Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Drama Sang Pengantin


__ADS_3

Duduk di ambang tempat tidur, Mata Nana terus memplototi layar TV yang sedang menyiarkan prosesi akad nikah secara langsung. Di dampingi Sukma dan Umam sang perias, Nana terlihat sangat bahagia.


" Aaaaaa... " Pekik Nana, saat wajah Zen muncul di layar TVnya.


Kok Mamam-ku kelihatan tambah ganteng sih! Nana menutupi wajahnya dengan buket bunga, karna malu akan pengakuanya sendiri.


" Ini anak kenapa sih?! Aku perhatiin dari tadi, nggak bisa anteng blas. Nggak ada anggun-anggunnya sama sekali. Beda banget sama kakak iparnya. "


" Tapi aku tetap kelihatan cantik kan Mas Jo? " Nana meminta pembelaan dari tukang shooting yang sedang mengambil gambarnya.


" Itu kan berkat keahlian jari-jemari Jeng Umam ini, Sayang. Hihihihi. " Ucap Umam bangga, sambil menyodorkan jari-jarinya ke depan wajah Nana.


Tanpa ikut berkomentar, Sukma membiarkan dua orang itu terus berdebat. Kalau sudah capek, mereka pasti akan diem dengan sendirinya, pikir Sukma.


" Pak na'ib, saya tak pasrah saja lah kaleh sampean. " Samar-samar suara ayah sampai di telinga Nana melalui speaker.


Deg.


Bapak... Perasaan Nana menjadi getir.


Air mata Nana jatuh tak terbendung. Ia tidak menyangka akan menerima penghianatan dari ayah di hari bahagianya ini.


Bruk. Nana menubrukkan tubuhnya di atas kasur. Ia tidak sanggup menghadapi kenyataan, bahwa Pak penghulu-lah yang akan menikahkannya dengan Zen.


" Hiks... Hiks... "


" Kenapa, Dek? "


" Sis! Kamu ngapain? Itu dandanan kamu gimana. "


Panik, Umam bangun dari kursi dan meletakkan ponselnya disana. Ia berniat mendekat ke Nana untuk memeriksa dandanannya. Tapi hal itu urung ia lakukan, karna kaget dengan teriakan Nana.


" Huawwaaaaaa. " Tangisan Nana semakin menjadi-jadi. " Aku nggak mau nikah!!! Aku nggak mau! Aku nggak mau! " Berteriak dengan sekuat tenaga.


Orang-orang mulai berkerumun di depan kamar Nana. Meski penasaran, Namun tidak ada satupun dari mereka yang berani mendekat apalagi bertanya. Mereka hanya menonton dan sambil saling berbisik.


Sadar bahwa tidak mungkin ia dapat menyelesaikan masalah ini sendiri, Sukma meninggalkan Nana dan Umam untuk meminta bantuan.


" Bapak jahat! "


Sambil terus menangis, Nana mulai melemparkan benda-benda di sekitar untuk melampiaskan rasa sakit yang menerjang hatinya.

__ADS_1


Buat apa ayah menginginginkan anak perempuan untuk melengkapi keluarganya, jika untuk menikahkannya saja ia butuh bantuan tangan orang lain.


" Sis, kamu kenapa sih? " Suara Umam bergetar.


Kamu nggak lagi kesurupan khan? Paling benci dengan sesuatu berbau horor.


Di sudut kamar, Umam merasakan tubuhnya melemas karna ketakutan. Dengan kedua tangan yang terus bersiaga melindungi tubuhnya dari benda-benda yang melayang di sekitar, ia berharap bantuan akan segera datang.


" Jo... " Tolongin... Umam melambaikan tangannya pada tukang shooting yang pamit untuk ke kamar mandi, tepat sebelum hal ini terjadi.


Tanpa diminta Umam pun, sebenarnya Suwarjo ingin masuk untuk mengamankan kameranya yang masih dalam keadaan 'on'. Tapi suasana di dalam kamar Nana membuatnya tidak nyaman untuk menampakkan diri.


Ya Allah, selamatkan kamera hamba-Mu ini... Suwarjo memilih untuk berdo'a.


Berhasil menerobos krumunan di depan pintu, ibu langsung mendekap anak gadisnya yang bwruraian air mata di atas kasur.


" Ya Allah! Genduk! "


" Adek nggak mau nikah, Bu... Huhuhu. "


Apapun permasalahannya, bagi ibu, keinginan Nana kali ini sangat tidak masuk di nalar.


" Bapak jahat, Bu... Bapak jahat.... Adek benci sama Bapak. "


" Hust, nggak boleh ngomong kayak gitu toh! "


Setiba di kamar Nana yang sudah berantakan, ayah menjadi murka.


