Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Perdebatan


__ADS_3

Gejolak hati yang saat ini menyiksa Zen, bisa diibaratkan seperti badai ditengah malam. Tidak mampu menghindari kejadian yang tidak tidak dapat ia prediksi, namun bisa merasakan efeknya dengan pasti.


Zen menghentikan perjalanan pulangnya yang masih separuh jalan. Ia memilih menghampiri salah satu tambak. Bukan untuk bekerja, tapi untuk tinggal sementara waktu di dalam pondokan sederhananya. Tempat terbaik yang ia pilih untuk menenangkan diri juga menjernihkan fikiran yang terasa keruh.


Henghirup dalam lalu mengeluarkanya,


" Hah.... " Meski ada kelegaan, namun permasalannya tidak begitu saja ikut menghilang.


Permasalahan yang memiliki buntut panjang untuknya dan Nana ini bermula saat mereka tiba di depan gedung Kantor Urusan Agama (KUA) yang bertekat di kecamatan desa.


Ia menggandeng Nana masuk ke dalam gedung tanpa memberitahukan apa tujuannya pada Nana.


" Kita mau ngapain sih, Mam? " Tanya Nana.


Saat memasuki gerbang, ia tidak melihat apa yang tertulis pada plang-plang yang berjejer rapih di belakang pagar bangunan. Ini adalah pertama kalinya Nana mendatangi tempat ini, begitu asing dan membuatnya tidak nyaman.


" Assalamu'alaikum. " Ucap Zen saat menghampiri petugas KUA, tanpa menghiraukan pertanyaan Nana.


" Wa'alaikum salam. Silahkan Mas, Mbak. " Petugas itu mempersilahkan Nana dan Zen untuk menduduki kursi yang berada di depan mejanya. " Ada yang bisa saya bantu? "


" Gini, Mas. " Karna petugasnya terlihat masih muda Zen memanggil dengan sebutan Mas. " Kita mau daftar nikah. "


" Hah?! " Nana menyela keras.


Tentu saja Nana begitu shok dengan kalimat singkat, padat dan terdengar dangat jelas ditelinganya. Tanpa ada pembicaraan apapun, Zen sudah memutuskan untuk mendaftarkan tanggal pernikahannya di KUA.


Rasanya Nana ingin menangis saja, ia sangat kecewa dengan keputusan sepihak dari Zen. Bukan untuk ini ia menceritakan tentang tanggal pernikahan yang tinggal beberapa hari itu. Selain untuk menggoda Zen yang sempat bersikap sedikit dingin padanya, Nana juga ingin menceritakan pada Zen betapa isengnya ayah menghitungkan tanggal pernikahan tanpa ia minta.


Aku harus bagaimana ini? Pikirannya terasa buntu saking tegangnya.


" Persyaratannya apa aja ya, Mas? " Lanjut Zen.


" Hehehe, kok Mbaknya malah kaget? " Merasa lucu dengan sikap calon pengantin yang berada di hadapannya.


" Ini memang kejutan buat dia, Mas. " Ucapan Zen membuat pegawai itu mengangguk paham.


Kejutan gundulmu, Mam! Nana menggulung jari-jarinya. Merasa greget dengan Zen yang terlalu sok tau.

__ADS_1


" Ini, Mas. " Memperlihatkan selembar kertas putih bertuliskan persyaratan pendaftaran nikah.


Ini sih nggak mungkin bisa selesai hari ini.


Zen hawatir melihat daftar panjang persyaratannya yang harus ia penuhi, sedangkan tanggalnya pernikahannya hanya tinggal dua minggu.


" Kalau persyaratannya sudah dilengkapi, nanti tinggal mengisi blangko yang disediakan KUA. Mbaknya udah punya KTP kan? " Petugas itu menggoda Nana yang memang terlihat masih ABG.


Mungkin ini bisa menjadi jalan keluar, begitu yang terlintas dalam benak Nana.


" KTP? EEnggg.. Belum punya, Pak. Kan masih dibawah umur. " Ragu-ragu, Nana berbohong.


Petugas itu tersenyum, mendapati kenyataan bahwa tebakannya mengenai Nana ternyata benar.


" Masa iya, Mumum belum punya KTP?! " Zen kaget dan tidak mempercayai ucapan Nana.


" Berarti harus nunggu saya punya KTP dulu ya, Pak? Aduh sayang sekali. Kalau gitu kita permisi dulu ya, Pak. Terimakasih. Assalamu'alaikum. " Nana tidak memberikan kesempatan Zen ataupun petugas itu untuk menyela kalimatnya.


" Wa'alaikum salam. " Jawab petugas dan Zen secara bersamaan sambil melihat Nana yang sudah melenggang keluar ruangan.


" Mum, beneran Mumum belum punya KTP? Emang usia Mumum berapa? " Tanya Zen pada Nana saat berada di area parkir.


