
Dalam keadaan terbaring, Nana ikut mendengarkan ayat-ayat Al-Qur'an yang sedang di lantunkan di ruang depan. Beberapa kali air matanya terlihat menetes membahasi pipi, karna perasaan haru yang ia rasakan.
Nana menguatkan tubuh lesunya untuk bangun dari tempat tidur. Dengan mengenakan sandal japit yang sudah disiapkan Ibu untuknya, Nana mengambil handuk dan baju ganti. Lalu membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
" Na? Nana. " Suara Dinda yang sedang mencari Nana.
" Aku lagi mandi, Mbak. " Teriak Nana dari dalam kamar mandi.
Hanya dengan cara itu suaranya akan didengar oleh Dinda. Karna, selain suara lantunan ayat suci Al-Qur'an, ada kebisingan lain yang menyebar di seluruh area rumahnya juga rumah orang tuanya. Terutama di bagian belakang rumah, tempat berkumpulnya para ibu-ibu yang sedang menyiapkan masakan sambil membahas hal-hal yang mereka anggap menyenangkan (termasuk ngrasani ngantennya).
" Kamu di suruh makan, sama Ibu. "
Sudah masuk waktu makan siang, tapi Nana masih belum mau memakan apapun. Hanya segelas susu coklat hangat, yang mengisi perutnya sejak bangun tidur.
" Nanti aja, Mbak. Aku belum pingin. "
Nampaknya, kejadian semalam sudah membuat selera makan Nana benar-benar menghilang.
Saat Nana mendekat ke tempat sima'an, pembacaan Al-Qur'annya sudah sampai di juz 30, yang merupakan juz terakhir dalam Al-Qur'an. Tiba-tiba perasaan haru Nana menjadi berlipat-lipat. Nana memegangi dadanya, ia merasa sudah tidak kuat lagi menahan perasaan ini.
" Dek! " Sukma yang ikut sima'an Al-Qur'an menjadi kaget melihat kemuculan Nana.
Semua pandangan mengarah pada Nana, sima'an pun terhenti. Sukma berdiri menghampiri Nana yang masih berdiri sambil menangis sesenggukan.
" Adek kenapa? " Sukma was-was. Karna kejadian ini mirip dengan kejadian semalam. Dengan hati-hati ia mengajak Nana untuk duduk di atas permadani, tempat sima'an berlangsung.
__ADS_1
" Aku terharu, Mbak. Mataku jadi nangis sendiri. " Ucap Nana yang memegangi dadanya yang terasa sesak.
Jawaban polos itu membuat orang-orang yang ikut sima'an, menjadi sibuk menutupi tawa mereka, termasuk Sukma yang sedang memeluk Nana. Mereka merasa tidak enak jika terlihat secara terang-terangan, mentertawakan orang yang sedang menagis sampai tersedu-sedu.
Tapi tidak dengan orang-orang yang sedang sibuk mengemas berkat atau bingkisan untuk acara selamatan nanti malam. Tanpa merasa rikuh, mereka mentertawakan bahkan sampai meledek Nana.
" Na... Nana. Udah mau dinikahin, kok masih nangisan aja toh, Nduk. "
" Aku nggak nangis loh, Bude. Ini tuh lagi terharu. " Sambil sesenggukan, Nana menyanggah ucapan kakak perempuan Ayah.
" Halah. Nana pancen nangisan nding, Bude. " Bagaikan iklan, Firman lewat begitu saja.
" Enggak!!! " Tidak terima dengan apa yang dikatakan Firman.
" Halah, nangisan! Nangisan! Nangisan! " Tanpa menoleh, Firman menanggapi ucapan Nana.
Itu bisa menjadi pertanda baik untuk Nana. Ia sudah berani menginjakan kakinya secara langsung lagi ke lantai. Karna setelah mengalami kejadian seperti tadi malam, ia akan merasa jijik dengan benda-benda yang bersentuhan dengan hewan kecil berkaki empat, yang menabraknya semalam. Dan biasanya, paling tidak Nana membutuhkan waktu minimal tiga hari untuk melupakan kejadian seperti itu.
