Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Merenungkan Sikap Nana


__ADS_3

Sampai dirumah, Zen memilih merebahkan tubuhnya dikasur.


Zen sempat berpikir untuk tetap tinggal dirumah sakit meski Nana tidak menginginkan keberadaannya, saat selesai menunaikan sholat isya' di mushola rumah sakit sebelum pulang. Namun dia berpikir ulang, bagaimana jika pilihannya itu hanya akan membuat Nana terganggu dan tidak bisa beristirahat dengan nyaman. Itu juga yang Ia sampaikan pada Hafid sebagai alasan kenapa dia memilih pulang malam ini, sewaktu berpapasan diparkiran.


Tidak mampu disembunyikan lagi, sikap Nana yang ketus terhadapnya masih terniang-niang dikepala. Kenapa mbak Nana tiba-tiba berubah sikap? Apa aku telah berbuat kesalahan? Atau aku terlalu percaya diri, karna mbak Nana memberikan respon baik padaku selama ini?


Pertanyaan-pertanyaan dengan tanda tanya besar bermunculan, tidak satupun mampu terjawab oleh Zen. Seorang pemula dalam urusan cinta dan juga wanita.


" Duh gusti... berikanlah petunjukmu." Meraba kening hingga meremas rambut yang sudah terasa panjang dengan tangan kirinya.


Zen merasakan lelah pada tubuh dan juga pikirannya. Ia mencoba mengatupkan matanya meski kantuk belum juga datang menghampiri. Tapi yang diinginkannya sekarang hanya tidur. Mungkin dengan tertidur sebentar, dapat membuat tubuh dan pikirannya menjadi rilek kembali.


Kruukkk... Krruuuk... Bukan suara ayam jantan yang sedang berkokok. Namun suara perutnya sendiri lah yang membangunkan Zen saat langit masih gelap.

__ADS_1


" Aduh.. jam berapa sih ini?" Memegangi perut yang menyuarakan penderitaannya. Antara kembung atau kelaparan, karna Ia melewatkan jam makan malam.


Dengan mata yang masih riyip-riyip, Ia memperhatikan benda berbentuk bundar tertempel didinding kamarnya. Benda yang dentingnya memenuhi ruang kamar Zen.


Hawa dingin begitu terasa saat Zen keluar dari kamar menuju ke dapur. Ia memilih membuat mie instan dengan kuah hangat untuk memanjakan lidah juga perutnya.


" Panas... panas... panas... " Tangannya terkena cipratan air panas saat memasukkan mie instan kedalam panci, yang Ia pakai untuk memasak.


Setelah menghabiskan semangkuk mie instan dengan kuah hangat, cita rasa nusantara. Pikirannya kembali mengingat Nana. Semenjak bertemu Nana, dalam pikiran Zen memang sudah dipenuhi nama Nana.


Meninggalkan dapur yang menjadi sedikit berantakan karna ulahnya. Zen memutuskan mengambil air wudhu, menunaikan sholat sunnah. Paling tidak untuk menghentikan dirinya agar tidak berzina pikiran terus menerus terhadap Nana.


Memasuki kamar, Zen melihat bungkusan plastik besar diatas meja riasnya. Yang sama sekali tidak Ia sadari ketika memasuki kamar semalam. Tapi Ia abaikan bungkusan itu dan segera menunaikan apa yang sudah Ia niatkan.

__ADS_1


Ya Allah... Ya Robb... Engkau yang mengetahui apa yang tidak ku ketahui. Jika mbak Nana adalah jodoh yang telah engkau tuliskan, maka mantapkanlah hati ini dan lunakanlah hati mbak Nana untuk menerimaku sebagai takdirnya. Agar kami dapat bersama-sama meraih ridhoMu ya Robb. Sepenggal do'a Zen diseperempat malam ini.


Selesai dengan hajatnya. Walau tidak penasaran, namun tetap saja Zen mendekati bungkusan itu. Saat Ia meraba plastiknya, tulisan dari dus didalamnya tercap jelas diplastik putih sedikit transparan itu. Menunjukan subuah merek yang cukup asing baginya.


Zen menjatuhkan diri diranjang. Ingin Ia melihat foto si calon penerima bungkusan itu didalam ponselnya.


Ada pesan. Menatap kelayar ponsel.


" Gara-gara kamu tinggal pulang, Nana jadi uring-uringan, Zen. Hafid nyampe kuahalan karna jadi pelampiasannya. Emang kamu apakan dia? " Terselip emotikon tertawa dalam pesan itu. Menandakan bahwa pesan dari Firman itu bukanlah sebuah pesan permintaan pertanggung jawaban atas apa yang terjadi pada adik perempuannya.


" Hehehe." Mas Firman ada-ada aja !


Entahlah. Pesan yang terkesan dibuat-buat oleh Firman itu justru memberikan sedikit kelegaan dihati Zen, tentang apapun itu yang bersangkutan dengan masa depannya bersama Nana.

__ADS_1


__ADS_2