" Ini kamu maunya apa?! "


Ayah sudah menuruti segala permintaan Nana mengenai pernikahan ini, meski harus mengeluarkan banyak biaya karnanya. Tapi kenapa jadi kacau seperti ini. Nana tiba-tiba mengamuk dan meminta untuk membatalkan pernikahan.


Suasana menjadi semakin mencekam. Umam jadi tambah tidak berkutik di tempatnya berdiri. Melihat ekspresi ayah yang menegang dan Nana yang tidak ada takut-takutnya, Ia merasa sebentar lagi akan ada pertengkaran besar di ruangan ini.


" Bapak yang maunya apa? Kalau nggak bisa nikahin, kenapa mau punya anak perempuan? "


Sutt. Jantung ayah terasa diremas oleh kata-kata Nana.


Sukma dan kakak serta kakak ipar Nana lainnya membubarkan kerumunan. Karna hanya hal itu yang bisa mereka lakukan untuk sekarang.


" Sebenarnya Adek ini anak Bapak bukan sih? Hah? " Suara Nana terdengar berat.

__ADS_1


" Kok kamu tanyanya kayak gitu toh, Nduk? " Sahut ibu.


" Adek tanya ke Bapak, Bu! Adek ini anaknya apa bukan? Kalau Adek ini anaknya... " Nana meninggikan suaranya. " Kenapa Bapak nggak mau nikahin Adek?! "


Ayah tidak menjawab. Membuat Nana semakin ingin meluapkan perasaannya pada laki-laki tua di ambang pintu itu.


" Kalau nggak mau nikahin Adek, terus Bapak mau nikahin siapa? Anak perempuan Bapak itu cuma satu. Apa susahnya buat nuruti permintaan Adek ini. Apa karna Adek nggak berharga buat Bapak? Hah? "


Menahan kepahitan di dalam tenggorokannya, akhirnya ayah mau mengeluarkan pendapatnya.


" Yang penting kan sah. " Ucap Ayah lirih.


Merasa sakit dengan jawaban Ayah, Nana langsung melucuti baju pengantinnya, kemudian melemparkannya ke arah ayah.


" Adek nyesel jadi anak Bapak! Adek benar-benar Benci sama Bapak. Adek nggak mau ngomong lagi sama Bapak. Anggap aja Adek udah mati. "


" Kamu ngomong apa sih! " Sholeh membentak adik kesayangannya.


Nana tidak peduli dengan bentakan Sholeh maupun nasehat ibu dan yang lainnya. Ia menutup telingannya rapat-rapat sambil terus menangis. Tidak ada yang mengertikan keadaannya, tidak ada yang mau tau, seberapa penting permasalahan ini untuknya.


Sebagai anak perempuan satu-satunya di dalam keluarga, Nana sangat menantikan saat dimana ia dapat merasakan hak istimewa itu. Dimana ayah akan menyerahkan dirinya beserta tanggungjawabnya pada laki-laki yang akan menjadi suaminya, yang akan menggantikan ayah menjaga dirinya hingga di akhir usiannya kelak. Jadi wajar saja, jika saat ini Nana merasa begitu tersakiti, begitu terhianati dengan keputusan ayah. Tanpa menanyakan pendapatnya, ayah langsung menyerahkan tanggungjawabnya sebagai wali pada penghulu.


Sama-sama merasakan sakit, Ayah memungut baju pengantin yang tadi dilemparkan Nana padanya. Kemudian ia letakan baju itu di atas tempat tidur Nana sebelum akhirnya ia meninggalkan kamar.


***


" Hahh... " Zen menghempaskan nafas ketegangan. " Ini kang. " Menyerahkan kamera pada Suwarjo.


Saat waktu berganti pakaian untuk acara resepsi, Umam meminta Zen terlebih dahulu memonton drama sang pengantin, yang berhasil di abadikan oleh kamera Suwarjo yang aman dari amukan Nana tadi.


Zen memang sudah tau dari ayah, apa penyebab Nana marah sampai nenolak untuk nikah. Tapi ia tidak menyangka jika kejadiannya bakal separah itu.


" Kamu lihat rekamannya aja jadi tegang. Coba bayangin, gimana perasaan aku waktu itu. Aduh.... Jantung ini udah mau los rasanya. " Umam yang masih terbawa suasana.


" Emang kamu aja yang merasa tegang? "


" Hehhehe. Kalau kamu sih, itung-itung buat latihan nanti malam. " Umam tersenyum nakal.


" Latihan apa? "


" Latihan merasakan tegangan tinggi dong! " Zen meninggikan alisnya. Ia merasa, semakin tidak ada manfaatnya saja meneruskan obrolan ini. " Kan nanti malam, jadi malam pertama kalian. Hihihihi. " Lanjut Umam.

__ADS_1


__ADS_2