
Bulan ramadhan hampir usai. Libur kuliah juga hampir usai. Namun kisah Nana dan Zen seperti baru saja dimulai. Dan bisa dibilang hubungan mereka masih dalam massa hangat-hangatnya.
Nana baru saja terbagun dari tidurnya, disaat muadzin mengumandangkan adzan duhur menggunakan pengeras suara di masjid dan juga di mushola-mushola.
Belum sempat Ia mencuci muka bantalnya, tapi dalam pikiran Nana sudah muncul ide untuk berbuat iseng kepada Zen melalui pesan singkat.
" Sayangku..." Begitu tulisnya, yang langsung Ia kirimkan pada Zen.
Dia bakal bales apa yah? Nana menyunggingkan senyum usilnya.
***
Zen pun sama. Dia baru saja membuka mata setelah mendengar adzan dhuhur disertai suara dering pesan masuk dari ponselnya.
__ADS_1
Setelah kemarin sore Zen berhasil mengajak ngabuburit Nana didaerah perkotaan. Mau dibilang kencan nggak enak, soalnya masih dalam suasana ramadhan. Yang berujung pemaksaan Zen pada Nana untuk memilih baju, dalam rangka persiapan nyambut datangnya hari raya idul fitri. Hingga membuat mereka lupa waktu. Tidak menyadari bahwa malam sudah mulai larut. Dan inilah hasilnya, mereka mengabiskan setengah hari mereka hanya untuk tidur.
" Sayangku..." Mata Zen yang juga lebar seperti milik Nana, membelalak membaca pesan masuk.
Ini adalah moment pertama kali, Nana memanggil Zen dengan sebutan itu. Bahkan saking bahagianya, Zen sampai menggigit guling yang masih berada dalam pelukannya. Mencegah tawa girangnya agar tidak sampai di dengar oleh keluarganya. Karna Zen merasa, setiap gerak geriknya sekarang ini hanyalah akan dijadikan bahan bergosip oleh orang seisi rumahnya.
Astagfirullah hal adzim... Melepas gigitannya pada guling. Zentersadar jika Ia sedang berpuasa.
" Bales apa ya?"
Karna sudah tidak mampu berpfikir lagi, Zen pun mencoba mencari inspirasi ditempat lain.
Byurr... byuuur... Suara gemercik air yang berjatuhan menimpa tubuh Zen. Meski sudah berpindah kedalam kamar mandi, yang kata orang merupakan tempat paling populer untuk mencari inspirasi. Namun masih saja Zen belum dapat menemukan nama panggilan yang sesuai untyk mengungkapkan rasa cintanya pada Nana.
__ADS_1
" Dalem, cintaku..." Zen membalas setelah selesai menunaikan sholat dhuhur.
Dengan seluruh rasa kebanggaan yang Ia miliki, Zen mengetikkan pesan yang kemudian segera Ia kirimkan kepada Nana. Karna dia pasti sudah lama menunggu balasan ini. Dan Zen berharap, Nana akan menyukai nama panggilan darinya, sama seperti halnya dia menyukai panggilan dari Nana.
Klunting. Mendengar ponselnya berbunyi, seketika Zen melemparkan pecih yang baru saja Ia gunakan untuk menunaikan sholat. Tidak memperdulikan pecih itu akan jatuh kemana, karna dia hanya menginginkan dapat membaca pesan balasan Nana sambil merebahkan diri dengan nyaman diatas kasur.
Zen pun membiarkan sajadahnya tergeletak begitu saja diubin yang dingin. Dia sudah tidak peduli dengan apapun, kecuali dapat membaca pesan Nana dengan posisi senyaman mungkin. Siapa tau dia memerlukan guling untuk Ia peluk, karna merasa gemas dengan balasan Nana yang malu-malu karna balasannya.
" Ma'af, Dek. Tadi aku salah kirim." Balasan dari Nana.
Seketika ponsel Zen terlepas dari tangan. Jatuh diatas perutnya yang rata. Bukan rata karna sedang menjalankan ibada puasa. Namun karna banyaknya aktifitas berat yang dilakoni Zen, menjadikan bentuk perutnya rata dan kencang, namun tidak sampai menimbulkan bentuk kotak masjid, kotak amal, kotak suara, kotak bekal, kotak sampah, dan kotak sumbangan. Singkat kata tidak sixpack. Sedangkan kedua tangannya mematung pada posisi yang sama saat Ia masih memegangi ponselnya.
Tersadar, Zen menjatuhkan kedua tangannya diatas dada, lalu mengelusnya dengan teratur. Agar jantungnya yang baru saja mendapat syok terapi dari Nana itu menjadi lebih tenang dalam menghadapi kenyataan pahit ini.
__ADS_1
" Sabar... sabar... orang puasa itu memang banyak cobaannya. Sabar..." Zen sudah berganti mengelus perutnya.
Karna teringat ucapan orang jawa terdahulu. Bahwa orang sabar itu "dowo usus'e" (panjang ususnya). Maka dari itu, Zen sekarang beralih mengelus perut. Siapa tau ususnya akan dapat menjadi lebih panjang. Agar dia juga bisa menjadi lebih sabar dalam menghadapi ulah Nana.