
Gejolak dalam hati Nana sepertinya sudah mulai padam karna dinginnya es krim yang Ia lahap bersama Raka. Meski Ia belum mampu melupakan apa yang sudah Ia lihat, namun Ia sudah mampu menentukan bagaimana Ia akan menyikapi ini kedapannya. Ini adalah pertama kalinya Ia mengalami rasa terhianati itupun disaat dia baru merasa sayang-sayangnya terhadap orang yang menghianati.
Kamu pikir aku bakal merana karna penghianatan kamu. Huh ! Jangan harap !!!
Bukan cuma kamu laki-laki didunia ini tau ! Hilang satu tumbuh seribu.
" Bulek, Naaannaa !!! "
" Hei ! Iya." Nana menutup kedua telinga yang terasa mendengung karna teriakan Raka.
" Kenapa harus teriak-teriak sih, Dek?"
" Ya habisnya sih, Bulek dipanggilin diem aja!"
Entah karna fikiran Nana yang sibuk atau karna pendengarannya yang terganggu dengan suara dari soundsystem di panggung hiburan. Atau karna memang suara Raka terlalu lirih saat memanggil Nana. Yang jelas, Nana tidak mendengar panggilan dari Raka.
" Apa iya? Hehehe."
" Iya. Mikirin Paklek Zen ya? Hayo ngaku." Raka mengacungkan telunjuknya, seperti mengajukan diri untuk memberikan jawaban. Namun jawaban yang tidak diharapkan oleh Nana.
" Hieh. Nggak lah, nggak penting !" Ucap Nana penuh kemantapan.
__ADS_1
" Ke Ayah yuk, Bulek." Setelah puas dengan es krim, hadiah yang Ia minta dari Nana. Raka baru teringat dengan Ayahnya.
Haduh ! Kalau masih ada dia gimana? Tapi kasihan ini anak orang, lagi mau ketemu Bapaknya. Nana menimbang antara kepentingannya dan kepentingan Raka.
Akhirnya Nana memilih menitik beratkan pada kepentingan Raka. Lalu mengajaknya kembali ketempat dimana mereka memarkirkan perahu, untuk mencari Firman. Karna hati nuraninya berkata, Ia tidak boleh egois pada Raka yang ingin bertemu dengan Ayahnya. Karna dia masih kecil dan juga tidak tau menahu mengenai permasalahan yang sedang Ia alami sekarang ini.
***
" Paklek..." Raka memanggil Zen yang Ia lihat ditengah perjalanannya. sedang membawa barang di salah satu tanganya.
Raka melepaskan pegangan tangannya dari Nana. Kemudian berlari menghampiri Zen yang tidak mendengar panggilannya, karna jaraknya agak jauh darinya.
" Lho Raka sama siapa?" Zen kaget melihat Raka muncul dihadapanya.
" Sama Bulek Nana." Raka menunjuk keberadaan Nana yang masih berdiri ditempat yang sama saat Ia melepaskan gandengan tangannya. " Paklek, Paklek, sini tak kasih tau."
" Apa?" Zen merunduk, karna Raka ingin berbisik ditelinganya.
" Tadi Bulek Nana nangis lho, kakinya sakit lagi."
Mendapat bisikan dari Raka, mata Zen lekat menatap ke arah Nana yang sedang berjalan menghampiri Raka.
__ADS_1
" Dek, ayuk katanya mau cari Ayah." Nana meraih tangan Raka untuk segera Ia tarik menjauh dari Zen. Namun Zen mencegah tindakan Nana dengan memegangi tangan Raka yang lain.
" Mum, kaki kamu masih sakit?" Zen benar-benar menghawatirkan keadaan Nana. Melihat caranya berjalan menghampiri Raka, juga tidak seperti biasanya.
" Nggak usah sok perhatian." Nana memberikan penekanan pada setiap kata.
" Sana urusin aja pacar baru kamu! Nggak usah sok peduli lagi sama aku." Nana membalikan badan lalu mengajak Raka pergi.
" Kok ngomongnya gitu sih, Mum?" Zen meraih tangan Nana, meminta penjelasan atas ucapannya. " Mum, maksudnya apa?" Zen bertanya lagi karna Nana masih bungkam. Dan berusaha melepaskan genggaman tangan Zen.
" Mas Zen, tolong kesini sebentar." Teriak salah satu temannya yang juga mengenakan kaos yang sama dengan yang dikenakan oleh Zen.
" Iya, bentar." Zen membalas berteriak. " Mum." Zen masih mencengkram tangan Nana.
" Lepas. Sakit." Namun Zen masih belum mau melepaskan tangan Nana.
Zen merupakan tipe orang yang jika memiliki suatu ganjalan dalam fikiran, dia akan kesulitan untuk memikirkan ataupun mengerjakan hal-hal lain. Maka dari itu, dia akan terus mengejar penyelesaian sampai ganjalan itu menghilang.
" Mas Zen, cepet !" Suara dari teman lainnya yang juga membutuhkan bantuan.
Kepala Zen terasa panas, dan tidak mampu membagi kosentrasinya lagi. Dia memilih fokus pada Nana terlebih dahulu, Karna permasalahan paling besar saat ini sudah ada dihadapan.
__ADS_1
" Apa? Kamu pikir tadi aku nggak lihat kamu lagi mesra-mesraan sama cewek diperahu. Nggak usah pura-pura lupa. Udah basi tau !" Seketika Zen mematung, cengkramannya pada tangan Nana menjadi kendur.
Nana tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk meninggalkan Zen yang masih terdiam ditempat. Lagi-lagi air mata Nana terjatuh, dan lagi-lagi disebabkan oleh perasaannya terhadap Zen. Entah sudah berapa banyak air matanya yang Ia keluarkan, walau baru sebentar Ia menginjakkan kaki dipulau ini. Tapi kali ini ada sedikit kelegaan dalam hatinya.