Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Libur Telah Tiba


__ADS_3

Hari ini ujian semester Nana akan berakhir. Hanya perlu mengumpulkan tugas dari dosen sebagai pengganti ujian. Selesai mengumpul tugas Nana bermaksud langsung pulang ke rumah dan bertemu dengan Ibu juga Ayah yang satu semester ini tidak Ia jumpai. Maklum, sudah satu semester Nana tidak berkunjung kerumah. Karna harus belajar giat untuk dapat menyesuaikan diri dengan teman-temannya dikelas.


" Jadi lihat pameran elektronik di Jawa Mall nggak?" Renata mencari kepastian.


" Kalau sekarang aku nggak ikut ya? Mau langsung pulang dulu soalnya."


" Yah... nggak asik donk ! Kamu nggak jadi lihat-lihat labtop?" Tanya Naila pada Nana.


" Jadi. Tapi kan aku belum bilang sama Bapak Ibu. Uang di tabunganku juga kayaknya belum cukup."


" Kalau kamu, May?" Renata.


" Aku sih ngikut aja. Kan aku belinya juga masih nungguin dana beasiswa cair. Hehehe."


" Enak ya mbak May, kemarin dapat jatah beli buku yang harus habis. Lha Ini, malah dikasih jatah buat beli labtop juga ternyata." Nana iri, kenapa dia dulu nggak mencari tau soal beasiswa.


" Hehehe. Rizki anak sholehah, Na." May tidak pernah membanggakan beasiswanya. Baginya bisa kuliah aja sudah bersyukur, karna keadaan kedua orang tuanya yang memang kurang mampu dalam finansial.


***

__ADS_1


" Beres-beres barang-barang di kamar udah. Barang bawaan udah. Sholat dhuhur udah. Makan udah. Apa lagi ya? Kok kayak ada yang ganjel." Sudah berada diatas sepeda motor miliknya.


" Kamu nggak pake helm?" Seru Naila yang memilih menemani Nana daripada jalan-jalan ke Mall bersama yang lainnya.


" Oh iya ! Pantes aja berasa ada yang kurang. Hahaha." Sebenarnya Nana merasa sedikit gugup, karna ini adalah perjalanan jauh pertama kali untuk Nana, menggunakan sepeda motor sendirian.


Nana pun turun dari sepeda motor, kembali menaiki tangga menuju ke kamar untuk mengambil Helm dan juga kaos tangan untuk melindungi kulit tangannya dari sengatan matahari di siang bolong.


" Nggak bawa masker?" Tanya Naila lagi saat Nana sudah kembali. Karna dijalan mereka akan bertemu dengan polusi udara yang tidak bagus untuk kesehatan.


" Udah. Tak taruh didalam tas."


" Pake sekalian." Naila merasa ikut gugup melebihi kegugupan Nana sendiri. Dia juga mengetahui jikalau ini adalah perjalanan jauh pertama untuk Nana, yang harus bersaing dengan truk ganteng, tronton, bus antar kota dan lainnya dijalan raya.


" Bismillahirrohmanirrokhim..." Nana mulai menarik gas perlahan di stang kanan sepeda motor matic miliknya.


Merekapun memulai perjalanan. Setelah beberapa kilo jarak tempuh, Nana mulai nyaman berkendara mengikuti Naila. Bahkan sangking nyamannya Ia sempat mengingat percakapannya dengan Zen tadi pagi melalui pesan singkat. Yang memancingnya untuk tersenyum.


" Hehehe." Gimana ya reaksinya kalau tau aku tiba-tiba udah nyampe dirumah? Padahal dia bilang mau jemput kalau aku pulang.

__ADS_1


Loh, mbak Naila kok menepi. Tersadar, Nana ikut menepikan sepeda motornya.


" Kenapa, Mbak?" Membuka kaca helm.


" Di depan ada pertigaan, aku mau belok. Kamu nggak papa sendirian?"


" Iya, Mbak. Nghak papa. Makasih ya..." Nana mengulurkan tangan kanan untuk menjabat tangan Naila.


" Emuah.... muah... muah... Hehehe. " Nana dan Naila cipika-cipiki dengan menggunakan isarat.


" Udah. Sana kamu jalan dulu. Hati-hati ya?"


" Iya. Hati-hati juga mbak Nay. Assalamu'alaikum." Nana melambaikan tangan tandan perpisahan, kemudian berlalu meninggalkan Naila.


" Wa'alikum salam." Membalas lambaian tangan Nana yang sudah menjauh dari hadapannya.


Naila masih terdiam, menatap jalanan yang sudah menelan keberadaan Nana.


Perasaanku kok nggak enak... Kenapa ya?

__ADS_1


Naila menghirup napas panjang lalu menghempasankannya dengan keras untuk mengusir pikiran buruk agar menjauh darinya.


Bismillah, Semoga semuanya baik-baik aja.


__ADS_2