
Setelah menyelesaikan sesi makan nasi goreng buatannya, Nana berlari menuju tangga. Baru saja Ia akan menapaki anak tangga kedua, terdengar suara Renata yang sedang meneriakinya.
" Hei ! "
" Mau kabur kemana kamu?" Tia mengangkat Nampan yang berisikan sendok kotor, untuk ditunjukkan.
" Apa? Tadi kan perjanjiannya cuma masak. Jadi bersih-bersihnya bukan tanggung jawabku donk ! Wekkk." Menjulurkan lidah lalu kembali berlari menyusuri anak tangga menuju ke kamarnya.
Setelah merasa berhasil melarikan diri dari sekumpulan gadis dilantai satu, kini Nana boleh bernafas dengan lega.
" Naannaaaaaaa ! Awas kamu ya." Teriakan yang bersumber dari lantai satu itu masih terdengar nyaring dilantai dua.
" Hahaahhaa.... " Tawa Nana, si tersangka yang sedang diteriaki.
Nana tau betul penyebab teriakan itu. Karna dengan sengaja, Ia tidak membersihkan dapur maupun peralatan yang Ia gunakan untuk memasak nasi goreng. Yang pasti akan menjadikan emosi Renata dan Tia yang notabene penyuka kebersihan. Ini memang salah satu keburukan dari Nana. Meski pandai meracik bumbu dan mengolah berbagai jenis makanan menjadi enak, namun dia paling tidak suka membersihkan dapur beserta peralatannya.
" Ini aku Mbak, Zen. Lagi apa? Sibuk ya?" Nana mengulang kembali membaca pesan dari Zen, sebelum Ia balas.
__ADS_1
" Oh.... iya Dek. Ini baru selesai makan bareng nasi goreng bareng sama mbak-mbak kost. Makannya pake nampan." Balasan untuk Zen.
Beberapa menit berlalu, namun masih belum juga ada pesan balasan dari Zen. Nana pun mulai gelisah.
*Kok nggak dibales sih ! Sholat Isya' dulu aja lah, terus belajar*. Daripada menjadi emosi karna pesan yang tidak terbalas.
Diapun beranjak dari tempat tidurnya, kemudian mendorong kasur 2 in 1 nya ke kolong, agar terlihat lebih luas untuk nya menggelar sajadah. Lalu keluar kamar untuk berwudhu.
Pertemuannya dengan Zen waktu itu, sudah memberikan banyak perubahan pada hati Nana. Meski dia belum menyakini adanya rasa dalam hatinya untuk Zen, namun justru Ia menyadari bahwa perasaannya terhadap Azam perlahan mulai memudar. Iapun suda ikhlas jika harus kehilangan simpati dari Azam.
***
" Zen." Ayah yang sudah selesai sholat didalam kamar.
" Iya Pak. Bapak mau ke ruang TV ?" Ayah mengangguk.
Sesampainya di ruang TV, Rif'an yang sedang berbaring diatas kasur membantu menatakan bantal untuk Ayahnya bersender.
__ADS_1
" Mas, ada pesan masuk." Rif'an menyodorkan ponsel yang tadi tergeletak diatas kasur, tempat Ayah sekarang berbaring pada Zen.
Setelah menerima ponsel dari Rif'an, Zen duduk di ubin dekat Ayah.
" Enak donk! Apalagi makannya bareng mbak Nana. Hmm, jadi pingin makan nasi goreng juga. Hehe." Senyum Zen sama sekali tidak pudar dari mulai membaca pesan yang Ia terima, hingga selesai mengirimkan balasannya pada Nana.
" Nggak enak ! Soalnya nasi gorengnya kan aku yang masak. Hahaha."
Oh... ternyata mbak Nana bisa masak ! Jadi gemes, pingin cepet ketemu lagi... Senyum Zen mengembang lagi.
Hal wajar yang juga mungkin orang lain pikirkan tentang Nana. Anak perempuan satu-satunya dari keluarga yang mampu, anak bontot yang dimanjakan secara berlebihan, anak kuliahan yang taunya cuma belajar. Mana mungkin bisa melakukan pekerjaan rumah tangga, apalagi memasak. Begitulah orang memberikan pandangannya terhadap Nana.
" Jadi iri sama mbak-mbak kost. Karna mereka bisa merasakan masakan mbak Nana sebelum aku." Menyematkan emoticon sedih pada pesannya. Walau kenyataannya Zen malah tersenyum tidak jelas.
" Hehhee. Ini juga karna aku kalah suit kok. Tapi harusnya sampean bersyukur, Dek ! Kalau seumpama ada yang harus keracunan masakanku kan mereka juga yang merasakannya duluan." Alih-alih tersenyum, kali ini suara tawalah yang keluar dari bibir tipis Zen.
Dua pasang mata lain yang juga berada diruang itu, memperhatikan tingkah Zen tanpa disadari oleh orangnga. Tingkah yang dirasa langka dimata keluarganya. Dua pasang mata itu sekarang saling bertatapan, memberikan isyarat satu sama lain yang entah apa artinya.
__ADS_1
Bisa melihat Zen yang seperti ini, merupakan kebahagiaan tersendiri untuk Ayah yang merasa telah menjadi beban untuk Zen selama beberapa tahun ini.
Genduk Nana... Sembah nuwun. Berkatmu Bapak bisa melihat sisi Zen yang seperti ini. Semoga Allah selalu melindungi kalian. Dan berjodoh dunia akhirat. Amin. Ungkapan syukur Ayah dalam hati.