
Zen mencari keberadaan Nana. Cukup lama dia menunggu ditempat yang tadi Ia duduk bersama Nana.
" Aduh disaat begini kenapa perutku malah mules."
Karna Nana belum muncul juga akhirnya Zen memutuskan untuk pergi ke toilet sebentar.
Baru saja tangannya membuka pintu toilet, ponsel Zen berbunyi. Diambilnya ponsel yang Ia simpan dalam saku celana. Meski dalam keadaan perut yang mulas, Zen masih menggubris panggilan di ponselnya, kalau-kalau ada yang penting.
" Dari mbak Nana...! Kasihan, pasti dia nyari-nyari aku." Melihat nama 'mbak Nana' muncul di layar ponsel. Tentu saja Zen langsung menerima panggilan itu dimanapun dia berada, sekalipun didalam toilet. " Hallo..." Tidak sedang dalam kondisi dapat memberikan salam. " Mbak Nana..." Zen melihat kelayar ponsel, memastikan ada atau tidaknya sinyal yang menyambungkan suara mereka. Karna tidak ada sautan suara dari sebrang telpon. " Mbak, bentar ya aku lag..." Belum selesai dengan kalimatnya, Zen mendengar ucapan Nana yang sudah seperti menghentikan waktu di dunia ini.
" I love you..., calon imamku." Teriak Nana dari ujung telfon.
" Apa, mbak?" Ucap Zen bersamaan dengan bunyi tut... tut... tut... pada ponselnya.
Nana memutuskan sambungan telpon begitu saja. Tanpa memberikan kesempatan pada Zen untuk memastikan kembali kalimat yang baru saja Ia ucapkan.
Begitu jelas kalimat "I Love you, calon imamku" terniang di gendang telinga Zen. Serasa bertumpuk memenuhi ruang pikir, hingga membuatnya tidak tau lagi apa yang menjadi tujuannya berada didalam toilet.
__ADS_1
Zen masih tegap berdiri dengan ponsel masih dalam genggaman. Matannya memperhatikan bayangannya sendiri yang bagai orang bodoh dalam pantulan dinding keramik toilet. Sedangkan pikirannya mencerna apa yang baru saja dia alami.
Tanpa melakukan apapun di dalam toilet, Zen keluar untuk segera menemui Nana. Meminta pertanggung jawaban atas apa yang baru saja Ia alami. Namun saat Ia menghampiri Nana yang duduk di tempatnya tadi menunggu, Nana malah asik berbicara ditelfon entah dengan siapa.
Zen ikut duduk disamping Nana meski dicuwekin. Dia menunggu Nana mengakhiri telfonnya dalam diam.
" Dari mana?" Tanya Nana setelah mengakhiri sambungan telfonnya dengan wajah tanpa bersalah pada Zen.
" Hmmm." Apakah kamu tau bagaimana rasanya hati dijatuhkan dengan keras setelah dibuat melambung setinggi-tingginya? Begitu kiranya perasaan Zen sekarang.
Oh iya ! Tadikan aku ketoilet karna perutku mules. Zen sudah mampu mengingat.
" Kenapa kamu jadi yang lebih nafsu daripada aku sih!"
" Hehhe. Tapi kamu mau kan kalau aku beneran mau cium?" Menggoda sambil mengedip-ngedipkan bulu mata lentiknya diimbangi dengan senyum manis.
" Ahhhh... aku lemas." Tubuh Zen melemas.
__ADS_1
" Kenapa?" Nana bukannya hawatir malah jadi penasaran. Karna dia tau lemasnya Zen hanya dibuat-buat.
" Gara-gara dikedip-kedipin sama mbak Nana."
" Emang kenapa?" Kalau itu sih Nana udah tau.
" Ya jadi nggak tahan."
" Nggak tahan kenapa?" Tak ingin salah paham lagi, Nana ingin penjelasan lebih.
" Hish, dasar anak kecil ! Nggak mudengan." Menjewer kedua pipi Nana, tarik kekanan tari kekiri melampiaskan rasa gemas yang terlamau karna perbuatan Nana. " Tadi siapa yang telfon?" Melepaskan tangannya dari pipi mulus Nana, memberikan kesempatan untuknya menjawab.
" Kak Azam. Temen sekelas." Sambil memegangi pipi bekas tangan Zen.
" Oh, cowok yang pake sepeda motor XX, warna hitam, peleknya racing warna keemasan. Yang nganterin kamu ke kost pas aku kesitu kan?" Zen menebak dengan menggebu-gebu.
Nana memutar pelan kepala dan lirikan matanya kearah Zen. Tak percaya dengan ucapan Zen yang sangat tepat sasaran itu.
__ADS_1
Itu matanya dek Zen, mata kucing apa mata-mata sih? Aku aja yang sering diboncengi kak Azam pake sepeda motornya, nggak tau nyampe detel itu kok ! Nana merinding, hawatir jangan-jangan selama ini kehidupannya di kampus diawasi oleh Zen.