
Nana merasa hawatir jikalau sepeda motor Zen itu sedang mengalami masalah. Karna saat memasuki jalan utama menuju kampung halaman, Zen memperlambat laju sepeda motor miliknya. Sedangkan disepanjang jalan yang akan melalui itu tidak akan menemukan satupun bengkel.
" Motornya kenapa, Sayang? "
" Nggak kenapa-napa kok, Mum! " Jawab Zen enteng.
" Oh... Kok jalannya pelan banget kayak lagi jalan kaki. Hehee. "
Nggak sabar pingin ketemu Himma sama Alfa... Dua keponakan Nana yang berdomisili di Lampung.
Sebenarnya Nana tidak begitu mempersalahkan laju sepeda motor yang begitu pelan, karna dengan begini ia tidak perlu lagi merasakan goncangan yang disebabkan oleh bebatuan yang menonjol pada jalan. Belum lagi saat musim hujan tiba, selain terjal jalan itu akan menjadi sangat licin dan memperlihatkan kubangan air yang terhampar di seanjang jalan dengan berbagai ukuran. Baik ukuran lebar maupun kedalamannya.
" Mamam sengaja tau, Mum! Biar kita jadi tambah lama nyampe rumahnya. "
" Hem? "
Nana sempat mencoba menerka sendiri permasalahan apa yang membuat Zen sampai tidak mau cepat-cepat sampai di rumah.
" Ya kan biar makin lama juga waktu kebersamaan kita, Mum. "
Aaaaaaa.. Nana menutup mulutnya. Ia merasa gemas karna tidak dapat memprediksi jawaban Zen sebelumnya.
Bener juga sih kata Mamam. Apalagi sekarang di rumah lagi ada Mas Rahmad sama Mas Sholeh. Belum lagi Alfa sama Himma, Lyla juga!
Dengan mengingat satu persatu anggota keluarga yang kemungkinan besar sedang berkumpul dirumah orang tuanya, Nana seperti tidak akan menemukan peluang untuk memiliki waktu berdua saja dengan Zen.
" Nggak usah pulang aja yuk, Mam... " Ucap Nana tiba-tiba.
" He? Kalau nggak pulang trus kita mau kemana, Mum? "
" Kemana aja boleh. Yang penting buat Mumum kan bisa sama-sama Mamam terus. "
Bisa berduaan seperti ini juga merupakan momen langka untuk Nana yang dalam kesehariannya harus terpisah jarak dengan Zen.
Zen tersenyum, " Kalau ke semak-semak itu gimana, Mum? "
Nana melongokan kepalanya, melihat ke arah rerimbunan yang di maksud oleh Zen. Rumput liar yang tingginya mungkin melebihi tinggi tubuh Nana.
__ADS_1
" Hish, Mamam! Masa nggak ada bedanya antara kita sama jangkrik? "
" Beda, Mum... Kalau jangkrik kan bisa mengawini beberapa betina, Kalau Mamam kan hanya akan mengawini Mumum. Satu untuk selamanya. "
Krikk... krikkk... krikk...
Nana tidak memberikan komentarnya.
***
" Mam, kok kita disini? " Nana mengalami ketegangan yang luar biasa.
Sebelum mengantarkan Nana pulang, Zen membawa Nana pulang kerumah orang tuanya terlebih dahulu. Itupun tanpa meminta persetujuan Nana, apalagi menanyakan pada Nana mengenai kesiapannya untuk bertemu sang calon mertua.
" Kita mampir bentar ya. Soalnya bapak sama ibu pingin ketemu sama Mumum. "
" Hah?! Mau ngapain??? "
" Emang harus pake alasan buat ketemu sama calon mantu? "
Sebelum menuruni sepeda motor yang sudah terparkir sejak tadi, Nana menyempatkan tangannya untuk meninggalkan bekas cubitan manja di paha Zen.
" Assalamu'alaikum... " Malu-malu Nana berjalan menghampiri ibu untuk menyalaminya.
Dulu saat Nana masih hanya berstatus sebagai keponakan ibu, ia datang kerumah ini tadanya biasa saja, seperti tidak ada beban. Bersikap santai dan apa adanya. Berbeda dengan sekarang, rasanya malu dan kaku seperti sedang terikat dengan norma-norma. Ia harus benar-benar menjaga sikapnya agar tidak berbuat kesalahan yang dapat merusak citranya didepan calon mertua yang tidak lain adalah paklek dan buleknya sendiri.