" Kalau Mumum punya KTP memangnya kenapa? Mamam mau maksa Mumum buat daftar di KUA? " Ucap Nana dengan nada sedikit tinggi. Tapi tidak sampai terdengar ke dalam kantor.


" Kok Mumum ngomongnya gitu? "


Dalam sekejap perasaan bahagia Zen menghilang berganti gengan perasaan bingung dengan sikap yang ditunjukkan Nana.


" Siapa coba yang mulai ? Mamam kan? Tiba-tiba bawa Mumum kesini tanpa ngomong apa-apa dulu sebelumnya. Emang Mamam mau ngajak nikah siapa? Mau nikah sendiri, hah?! " Mulai mengeluarkan unek-unek yang sempat ia tahan.


" Ini maksudnya apa? Bukanya Mumum sendiri yang ngasih tau Mamam soal tanggal pernikahan itu? Kenapa Mumum jadi marah? " Banyak sekali pertanyaan yang menumpuk dikepalanya. " Bentar...! bentar...! Jangan bilang kalau Mumum cuma mau ngerjain Mamam soal tanggal pernikahan itu! " tiba-tiba Zen memberikan tebakannya.


Baru menduganya saja rasanya sudah sesakit ini.


" Nggak! Itu tanggal memang dari Bapak. " Kemarahan Nana sedikit mereda.


Zen terdiam. Berbagai rasa yang ada di dunia ini seakan membaur menjadi satu, dan hanya rasa getir yang dapat dikecap Zen saat ini.

__ADS_1


" Terus yang jadi permasalahannya Mumun sekarang itu apa? Kenapa Mumum jadi marah. Bukanya kita harus mengginakan waktu yang singkat itu untuk mempersiapkan pernikahan kita? " Ucap Zen menggunakan semua kesabaran yang ia miliki.


" Pernikahan apa yang Mamam maksud? Mamam menghadap ke orang tua Mumum aja belum. Rembuk sama keluarga Mamam juga belum. Emangnya ini pernikahan Mamam sendiri? "


" Itu kan bisa diomongin setelah ini, Mum. Gak usah marah. "


" Hah? " Emosi Nana melonjak kembali. "Jadi maksudnya, Mamam menganggap orang tua kita itu nggak penting? " Ucap Nana penuh penekanan.


Meskipun pernikahan adalah hal yang paling orang tua mereka inginkan, namum bukan berarti Zen bisa menyepelekan keberadaan mereka seperti ini. Dan memutuskan segala sesuatunya tanpa melibatkan restu mereka.


" Ya enggak gitu, Mum! " Zen tidak mampu berkutik.


" Dan satu lagi. Mamam nggak pernah mempertanyakan tentang kesiapan Mumum, untuk menikah di tanggal itu kan? " Dengan percaya diri Nana mengarahkan pandangannya pada Zen. " Asal Mamam tau aja, tanggal pernikahan yang dipilih Bapak itu bertepatan dengan ujian akhir semester Mumum. "


" Eh? " Benar. Zen memang tidak berfikir tentang ini. Ini terlalu menuruti nalurinya hingga tidak dapat berfikir hal-hal yang seharusnya menjadi prioritasnya. " Ma'afin Mamam, Mum. "


" Nggak bisakah Mamam bersabar sedikit lagi untuk menunggu Mumum?"


Zen tidak menjawab. Bukannya itu pertanyaan yang sulit untuk ia jawab. Hanya saja ada banyak hal yang berada di dalam fikirannya, hingga ia tidak mendengar pertanyaan Nana.


Tapi Nana yang terlanjur kecewa karna tidak memperoleh jawaban dari Zen sudah berdiri, bersiap untuk pergi. Dengan membawa rasa sakit dalam hatinya.


" Mam, kalau memang Mamam udah nggak memiliki kesabaran, Mumum nggak mau maksa Mamam untuk bertahan. Mumum ikhlas jika hubungan kita berakhir sampai disini. "


" Apa? " Ucapan Nana terdengar lebih sadis dari semua suara bledek yang pernah diperdengarkan di bumi ini.


Setelah mengucapkan kata-kata yang juga menyakiti perasaannya sendiri, Nana berlari kearah gerbang. Tidak mau mendengar apapun lagi dari Zen.


Zen mengejar kemana arah perginya Nana.


" Mumum ngomong apa tadi! " Bentak Zen, saat menghentikan Nana.


Ia sangat marah dengan ucapan Nana yang tidak beralasan itu. Nana tidak mau menjawab, air matanya sudah cukup mewakili perasaannya saat ini. Sekuat tenaga ia menepis tangan Zen yang membelenggu erat di lengannya.


" Assalamu'alaikum, Mam. "


Ucap Nana sebelum benar-benar menghilang bersama bus mini yang sempat menurunkan penumpangnya di depan Kantor Urusan Agama (KUA).

__ADS_1


__ADS_2