Sekarang, bukan hanya kelompok pengemas berkat yang berani tertawa secara terang-terangan. Kelompok sima'an Al-Qur'an pun tidak mau kalah dalam mentertawakan kelakuhan Nana dan kakak ketiganya, Firman. Mumpung tidak ada orangnya, begitu pikir mbak-mbak santri yang ikut sima'an.
Capek gelutan dengan Firman yang dibantu Sholeh, akhirnya Nana mau makan. Tapi harus di suapi oleh Ayah.
" Di suapi Ibu aja ya? " Ibu menawar. Karna Ayah sedang berembuk dengan Hafid yang akan berangkat atur-atur selamatan ke tetangga (mengundang ke acara selamatan secara lisan).
" Nggak jadi makan lah aku, Bu. " Ucapan Nana sudah seperti ancaman untuk ibu. Ia hawatir, jika Nana benar-benar bakal mogak makan lagi. Apalagi besok adalah hari penting untuk anak gadisnya itu.
__ADS_1
Tidak mau mengambil resiko, ibu pergi ke tempat Ayah dengan membawa sepiring nasi lengkap dengan lauknya. Untul serah terima piring beserta tanggungjawabnya, membuat Nana mau menghabiskan isi piring di tangannya.
***
Di tempat yang tadi digunakan untuk sima'an Al-Qur'an. Dengan lahap Nana mengunyah makanan yang berasal dari suapan tangan Ayah. Nana menolak, saat Ayah menggunakan sendok untuk menyuapinya. Entah ia sedang mengerjai atau ia hanya ingin bermanja-manja pada Ayah, di ujung masa kegadisnya. Apapun alasannya, ia dan Ayah sudah seperti tontonan mahal untuk orang-orang yang berada di sekitarnya.
" Innalillahi wa inna ilaihirroji'un. " Ucap cepat seseorang yang baru saja masuk ke rumah. Ia kaget melihat adegan anak dan ayah itu.
Ini bukan kalimat tarji pertama yang di dengar Nana dan Ayah. Sudah ada beberapa orang sebelumnya yang menggunakan kalimat itu saat melihat mereka berdua di tempat itu.
Kenapa kalimat tarji? Mungkin dikirannya, adegan itu sudah seperti pertanda buruk bagi mereka. Karna yang mereka tau selain pendiam, Ayah Nana memiliki kepribadian yang keras. Dan tidak ada tanda-tanda dari segi manapun, jika Ayah ternyata memiliki watak penyayang lagi maha penurut seperti itu.
" Bapak udah hafal tenan toh (hafal benar)? " Tanya Nana serius.
" Hafal opo meneh (apa lagi)? "
" Lafal ijab. "
Deg. Ayah menegang. Sejak Nana pulang dari Semarang dua hari yang lalu, Ayah dibuat mau tidak mau harus menghafal kalimat akad menggunakan bahasa jawa.
'Mumum nggak mudeng sama bahasa arab, Mam. Jadi, Mumum pinginnya waktu akad nikah nanti, Mamam pakainya bahasa jawa aja. Kan yang Mamam nikahi itu Mumum, Masa iya Mumum malah nggak maksud sama yang Mamam ucapkan. ' Ucap Nana pada Zen, sewaktu mereka mendaftar di Kantor Urusan Agama sebulan yang lalu.
Tentu saja Zen langsung mensetujui keinginan Nana itu. Walau ia tau, menggunakan bahasa jawa dalam akad nikah bukanlah suatu kebiasaan di desanya. Meskipun mereka semua merupakan orang jawa tulen, tapi mereka terbias menggunakan bahasa arab dalam acara akad nikah.
" Hayo, tinggal besok lho, Bapak... " Nana menakut-nakuti Ayahnya. Padahal harusnya dia-lah yang perlu hawatir, karna ialah yang akan dinikahkan besok.
__ADS_1
Detak jantung Ayah menjadi tidak teratur karna ucapan Nana. Segala macam perasaan, perkecambuk dalam diri Ayah yang memiliki sifat tertutup dan cenderung pemalu. Bagi Ayah, perasaannya saat ini, lebih mengerikan daripada perasaannya dulu, saat ia menikahi Ibu.