Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Yank, Hujan Turun Lagi


__ADS_3

Setiap kata yang diucapan Zen untuk Nana mampu membuat hati gadis itu merasa lega. Beban mental dan pikiran yang sejak beberapa hari lalu menghimpit sekarang menghilang entah kemana. Menyisakan kebahagiaan untuk menjalani waktu bersama.


Sebenarnya Nana masih mengingat pesan Zen, untuk mengatakan apapun permasalahan yang Ia alami. Apalagi jika itu menyangkut hubungan mereka saat ini. Hanya saja, mengenai hal ini Nana tidak memiliki cukup kepercayaan diri untuk mengatakannya. Ia merasa tidak cukup baik untuk berada disamping Zen. Namun Ia juga merasa kesal, saat membayangkan wajah Zen yang merasa menyesal karna harus memilih dirinya dan bukan anak pak Kiyai yang seorang pengahafal al-Qur'an.


" Mumum nungguin lama ya ?" Ucap Zen saat menghampiri Nana diserambi masjid.


Usai keluar dari kedai makan, Zen berniat langsung mengantarkan Nana pulang ke rumah kostnya, agar Ia dapat segera beristirahat, karna masih demam. Namun Nana malah mengajak Zen untuk mampir ke masjid, dimana Ia membuat Zen kepedasan karna suapan batagor dihari pertemuan pertama mereka. mungkin ini merupakan salah satu trik Nana agar dapat mengulur waktu kebersamaannya dengan Zen.


" Emangnya Mamam habis do'a minta apa sih, kok lama ?" Padahal sholatnya sih bentar, di kamar mandinya yang lama.


" Minta supaya jangan biarin Mumum-ku nakal disini. Hehehe." Nana manyun, merasa tidak bernah melakukan perbuatan yang disebutkan Zen. " Pulang sekarang ?"


" Mam."


" Dalem, Mumum sayang-ku." Nana tersenyum.


" Mau nganterin aku ke kost'an temen dulu nggak ?" Nana berubah pikiran lagi.


" Emangnya mau ngapain, Mum?"


" Cuma mau ngambil flashdisk. Besok kan akhir pekan, kuliahnya libur. Mumpung sekarang aku lagi diluar juga. Tapi kalau Mamam nggak mau juga nggak apa-apa. Nanti malam atau nggak besok biar aku kesana sendiri."


" Kalau ratunya bidadari udah menyebutkan keinginan, masa iya sih aku bisa nolak !"


Nana menutupi tawanya dengan tangan. Dia merasa semakin hari, Zen semakin pandai berucap kata gombalan untuknya. Mungkin jika orang lain yang mengatakan akan terasa biasa. Namun karna ini adalah Zen, laki-laki yang katanya polos dan tidak mengenal perempuan sebelumnya. Menjadikan setiap kata gombalannya seperti keajaiban bagi Nana.


***


Belum sampai di kost'an teman Nana, hujan mulai turun rintik-rintik membasahi jalan dan apapun yang berada di bawah langit. Termasuk sepasang mahluk Tuhan itu.

__ADS_1


" Kita berteduh dulu ya, Mum ?" Karna hujan mulai deras mengguyur. Zen merasa hawatir, air hujan akan semakin menyakiti tubuh Nana.


Langit yang tadinya cerah tiba-tiba menurunkan air hujan. Sepertinya langit mau memberikan mendukungnya pada perasaan rindu Nana terhadap Zen. Serta keinginannya untuk menghabiskan waktu lebih lama lagi bersama Mamam-nya.


" Iya, Mam. Kita kesitu aja." Nana menunjuk sebuah toko diarea pasar yang sudah tutup.


Zen membelokakan sepeda motornya ketempat yang ditunjuk Nana. Sekarang mereka dapat menghindari air hujan yang semakin deras mengguyur, namun tidak dapat menghidari hawa dingin yang menyertai hujan. Ditambah lagi kawasan ini merupakan dataran tinggi, lebih tinggi dibandingkan dengan kawasan kampus dan rumah kost Nana.


" Mumum nggak turun?" Merasa Nana tidak bergerak dari posisinya diatas sepeda motor.


" Aku tuh nggak mau jauh-jauh dari kamu, Mam." Sambil menyandarkan kepalanya yang terasa pusing di punggung Zen. Dan menyerahkan helm yang tadi Ia kenakan pada nya.


