
Zen dengan pemikirannya yang logis akhirnya pamit untuk pulang. Sedangkan Nana dengan ego tingginya tidak mau menahan Zen untuk tetap menemaninya di rumah sakit. Meskipun Ia sadar bahwa itulah yang diinginkan oleh hati kecilnya.
Melampiaskan rasa kesal, Nana meletakkan dengan kasar piring nasi yang masih utuh isinya kembali keatas meja. Menimbulkan suara gaduh yang tidak terelakkan.
" Dasar cowok nggak peka !" Meski dengan suara lirih, akhirnya Nana mengumpati laki-laki yang baru saja meninggalkannya.
Hatinya terasa perih. Kedua tangannya tidak lagi dapat dikontrol untuk tidak mencubit dan meremas selimut yang sama sekali tidak ikut mencampuri permasalahannya dengan Zen.
Mas Hafid kok gak balik-balik sih! Ini ranjang kenapa posisinya harus gini! Itu juga kipas angin kok berisik banget suaranya ! Sekarang semuanya terlihat bersalah dihadapan Nana.
" Dek, ini kebabnya."
" Kok lama banget sih, Mas... nggak tau apa, kalau Adek udah laper !" Hafid yang baru sampai pun merasa kaget mendengar ucapan bernada ketus dari mulut Nana.
Hafid menyodorkan kebab tanpa berkata-kata yang langsung disambar oleh Nana dengan kasar. Kemudian dimakannya dengan lahap tanpa jeda, tanpa merasai senikmat apa makanan yang sedang berdesakan didalam mulutnya.
Kenapa lagi sih ini bocah ! Baru juga ditinggal sebentar, tau-tau udah berubah jadi mak lampir aja ! Hafid berpikir apa penyebab perubahan sikap adiknya itu.
__ADS_1
" Mas, tolongin ini ranjangnya dilurusin lagi, Adek mau tidur." Menyentuh ranjangan bagian belakangnya.
Selesai makan, emosi Nana terlihat mulai terkontrol. Mungkin amarah yang sempat menguasainya tadi, ikut tertelan habis bersama seporsi kebab jumbo yang dibawakan Hafid untuknya.
Bergegas Hafid memenuhi permintaan Nana, sebelum adik perempuannya berubah menjadi "Mak Lampir" lagi. Seorang tokoh antagonis dengan emosi yang meledak-ledak serta memiliki wajah menyeramkan.
" Obatnya udah, Dek?" Hafid memastikan.
" Udah. Mas, diransel Adek ada sajadah. Ambil aja, kalau mau buat sholat atau rebahan dilantai." Air begitu saja menggenang dipelupuk matanya disertai rasa kecewa didalam dada.
Huh, kenapa juga aku harus nawarin sajadah ke mas Hafid ! Jadi keinget kejadian tadi kan... Memukuli kening dengan kepalan tangan.
Nana mengutuki diri. Karna ucapannya sendiri pada Hafid lah yang membuatnya teringat kembali pada sikap Zen yang sedikit banyak membuatnya kecewa. Walaupun Zen memiliki alasan tersendiri kenapa memilih pulang dari pada tinggal untuk menemani Nana seperti yang diinginkannya juga.
" Ya udah sana, kalau mau tidur. " Hafid masih melihat pergerakan Nana dari balik punggung.
" Nggeh." Nana mengiyakan tanpa menengok kakaknya sama sekali.
__ADS_1
Tau dia nggak peka gini aja udah bikin kecewa.
Tau gini kan lebih baik dari awal nggak usah ketemu dulu. Ketemunya nanti aja pas udah mau nikah. Kalaupun nantinya harus ada kecewa, kan nggak masalah, udah jadi suami istri ini mau gimana lagi. Pemikiran yang penuh sesak dikepala Nana.
Matanya terpejam, Namun tangannya masih aktif meremasi seprai, Haduh ! Ini hati berharap apa coba?
Hafid melihat tingkah Nana menjadi sedikit hawatir, kalau-kalau adiknya sedang bermimpi buruk, " Dek !" Nana tidak merespon karna masih fokus dengan pikiranya.
Lagian dia itu nganggep aku apa sih? Masa iya dia mau nikah sama aku tanpa cinta ! Yang ada nanti aku dianiyaya tiap hari lagi. Eh, kayaknya dia bukan tipe kayak gitu deh. Kemarin-kemarin dia perhatian banget kok ! Mengadu argumen dalam hati.
Hafid berjalan kesisi lain ranjang, memastikan keadaan Nana yang tidak merespon panggilannya itu.
Betapa kagetnya Nana, disaat tangan Hafid menyentuh keningnya. Tangan yang dirasa dingin oleh Nana.
" Apa lho mas ! " Nana membuka mata karna kaget. Kemudian beralih menyentuh keningnya yang terasa basah.
" Hehee. " Maksud hati ingin tau apa adiknya sedang demam, namun dia lupa tangannya masih basah karna habis memegang gelas plastik berisiskan es teh manis yang tadi Ia beli.
__ADS_1