Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Mumum Tak Tahan


__ADS_3

Fahmi adalah anak Bupati Demak, yang menjabat sebagai ketua karang taruna se-kabupaten dan Zen sebagai wakilnya di periode ini. Sedangkan Siska adalah bendahara-nya.


Malam ini, di tempat wisata ini, Fahmi bersama pemuda-pemudi yang mewakili karang taruna dari tingkat desa se-kabupaten Demak, akan mengadakan pertemuan dengan pemuda-pemudi yang adalah mengelola wisata alam ini atas nama karang taruna. Selain untuk survey tempat, Fahmi dan rombongan ingin belajar dari pemuda-pemudi disini bagaimana pengalaman mereka dalam memberdayakan aset desa mereka ini.


Zen yang juga sebagai ketua karang taruna di desanya, sekaligus wakil ketua pengurus karang taruna se-kabupaten memang seharusnya berpartisipasi di acara ini. Tapi kemarin ia sudah meminta izin pada Fahmi, bahwa ia berhalangan untuk hadir. Tapi pagi tadi, tiba-tiba ia begitu merindukan Nana dan ingin bertemu, meski ia tau Nana sedang ada acara sendiri bersama teman sekelasnya. Namun, justru hal itu malah menjadi dorongan untuknya menemui Nana.


Ia teringat mengenai tempat wisata yang akan menjadi tujuan kegiatan karang taruna kali ini merupakan tempat yang sedang populer dan memang menarik untuk dikunjungi. Namun bukan bersama rombongan, melainkan dengan Nana lah ia ingin mengunjunginnya. Tapi sekarang ia malah terjebak disini karna terlanjur kepergok oleh Fahmi dan Siska.


" Kita ikut camping aja yuk, Mam! Kayaknya asyik deh. " Ucap Nana setelah mendengar penjelasan dari Zen.


Sebelumnya Nana merasa hawatir, jika Zen akan memilih mengantarkannya pulang ke kost'an, kemudian kembali lagi ke tempat ini, karna sudah terlanjur bertemu dengan teman-temannya.


" Beneran Mumum mau? "


Nana mengangguk, " Kalau udah nikah nanti, Mumum kan harus siap mendampingi Mamam dimanapun dan m dalam keadaan apapun. Ya anggap aja ini Mumum lagi latihan! " Nana tersenyum bangga.


Dengan begini kan aku bisa mengamankan Mamam-ku! Mengingat keberadaan Siska yang sudah menunjukkan gelagat kurang baik pada Zen.


Sekalian Nana ingin menunjukkan siapa sebenarnya dirinya, dan memastikan tidak akan ada yang bisa mengganggu teritorinya, dalam hal ini adalah Zen.


Zen merasa senang mengdengar ucapan Nana barusan. " Mumum jangan mancing-mancing Mamam! "

__ADS_1


" Emang Mamam punya sesuatu yang bisa dipancing toh? Hehehe. "


" Hih! " Zen memcubit kedua pipi tebal Nana. " Maksudnya, mancing keinginan Mamam buat cepet-cepet jadiin Mumum istri Mamam. "


" Oooohhhhh... Kirain mancing apa! Aaaawww. " Zen mengeraskan cubitannya. Ucapan Nana memaksanya untuk berfikir liar.


" Nakal banget sih! "


" Kalau mau Mumum nggak nakalin Mamam lagi, pulang dari sini langsung temuin orang tua Mumum toh. Bilang sama bapak buat nikahin kita secepatnya. "


Deg. Ada rasa haru di ujung mata Zen. Iya sangat bahagia. Tapi sebelum larut dalam kebahagiaan, ia ingin memastikan lagi bahwa ini bukan sekedar candaan Nana. Karna semakin ia larut, ia akan semakin mereka kecewa nantinya jika ternyata tidak sesuai dengan apa uang diharapankan.


" Beneran lho ya! Awas aja kalau Mumum mundur. "


" Nggak lah! Mumum juga kan udah nggak tahan, Mam. " Nana tersenyum genit sambil mengedip-ngedipkan kelopak matanya.


" Mumum!!! " Zen sudah tidak dapat menahan dirinya lagi. Kini dalam fikirannya sudah dipenuhi dengan hal-hal nakal karna ucapan Nana.


***


Dari kejauhan, Siska memperhatikan Nana dan Zen yang begitu intens, dengan perasaan tidak senang.

__ADS_1


Sebenarnya cewek itu siapa sih?


" Mi, tunggu bentar! " Siska menghentikan langkah Fahmi yang sedang membawa nasi kotak untuk di bagikan.


" Kenapa, Mbak? Nih kalau mau bantuin? " Siska dan Fahmi masih memiliki hubungan persaudaraan, layaknya hubungan Nana dan Zen. Hanya saja disini, Usianya Fahmi dibawah Siska.


" Sebenarnya cewek yang sama Mas Zen itu siapa sih? "


Karna Fahmi sempat ngobrol dengan Nana saat di warung tadi, Siska mengira Fahmi mengetahui semuanya tentang Nana.


" Oh itu namanya Nana, Mbak. Kenapa? Ternyata dia satu kampus sama aku. "


" Dia adiknya Mas Zen? " Setidaknya itu yang diharapkan Siska.


" Eh? " Kenapa tadi aku nggak nanya soal itu ya? " Nggak tau juga aku, Mbak. Aku malah kepikirannya dia itu salah satu anggotanya Mas Zen. Soalnya pas aku datang, dia udah sama Mas Zen di warung. "


" Oh. " Ternyata dia bukan siapa-siapanya Zen, begitu maksud oh yangvdi ucapkan Siska.


" Kenapa? Roman-romannya ada yang lagi jatuh cinta nih! "


" Apa sih kamu! Ngarang aja. " Harga diri Siska mengelak. Karna ia ingin, Zen lah yang terlihat jatuh cinta duluan padanya.

__ADS_1


Walau itu sangat tidak mungkin, tapi biarlah dia berharap.


__ADS_2