Ya Allah, ampuni aku dan Mumum-ku atas perbuatan dosa ini. Hati Zen merasa was-was, namun tubuhnya merasa nyaman dengan apa yang dilakukan Nana sekarang ini.


Ya Allah, aku sudah berusaha menjadikannya halal untukku. Tapi engkau masih belum membukakan jalannya untukku. Mengadu agar mendapat keringanan.


Zen tidak mengetahui jika Nana melakukan itu karna kepalanya terasa berat. Yang dia tau, Nana sedang ingin bermanja-manja dengannya.


Karna rasa pusing dikepala Nana sudah mereda, Ia memilih turun dari sepeda motor Zen dan duduk diemperan toko. Diatas keramik yang mencuat dari balik rollingdoor yang tertutup.


Haduh, ini suasana apa sih ! Zen berdiri didekat sepeda motor sambil senyum-senyum meresapi suasana yang tercipta berkat lagu itu. Sedangkan Nana hanya bersikap biasa saja.


" Mam, duduk sini." Nana menepuk keramik disampingnya. " Ngapain mondar-mandir disitu?"


" Kenapa jadi dingin banget ya, Mum."


Nana mengeluarkan minyak kayu putih dari dalam ranselnya, " Sini aku olesin."


Tanpa izin, Nana menyibakkan jaket beserta daleman yang dikenakan Zen ke atas, hingga sebatas dada.

__ADS_1


" Geli, Mum!" Zen cekikikan, merasai geli saat Nana mengoleskan minyak kayu putih diperutnya.


Lama-lama keperjakaanku bisa terkikis karna ulah kamu, Mum ! Hal yang tidak dapat Ia ucapkan langsung pada Nana.


" Udah, diem dulu! Biar kamu nggak masuk angin, Mam." Melanjutkan mengoles minyak kayu putih pada punggung Zen.


Agaknya Nana masih belum menyadari jika sikapnya sudah diluar batas, karna sudah merabai tubuh lawan jenisnya bahkan di area umum. Namun sepertinya Nana hanya mengikuti naluri keibuannya, yang begitu cekatan memberikan penanganan saat mendengar Zen mengeluh kedinginan.


" Selesai." Ucap Nana sambil merapihkan baju Zen yang tadi Ia sibakkan. " Eh !" Nana menatap wajah Zen yang berubah memerah.


Aku habis ngapain sih??? Memperhatikan tangannya yang bergetar. Bukan karna hawa dingin, namun karna teringat perbuatan yang baru saja dilakukan oleh tangan dengan sisa-sisa minyak yang masih menempel itu.


Nana menyerongkan posisi duduknya, berlawanan dari posisi duduk Zen. Ia merasa malu pada diri sendiri juga orang yang berada disampingnya. Menyadari perbuatan lancang yang sudah Ia lakukan.


" Makasih ya, Bidadari-ku." Ucap Zen untuk perawatan yang sudah Ia terima. Meski itu membuatnya malu.


" Mam, aku tuh nggak mau jadi bidadari."


" Emang kenapa, Mum?" Zen menoleh pada Nana yang masih belum berganti posisi.


" Aku kan maunya cuma sama kamu, Mam." Zen masih belum tau arah dari pembicaraan ini. " Kalau aku jadi bidadari nanti nikahnya kan sama jaka tarub bukan sama kamu, Sayang."


MasyaAllah... Zen menggigit jarinya yang dikepal menjadi satu.


Dia tidak mau jika mulutnya sampai mengeluarkan suara. Karna apapun kata yang akan keluar dari sana hanya akan mengundang perhatian orang disekitar.


Zen merapatkan jarak duduknya dengan Nana, terasa hangat. Entah karna minyak kayu putih yang membalur ditubuhnya atau karna hawa dari tubuh Nana yang masih demam.


" Kalau nggak mau jadi bidadari-ku trus kamu mau jadi apa, Mum?"

__ADS_1


" Jadi nyonya Zen !" Ucap Nana dengan nada manja, sambil mengedip-ngedipkan matanya dihadapan Zen.


Aaaaaaaaaa. Aku kira sakitnya Bapak adalah ujian terberatku. Ternyata aku salah besar, Ya Allah ! Karna sekarang aku menyadari, jika ujianku yang sesungguhnya adalah orang yang berada dihadapanku sekarang ini !


__ADS_2