
Tinggalah Nana dan Zen diruangan itu. Karna pasien lain beserta keluarganya yang berada dirungan itu, diangga tidak ada oleh mereka berdua. Sedangkan Hafid telah merelakan dirinya sebagai tumbal, untuk keluar rumah sakit demi membeli kebutuhan Nana juga makan malam untuknya dan Zen.
" Mbak Nana tadi jadi mandi?" Pertanyaan yang muncul sejak melihat Nana keluar dari kamar mandi baru terucap.
" Enggak. Cuma cuci muka sama ganti baju aja kok! Emang kenapa? " Ya kan nggak perlu diceritain juga sih, masalah ngelapin badan pake tisu basah.
Eh, bau parfum ini lagi....! Hidung mancung Zen mendeteksi aroma parfum Nana diam-diam. E**mang cocok banget sama karakter mbak Nana.
" Ya nggak papa." Suasana memang menjadi sedikit canggung sepeninggalan Hafid.
" Mbak Nana makan sekarang ya? Tadi pesannya mas Hafid kan aku disuruh ngawasin makannya mbak Nana." Membuka tutup piring makanan dari rumah sakit.
Di iyain aja deh ! Habis itu, suruh dia sholat Isyak. Terus aku sumputin deh makanannya. Hahaha. Nana selesai menyusun strategi dalam hati, agar lolos dari makan nasi.
__ADS_1
Kan kalau sudah kenyang sama nasi, nanti kebabnya jadi tidak termakan. Begitu yang ada dalam pikiran Nana.
Nana merasa lapar. Tapi melihat makanan dipiring saji itu saja, malah membuatnya merasa mual. Karna menurut Nana, mau dilihat dari sudut pandang manapun makanan didepannya itu rasanya akan hambar. Maklum, begitu-begitu dia kan pandai meracik bumbu dalam masakan.
Sesuai rencana, Nana mengangguk dan bermaksud mengambil makanan diatas meja itu. Makanan yang tidak berdosa namun tidak Ia sukai. Entah mereka sedang membayangkan adegan dalam sebuah film atau tidak, yang jelas saat ini tangan Nana dan Zen bertumpuk diatas piring saji makanan Nana.
Kejadian itu bermula saat Zen yang melihat Nana mau meraih piring makan yang tidak berdosa itu. Zen bermaksud membantu mengambilkan piring itu untuk Nana. Tapi yang terjadi, tangan Nana menyentuh tangannya yang terlebih dulu menyentuh piring saji. Sedangkan mata mereka saling memandangi wajah satu sama lain. Dan jika piring itu mendapat kesempatan bicara, mungkin Ia akan berucap, Cieh... cieh...!
Selain mata mereka yang bertemu pandang, senyuman merekapun terlihat terselaraskan. Tersadar, dengan efek slowmotion Nana menarik tangannya dari atas tangan Zen. Ia merasai tangannya menjadi dingin namun ke dua sisi pipinya terasa memanas.
" Hehe. Nggak lah !" Pipi Nana memerah meski yang dia tau jika ucapan Zen itu hanyalah candaan semata.
" Makan sendiri aja. Kalau dek Zen mau sholat Isyak, itu didalen ranselku ada sajadah. Tapi mungkin agak bau. Niatnya sih nyampe rumah mau aku cuci."
__ADS_1
" Sholatnya nanti aja lah ! Aku pingin nyuapin mbak Nana dulu. Coba bilang aaaa." Sudah siap dengan sendok yang berisi nasi dan lauk.
Oh iya... dia kan bisa sholat nanti pas nyampe rumah. Terbesit rasa tidak rela dalam hati Nana. Mengingat 0% kemungkinan, Zen akan menginap dirumah sakit untuk menungguinya malam ini.
Nana merebut tempat pakan serta sendok yang sudah siap untuk disantapnya. Mendadak suasana hatinya berubah.
" Kenapa, Mbak? Nggak suka tah kalau aku suapin?" Mencoba mencari tau penyebab perubahan sikap Nana.
" Nggak papa. Kalau nyuapin aku nanti dek Zen pulangnya bisa kemaleman." Nana tersenyum getir. Setelah selesai berucap dengan nada ketus.
Rasa kecewa seketika menyelimuti hati Zen. Namun sebagai seorang laki-laki yang telah dewasa, Ia tak begitu saja mengikuti gejolak dalam hatinya. Dia perlu menggunakan akalnya untuk mengambil tindakan selanjutnya.
Apa mbak Nana nggak nyaman ya sama keberadaanku disini? Apa mungkin sebaiknya aku pulang aja?
__ADS_1
" Padahal niatnya sih mau nginep disini. Tapi ternyata yang mau ditemenin nggak mau. Hehe. Ya udah, aku pulang aja ya." Masih berharap Nana akan mencegahnya.
" Eh !" Ucap Nana lirih. Dia tidak tau harus bilang apa. Yang Ia rasakan saat ini hanyalah penyesalan atas sikapnya yang sedikit kasar terhadap Zen. Karna sebenarnya dia juga tidak mau kalau Zen harus pulang malam ini.