Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Kedatangan Tamu Istimewa


__ADS_3

Tubuh Nana terasa letih. Sejak kepulanganya dari rumah sakit tadi siang, saudara dan tetangga silih berganti menjenguknya. Tiada waktu untuknya beristirahat. Meski sebelumnya, dia mengeluh bosan karna hanya dapat beraktivitas diatas ranjang rumah sakit selama lebih dari tiga hari ini.


Itulah mengapa waktu Nana berada di rumah sakit, meminta orang tua dan kakaknya untuk merahasiakan keadaannya dari saudara serta tetangga. Dia tidak menginginkan orang lain melihatnya berbaring seperti orang pesakitan. Dan yang pasti akan membuatnya lelah untuk terus menerima tamu yang berdatangan seperti sekarang ini.


Belum lagi tadi siang dia harus menanggapi drama Embah Utinya. Yang terus menagis sambil memeluknya erat, kadang beralih mengelus kakinya yang masih dibalut perban. Hingga sempat ketiduran sebentar disamping Nana. Mungkin karna lelah menangisi cucunya.


" Bu, lampu ruang tamunya cepet dimatiin." Padahal malam baru saja menjelang. Tapi Nana ngotot meminta Ibu mematikan lampu yang belum genap tiga jam masa menyalanya.


" Lha kenapa? Adzan Isya' aja baru selesai. Masa lampunya udah mau di matiin." Ayah juga belum pulang dari sholat berjamaah di mushola.


Untuk apa lagi kalau bukan untuk menghindari orang-orang yang ingin menjenguknya. Itupun jika memang masih ada.


" Udah ngantuk lho, Bu !" Menggulingkan diri diatas sofabed yang sudah tergelar di ruangan TV. Karna malam ini Nana ingin tidur ditemani Ayah dan Ibu diatas kasur itu.


Tanpa bertanya lagi Ibu menuruti keinginan Nana. Karna Ibu juga merasakan lelah, setelah dua hari berada dirumah sakit untuk menemani anak gadisnya yang paling cantik. Ya kan memang anak perempuan Ibu cuma satu itu. Jadi wajar saja, kalau Nana menjadi adalah anak Ibu yang tercantik.


Sesaat sebelum Ibu menutup rapat pintu rumah, terdengar deru mesin sepeda motor berhenti dihalamannya.

__ADS_1


Siapa ya? Karna penasaran Ibu kembali membuka pintu untuk sekedar mengintip siapa yang datang. Apakah tamunya atau bukan?


" Bude..." Sapa salah seorang dari dua orang didepan rumah, memarkir sepeda motor yang mereka kendarai.


" Owalah, ada tamu." Ibu membuka pintu lebar-lebar seraya tersenyum hangat menyambut kedatangan tamunya.


Melihat tamunya menurunkan tiga kardus besar dari sepeda motor, hati Ibu agak terusik. Ada apa ini?


Setelah menjawab salam dan bersalaman dengan tamunya, Ibu mempersilahkan mereka masuk. Lampu ruang tamu masih terang, karna belum sempat dimatikan oleh Ibu. Ibu berjalan masuk ke dalam, meninggalkan tamunya yang kembali berjalan kedepan teras rumah.


" Apa, Bu?" Nana sedikit kesal. Karna Ibu sudah membangunkannya sebelum benar-benar tertidur. Kepalanya menjadi sakit.


" Ada tamu." Bisik Ibu, kemudian berlalu menuju dapur.


" Lho mbak Nana udah tidur." Nana menoleh keasal suara sambil tersenyum, walau suasana hatinya sedang kacau. Karna gagal untuk dapat tidur lebih awal.


Siapa ya? Kok kayak nggak asing. Nana terduduk, meraih hijab yang tadi Ia lempar setelah tamu terakhir pamit pulang.

__ADS_1


Dilihatnya seorang perempuan berjalan melewatinya menuju dapur, membawa kardus dalam pelukannya. Diikuti seorang laki-laki yang juga membawa dua kardus dikedua sisi tangannya. Entah apa yang mereka bawa, tapi sepertinya berat.


" Ini apa? Kok pakai bawa-bawa segala. Kayak mau pindahan gini." Teriak ibu dari dapur. Merasa kaget, melihat tiga kardus besar yang dilihatnya diluar tadi, sekarang berada didapurnya.


" Nggak tau bude. Ini dari Bapak, buat mbak Nana katanya."


Bapak? Buat aku? Siapa? Nana mencoba mengingat.


" Assalamu'alaikum..." Entah berapa orang yang mengucapkannya bersamaan saat memasuki pintu rumah orang tua Nana. Hanya terdengar riuh dari balik sekat dengan tempat Nana sekarang.


" Wa'alikum Salam..." Jawab Nana kompak bersama Ibu dan juga tamu yang masih di dapur.


Sekarang Nana mengingat siap tamu yang datang sebelumnya, setelah melihat para tamu yang baru saja memasuki ruang Keluarga atau sering disebut ruang TV itu. Iya, tamu yang datang tadi adalah kakak perempuan pertama Zen dan suaminya.


Tubuh Nana tiba-tiba demam saat menyalami Ayah, Ibu, Kakak dan juga adik Zen, Rif'an secara bergantian. Selain demam, tubuh Nana juga tiba-tiba membeku. Bernafas pun menjadi susah Ia lakukan.


Jangan-jangan ada dek Zen juga?! Orang yang tidak muncul lagi dirumah sakit setelah malam itu. Jangankan muncul, sekedar mengirim pesan untuk menanyakan keadaan Nana pun tidak.

__ADS_1


__ADS_2