
Setelah tiga minggu menahan rindu, akhirnya Zen bertemu lagi dengan gadis yang selalu Ia tuduh telah melakukan kejahatan padanya. karna gadis itu telah mencuri hatinya.
" Wah pemandangannya bagus banget !" Seru Nana sambil bendekat kepagar yang membatasinya dengan jurang. " Hemmm, udaranya juga seger."
" Mbak Nana suka?" Tanyanya sambil mendekat pada Nana.
" Suka banget, Dek."
Zen yang mulai terbawa suasana tanpa sadar melingkarkan kedua tangannya keperut Nana dari belakang. Nanapun membiarkan, seakan dia juga menginginkannya.
Zen menempelkan dagunya dipundak kanan Nana. Kemudian berbisik, " Aku kangen banget sama kamu, Mbak." Kemudian mempererat pelukannya pada Nana.
Melihat wajah Nana yang terlihat merona karna menahan malu, ditambah senyuman dibibir merah miliknya, membuat Zen tidak ingin mengedipkan pandangan matanya. Baginya, apa yang dilihatnya saat ini merupakan keindahan yang tidak tertandingi didunia ini.
Masih dalam pelukan, Nana memegang pipi Zen dengan tangan kanannya, lalu perlahan menghadapkan wajahnya pada Zen, yang membuat mereka nyaris berciuman.
" Aku juga kangen kamu, Kang masku..."
Debaran didada Zen begitu terasa, saat mendengar jawaban yang tidak Ia sangka namun Ia harapkan keluar dari bibir Nana.
Juga caranya memanggil Zen, membuat nafsunya membuncah. Hingga sekujur tubuhnya merasai nikmat tidak terkira.
" Panggil lagi aku seperti tadi." Zen mengecup kening Nana.
" Yang mana?" Wajah Nana semakin memerah.
" Yang tadi." Zen mulai merengek seperti anak kecil.
__ADS_1
" Ya yang mana, Sayang?"
Aahhhh. Zen benar-benar merasa bahagia sekaligus merasa gemes pada gadis kecil itu. Gadis yang selalu bisa membuat hatinya bergejolak.
" Terserah yang mana aja ! Semuanya aku suka." Kecupan mendarat dipipi Nana.
" Ih. Nakal ya, Kang masku sayang ini !" Nana berucal dengan mesra cenderung ganjen.
" Hehhe. Lagi !"
" Iya Kang mas..." Malu-malu.
" Lagi !" Zen menjadi ketagihan dengan panggilan, yang ucapkan bibir Nana untuknya.
" Kang mas... mas... mas..."
" Mas Zen... Mas... Bangun!" Suara yang semakin keras terdengar ditelinga Zen, membuatnya jadi gelagapan.
Zen terdiam, memandang wajah yang sekarang ini muncul dihadapannya. Sambil mencoba mengartikan situasinya saat ini.
Jadi tadi itu cuma mimpi !!!! Ya Allah... kok rasanya jadi kecewa ya.
" Mas..." Zen menyadari kalau suara inilah yang Ia dengar, menggantikan suara seksi Nana yang sedang memanggilnya.
" Hmmm." Masih merasa jengkel dengan Rif'an yang sudah menghancurkan mimpi indahnya.
" Itu dipanggil Bapak !" Zen bangkit dari posisinya. Terduduk diranjang sambil merapikan rambutnya dengan jari.
__ADS_1
" Jam berapa sih ini, Dek? Kamu kok udah rapih, mau kemana?"
" Jam tujuh. Aku mau ke Semarang. Nganterin temenku lihat pameran di Jawa Mall." Zen tak percaya dengan ucapan adiknya. Dia mengintip jendela kecil, diatas tempat tidurnya yang masih tertutup korden.
Eh, beneran udah siang ! Aku kelewatan sholat subuh.
" Pameran apa?"
" Katanya sih elektronik. Sebangsa ponsel, labtop. Temenku sih bilangnya mau cari labtop buat persiapan garap sekripsi."
Labtop... Skripsi...
" Eemm, Mas nitip beliin labtop satu ya?"
" Buat siapa, Mas? Aku? Hehehe." Rif'an sengaja menggoda kakaknya. " Emang mbak Nana belum punya?" Pertanyaan yang serasa menohok Zen.
Kok Rif'an bisa tau?
" Nggak tau." Zen terlihat malu-malu menjawab pertanyaan adiknya.
" Bentar. Di sosmed aku berteman sama temennya mbak Nana. Tak tanyain bentar ya." Zen mengangguk, karna merasa ditelanjangi oleh adiknya.
Ketika Zen berdiri untuk memenuhi panggilan Ayah, dia merasakan basah dan lengket pada sarung yang Ia kenakan.
Apa ini? Kok basah, lengket juga. Meski merasa risih, akhirnya Zen meraba sarungnya juga. Masa iya aku mimpi basah? Cuma karna mimpiin mbak Nana.
Note :
__ADS_1
Flashback bentar ya. Semoga yang baca nggak bingung.