendarannya menuju ke sebuah bank, di area Demak kota.


Zen mengikuti langkah Pak satpam, memasukki sebuah ruangan bagian dalam sebuah bank. Meninggalkan Nana yang sedang tertunduk lesu di bangku panjang. Membaur bersama nasabah lain yang juga sedang duduk menunggu antrian.


" Nungguin lama ya? "


Tidak lama setelahnya, Zen datang dengan menebar senyuman. Nana bergeser, mempersilahkan Zen untuk duduk di sampingnya.


" Mamam udah selesai? " Harapan Nana.


" Belum. Masih harus nunggu antrian lagi. " Zen merasa tidak tega melihat ekspresi kekecewaan Nana. " Sabar ya, Sayang. Mumum-nya udah capek ya? " Ucap penuh perhatian.


Pasti Mumum masih kepikiran...


Nana tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ia sendiri tidak tau apa yang sedang ia rasakan saat ini. Capek kah, bingung kah atau yang lainnya. Yang pasti ia merasa tidak nyaman.


" Kalau Mamam? " Nana berusaha memulihkan semangat.


Ini adalah masa-masa penting yang tidak mungkin bisa ia dan Zen ulangi lagi. Jadi, ia harus bisa menyingkirkan segala sesuatu yang dapat merusak hari ini.


" Capek lah! " Jawab Zen jujur.


Hah? Tidak biasanya, Zen mau mengakui hal seperti itu saat sedang bersama Nana. Mungkin, ini karna ia merasa terlalu capek.


" Mau Mumum pijitin? "


" Boleh. " Zen mendekat. " Asal pijitnya, pijit plus-plus. " Bisiknya di telinga Nana. Yang langsung mendapat cubitan keras di paha sebagai jawaban dari Nana. " Aaww! Maksud Mamam, plusnya itu plus senyum, plus perhatian, plus kasih sayang dan sebagainya, Mum! "

__ADS_1


Biarpun sudah dijelaskan, Nana masih belum mau mengendorkan lirikan mautnya pada Zen.


" Mum. "


" Hem? "


" Mumum-ku? "


" Hem? Hem? "


Zen tertawa lega. Akhirnya Nana bisa kembali, menjadi Nana yang penuh ekspresi seperti ini. Karna ia sadar, semenjak keluar dari ruang laborat puskesmas, Nana terlihat lebih banyak diam. Seperti sedang menahan banyak beban di pikirannya.


" Mum, dengerin Mamam. " Memberikan pandangan serius pada Nana. " Kalau seumpama Mumum ingin menunda untuk memiliki anak, Mamam nggak keberatan kok. "


" Tapi, Mam... "


Nana menundukkan kepalanya. Itu juga yang sejak awal menjadi bahan pertimbangan Nana, untuk dapat segera memberikan keturunan, sekaligus sebagai tanda bukti rasa cintanya yang amat besar pada Zen. Tapi disisi lain, ia juga takut jika kehipuannya sebagai mahasiswi menjadi terbengkalai karna ia harus menjalani kehamilan yang tidak tau akan seperti apa, karna ia juga belum pernah mengalami hal itu sebelumnya.


" Tapi, baru membayangkan bagaimana repotnya Mumum menjalankan aktifitas kampus disaat Mumum tengah mengandung anaknya Mamam aja, rasanya Mamam nggak sanggup. " Dengan mata dan kepalanya sendiri, ia pernah menyaksikan susahnya seorang perempuan untuk duduk dan berdiri saat sedang hamil besar.


" Lagian, Mamam kan nggak mau jadi suami jahat, yang setiap harinya di nyanyiin lagu ku menangis sama istrinya, Mum! Baru denger istri orang yang nyanyiin itu aja Mamam udah gemes banget, apalagi istri Mamam sendiri. "


Awalnya Nana merasa terharu. Tapi, sesaat kemudian ia seperti di hempaskan ke dunia lain oleh kalimat Zen berikutnya.


" Hahha. Dasar! " Ucap Nana sambil terus tertawa. " Ternyata Mamam-ku itu korban sinetron. "


" Bapak yang suka! Mau nggak mau kan Mamam jadi ikutan nonton, karna lagi mijitin. "

__ADS_1


Setelah beberapa saat melenceng dari pembicaraan awal, Nana kembali menanyakan pada Zen, mengenai keputusan yang akan ia ambil.


" Mamam beneran ikhlas, kalau Mumum ingin menunda kehamilan? Kan katanya, setelah menikah, ridho suami adalah yang utama untuk istri. Kalau sampai melanggar akan sangat berdosa. Lebih-lebih, nanti bakal kena laknatnya semua malaikat yang ada di langit dan di bumi. "


" Aaaaa. Mumum-ku kok udah pinter banget sih! " Zen tau, maksud Nana. Yang dia tidak tau, dari mana Nana bisa mengetahui hal itu.


Mungkin di kampusnya Mumum, ada pelajaran kayak gitu ya? Zen jadi penasaran. Karna selama ini Nana hanya menjalani sekolah formal saja.


" Mumum kan pernah bilang sama Mamam. Mumum bakal belajar biar bisa jadi istri yang baik untuk Mamam. "


" Aaaa. Mumum-ku kyuuttt banget! "


" Idihhhh! " Nana mempertahankan posisi giginya yang terekspos, saking gelinya pada Zen.


" Ternyata nggak kyut tah? " Zen mentertawakan dirinya sendiri. Saat melihat Nana yang menggengkan kepalanya.


" Iya, Sayang-ku. Mamam ikhlas, Mamam ridho, apapun itu. Asalkan Mumum nyaman dan bahagia. Tapi, perlu Mumum ingat, jangan sampai melupakan tugas dan kewajiban Mumum sebagai seorang istri ya, Sayang. "


Nana merasakan sesak dalam dadanya. Ia merasa beruntung mendapatkan Zen sebagai imam masa depannya.


" Nggih, Mam. Bapak sama Ibu-ku nggak salah pilih, pokoknya jos banget! " Nana sampai mengacungkan jempolnya pada Zen.


" Nunda punya dedek sih, masih bisa di tahan! Tapi, kalau bikin-nya sampai di tunda juga, itu baru gawat. " Zen bergumam.


" Apa, Mam? "


Zen memang sengaja menutup mulutnya saat berbicara. Karna apa yang tadi ia ucapkan, tidak pantas di dengar oleh anak bocah seperti Nana.

__ADS_1


__ADS_2