
Melihat air mata mengalir di pipi Nana, membuat perasaan Zen semakin kacau. Ia tidak ingin perasaan ini akan mempengaruhi konsentrasinya lagi. Karna dengan kondisinya yang seperti ini, kepalanya terasa sulit untuk dapat berfikir dengan jernih.
Zen memilih menepikan mobilnya dan membawanya masuk ke dalam halaman sebuah masjid yang ia temui di perjalanan.
" Mum... " Tidak mendapat sahutan,
" Sayang... " Zen mengulang panggilannya, tapi hasilnya masih sama.
Brak. Suara pintu mobil yang dibanting Zen saat keluar, meninggalkan Nana sendiri didalam.
Kenapa jadi begini? Emangnya salah kalau aku juga marah? Nana beruraian air mata lagi.
Dalam hati, Nana berharap Zen akan mengakui kesalahannya dan berusaha membujuknya untuk meminta ma'af. Namun yang terjadi sekarang, Zen malah meninggalkan dirinya sendirian tanpa berkata apapun.
Nana mulai mempertanyakan Zen yang selalu melarangnya untuk menangis, karna itu hanya akan membuat sakit hatinya. Tapi sekarang dengan mulutnya sendiri ia menyakiti perasaan Nana dan membuatnya menangis seperti ini.
Dibagian lain bangunan masjid, Zen sedang merunduk dan membiarkan kepalanya basah dibawah semburan air kran. Ia ingin mendinginkan isi kepalanya yang terasa membara. Dan setelah dirasa cukup, Zen memutar kepala kran hingga air berhenti menetes diatas kepalanya.
Astaghfirullah hal adzim...
__ADS_1
Ya Allah, kenapa aku jadi seperti ini? Kenapa aku malah bikin Mumum-ku nangis?
Dengan hanya mendengar Nana menyebut nama Ardi, rasa cemburu yang menumpuk sejak awal ia mengetahui kisah masa lalu Nana itu seperti terbakar habis saat itu juga. Hingga ia tidak tau mana yang benar dan yang salah. Yang tersisa sekarang hanya rasa penyesalan.
Sebelum beranjak pergi, Zen menyempatkan mengambil air wudhu untuk menghilangkan sisa-sisa amarah yang sempat menguasai dirinya, sebagaimana yang diajarkan dalam agama yang Zen anut, yaitu Islam.
Zen membuka pintu depan mobil,
" Mumum? "
Deg. Zen tidak menemukan Nana di dalam sana. Bahkan tas ransel Nana pun ikut menghilang bersama pemiliknya.
Karna tidak menemukan sosok Nana, Zen meraih ponselnya yang berada di atas dashboard. Ia segera menghubungi Nana dengan ponselnya itu.
Kriiinnggg. Zen segera melihat ke kolong tempat duduk kemudi. Dan benar saja, suara dering itu berasal dari ponsel yang tadi dilemparkan Nana padanya karna tidak terima dengan apa yang diucapkan Zen.
" Hpnya Mumum masih disini. "
Dilihatnya deretan percakapan yang muncul begitu saja, saat Zen mengusap layar ponsel Nana yang masih menyala. Dan sangat kebetulan, itu merupakan percakapan antara Nana dan Ardi. Karna nama itulah yang tercantum dibagian pojok atas halaman ruang chat. Meski merasa sudah tidak peduli lagi dengan voicenote yang sempat mengacaukan pikirannya, namun tidak serta merta Zen dapat mengontrol jarinya yang terus menerus menggeser baris demi baris percakapan itu sampai bawah.
__ADS_1
" Ma'af ya, Dek. Yang tadi itu kerjaan temen-temen kakak. Mereka ngira kita masih pacaran. " Pesan dengan bubuhan lebih dari dua puluh emoticon tertawa.
" Ma'afkan Mamam, Mum! Mamam salah. " Zen menekan ponsel Nana dengan kuat.
Tidak mau membuang-buang waktu lebih lama lagi, Zen kembali mencari Nana di semua sudut luar maupun dalam Masjid.
" Tinggal tempat wudhu. " Zen sudah merasa was-was. Karna hanya tempat ini yang belum ia periksa.
Alhamdulillah...
Meski sudah melihat sepatu Nana di depan bangunan yang bertuliskan 'tempat wudhu wanita', Zen masih ingin memastikan lagi bahwa Nana benar-benar berada di dalam.
" Masnya mau ngapain? Apa nggak bisa lihat tulisan didepan? " Wanita yang baru keluar dari tempat itu meberikan peringatan pada Zen.
Deg. Wanita itu mengenakan sepatu yang ia pikir adalah milik Nana.
" Ma'af, Mbak. Apa di dalam sana masih ada orang? "
" Nggak ada, Mas. Tempat wudhu cowok itu loh di sebelah sana. "
__ADS_1
Jangan-jangan Nana sudah pergi dari sini. Hanya itu yang sekarang terbesit dalam benak Zen.