Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Mendatangkan Zen Untuk Nana


__ADS_3

Malam berganti malam, hari berganti hari. Dua hari sudah berlalu. Kejadian malam itu telah merubah Nana menjadi pendiam dan suka mengurung diri didalam kamar. Bahkan terkadang terdengar suara tangis dari dalam kamarnya, saat Ibu pertanya ada apa? Kenapa? Nana hanya menggeleng kemudian berlalu dan menghindar.


Apakah Nana marah pada orang tuanya? Jawabannya tidak. Nana tau, cepat atau lambat itu akan terjadi. Karna dari awal dirinya memang sudah memutuskan untuk menerima lamaran dari Zen. Hanya saja ini terlalu cepat, pada waktu yang tidak tepat dan dengan cara yang tidak sesuai dengan keinginannya.


Hari ini Hafid datang ke rumah, bersama anak dan istrinya. Ibu menyuruh Adinda, istri Hafid membawa Lyla menemui Nana.


" Mamak... ini lho dicariin Lyla." Ucap Dinda sambil membuka pintu kamar Nana. Membuat orang yang sedang berbaring diatas kasur kelabakan untuk bangun. Adinda menghidupkan lampu kamar kamar Nana, yang terlihat masih remang-remang, meski diluar matahari sudah meninggikan posisinya.


" Maakk..." Pekik Lyla, sambil menunjukan jarinya pada Nana, saat lampu kamar sudah menyala. Seperti memberitahukan pada Ibunya bahwa ada Nana disitu.


" Sini masuk !" Nana melambaikan tangan pada Lyla agar mendekat.


Adinda masuk lebih dulu, membiarkan anaknya berjalan sendiri mendekat pada Nana. Sedangkan Ia sendiri memilih membuka korden jendela yang berada dipojak sebelah kanan tempat tidur. Mempersilahkan cahaya dari luar untuk masuk kedalam kamar.


" Lyla... gak boleh gitu. Nanti kena kakinya Mamak." Omel Adinda, melihat anaknya melompat-lompat diatas kasur didepan Nana.


" Mak akit (sakit)?" Lyla yang sudah dapat mengucapkan banyak kata bertanya sambil menepuk kaki Nana yang diperban.

__ADS_1


Meski belum dapat mengucapkan setiap kata dengan jelas, tapi Nana paling suka saat Lyla memanggilnya "Mak" terlihat sangat menggemaskan baginya. Apalagi dalam kondisi hatinya saat ini, sudah seperti hiburan yang cukup memuaskan.


Lyla sangat menyukai Nana begitupun sebaliknya. Maka dari itu Hafid dan Adinda sering meninggalkan Lyla di rumah kost Nana, saat berkunjung ke Semarang. Tapi sebenarnya itu sih cuma alasan mereka, biar bisa jalan-jalan berdua saja tanpa Lyla.


***


Ibu memilih ruang tamu sebagai tempat untuk mengobrol dengan Hafid, agar suara mereka tidak sampai terdengar oleh Nana. Karna yang akan mereka obrolkan adalah hal serius yang tentunya berhubungan dengan Nana.


Ibu menceritakan kejadian malam itu, yang sudah seperti tragedi didalam rumahnya.


" Apa, Mas ?" Adinda mendengar namanya disebut saat berjalan meninggalkan kamar Nana.


Hafid menceritakan ulang apa yang sudah Ia dengar dari Ibu. Cerita yang sekaligus menjadi jawaban dari gosip yang beredar di kampung tentang Nana dan Rif'an. Entah darimana sumbernya tapi gosip itu belum sampai ketelinga Ibu. Namun alasan adanya gosip itu sudah jelas, mungkin karna orang-orang tidak melihat Zen datang bersama keluarganya malam itu. Membuat Rif'an yang hanya memberikan jasa ojekan serta pengiriman barang menjadi tersangka pelamaran pada Nana.


" Ibu hawatir kalau adikmu terus kayak gini, Fid."


" Tapi Nana nggak marah, Bu?" Tanya Adinda.

__ADS_1


" Kalau disuruh milih mending Ibu lihat dia marah-marah dari pada diem kayak gini, Din. Lha wong pas tamunya pulang aja dia diajak ngomong Bapak malah diem terus masuk kamar, dikunci. Makanya perhiasan sama kardus yang dipita-pita Ibu simpen."


" Kardus dikasih pita? Emang isinya apa, Bu?" Adinda menjadi penasaran.


" Masa Ibu suruh buka-buka. Kardusnya itu kecil kayak kardus TV, tipis tapi berat." Setelah menyebutkan ciri-ciri bingkisan yang dihias dengan pita besar dari Zen, Ibu teringat pesan Rif'an pada Nana. " Rif'an ya ngomong sama mbaknya, jangan dibanting lho, Mbak." Ibu menirukan ucapan Rif'an.


" Zen suruh kesini aja, Bu. Suruh tanggung jawab udah bikin Nana jadi kayak gitu. Hehhe." Canda Adinda. Tapi ditanggapi serius oleh Hafid."


" Gimana kalau nanti malam, Bu? Zen tak suruh kesini."


" Jangan ! Nanti kalau adikmu marah-marah sama Zen gimana?"


Tentu saja Ibu tidak mensetujui usulan itu. Bagaimana kalau Nana sampai berbuat kasar terhadap Zen. Yang berakhir dengan putusnya hubungan mereka, dan kemungkinan besar akan merenggangkan bahkan juga memutuskan hubungan dua belah pihak.


" Katanya tadi mending Nana marah-marah dari pada diam. Jadi tau dia maunya apa?" Hafid mengembalikkan ucapan Ibu.


Setelah menimbang baik dan buruk efeknya. Ibu mensetujui usulan itu. Tapi dengan beberapa catatan. Termasuk memberitahukan permasalahan yang terjadi terlebih dahulu pada Zen. Dan jika Zen tidak mau datang, Hafid tidak boleh memaksa.

__ADS_1


__ADS_2