" Wa'alaikum salam. " Setelah bersalaman, ibu merangkul Nana dan mengajaknya memasuki rumah.
Zen mengekor dibelakang Nana yang berjalan sejajar dengan ibu, menghampiri ayah yang sedang berada di ruang tengah menonton TV.
" Pak, ini lho ada Genduk Nana. "
" Paklek... " Sapa Nana pada ayah, sebelum ia mengulurkan tangannya untuk menyalami.
Sedangkan Zen berlalu memasuki kamar untuk menanggalkan jaket dan menyimpan helmnya. Sesaat kemudian ia sudah muncul dan duduk di sebelah Nana yang sedang duduk menghadap ayah. Zen meraih lalu menggenggam tangan Nana yang sejak tadi sibuk menggulung-gulung ujung hijab yang menjulur hingga ke pangkuan saat menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan orang tuanya.
Mamam-ku. Nana memandang ke arah Zen yang sedang tersenyum manis padanya lalu ke ayah dan ibu.
__ADS_1
Merasa aman, Nana menutupi tangannya yang bertautan dengan tangan Zen di dengan kain hijabnya agar tidak tetlihat oleh ayah dan ibu.
Rasa dingin yang Zen rasakan di awal ia menyentuh tangan Nana kini semakin memudar.
" Mamam mandi sebentar ya, habis itu nganterin Mumum pulang. " Ucap Zen pelan.
" Nggih. " Nana mengangguk. Membiarkan Zen menarik tangannya dari pangkuan.
Berkat perhatian Zen juga sambutan hangat dari ayah dan ibu, Nana mulai dapat bersikap seperti biasa. Saking biasanya sampai ia berani menyentuh kaki ayah yang sedang diselonjorkan diatas kasur dan memijatnya.
" Lha Genduk kok malah mijitin Paklek, nanti capek lho. " Ucap ayah yang senang dengan perlakuan Nana.
" Nggak apa-apa kok, Paklek. "
" Lha kok Bapak kayak keenakan gitu sama pijitannya Genduk. Nanti kalau jadi ketagihan gimana? " Ledek ibu sambil mengupasi buah untuk ayah.
Nana memang memiliki bakat memijit yang diturunkan embah dari pihak ibu Nana yang adalah kakak dari ibunya ayah Zen. Tapi mungkin rasa nyaman ayah bukab berasal dari sana, melainkan dari perasaan bahagia karna mendapat perhatian dari calon menantu pilihannya.
" Aa, Nduk. " Ibu menyodorkan potongan buah di wajah Nana.
Nana terdiam, ada keraguan untuk menerima pemberian ibu itu. Tapi melihat ketulusan yang menyilaukannya, Nana membuang rasa malu dan ragunya dengan membuka lebar mulutnya. Suasana keakraban antara anak dan orang tua pun tercipta disana.
" Kok jadi rame? " Zen muncul dari arah belakang rumah.
" Aaaaa. " Nana menjerit dan memalingkan wajahnya dari apa yang baru saja ia saksikan.
Meski suara jeritan Nana terasa memekakan gendang telinga ayah juga ibu, mereka justru malah mentertawakannya saat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Nana. Ya, jeritan Nana tadi adalah bentuk refleknya saat melihat Zen dengan keadaan bertelanjang dada dengan handuk yang melilit di bagian bawahnya. Gaya normal yang ditunjukkan orang saat mereka selesai mandi.
Itu kalau melorot gimana coba? Pikir Nana yang tambah membuat wajahnya semakin merona.
Memang sudah menjadi kebiasaan Zen dan keluarganya untuk mengganti baju mereka didalam kamar ketimbang saat berada di dalam kamar mandi yang hanya ada satu di rumah itu.
" Cepetan salin baju sana, Zen! Kasihan ini lho Genduk Nana jadi malu gara-gara lihat kamu. " Omel ibu, membela kepolosan Nana.
Sambil tersenyum Zen mempercepat langkahnya menuju kamar. Dia yang tadinya bersikap biasa jadi ikut malu sendiri saat melihat reaksi Nana yang berlebihan itu.
Mumum... Mumum... baru lihat bagian atas aja udah sehisteris itu, gimana nanti kalau pas lihat bagian bawah? Pikiran nakal tiba-tiba muncul dibenak Zen saat sedang mengancingkan baju kemejanya di depan cermin.
__ADS_1