
Keinginan untuk dapat tidur siang sudah gagal diperoleh Zen berkat cerita fantasy yang di perdengarkan oleh Nana padanya. Dan sekarang adzan untuk waktu sholat asyar sudah menggema sampai di dalam kamar, memaksanya untuk beranjak dari tempat tidur yang masih berat untuk Ia tinggalkan.
" Kenang Zen... bangun ! " Suara Ayah dari balik pintu kamar.
" Nggeh, Pak. " Jawab Zen lesu.
Zen sudah duduk di tepian ranjang. Namun tubuhnya yang terasa masih lemas, enggan untuk bangkit dari sana.
" Ayo berangkat ke masjid. " Ayah dengan penuh kesabaran menunggu anak laki-lakinya keluar dari dalam kamar.
Aaaaaaaaaa, Zen mengacak-acak rambutnya sendiri.
Karna masih belum memiliki semangat untuk bangkit, Zen meraih guling yang terasa dingin, meski baru beberapa saat tidak merasakan pelukannya.
" Nakal... Nakal... Nakal... " Sambil menggebukkan gulingnya pada kasur hingga beberapa kali sebelum Ia tinggalkan begitu saja.
Tidak tau maksud dan tujuan dari perbuatannya itu, karna Ia sendiri sulit untuk mengerti kondisinya saat ini. Bersaman dengan kepergian Zen, terdengar musik yang cukup keras didalam kamarnya. Seakan sedang mendramatisir adegan yang baru saja ia lalukan pada guling yang kini tergeletak tidak berdaya. Sepi, sendiri meratapi nasibnya.
Ku menangis, melepaskan
Kepergian dirimu dari sisi hidupku
Harus selalu kau tahu
Akulah hati yang telah kau sakiti
(Rossa - Hati yang kau sakiti)
Suara musik yang mengiringi lirik lagu gambaran rintihan hati si guling (jika memang punya hati) itu ternyata bersumber dari televisi tetangga yang baru dinyalakan dengan volume full, hingga mampu menyamarkan suara adzan ashar yang belum selesai berkumandang.
***
Brumm... Brumm... Suara deruan mesin sepeda motor di depan rumah. Zen yang sedang duduk santai di ruang tamu mengintip keluar jendela. Rupanya Rif'an baru saja datang bersama kakaknya yang tinggal di kota Semarang.
Pandangan Zen terfokus pada sepeda motor yang menopang kenangan manisnya bersama Nana. Terlihat kotor dan begitu mengganggu pemandangannya.
" Motornya nggak usah dimasukkin! Mau aku cuci. " Pinta Zen saat menghampiri Rif'an dan kakaknya di luar rumah.
__ADS_1
Sekalian untuk mengalihkan pikiran dan perasaannya yang terasa kacau sejak tadi siang, begitu pikir Zen.
Dengan semangat Zen menarik selang air serta menyiapkan ember kecil, m*m* lemon juga spons untuk memandikan sepeda motornya.
" Nyuci motor, Mas Zen. " Seseorang gadis menyapa dari jalanan.
Zen menoleh, dilihatnya putri pak kyai lah yang menyapa. Zen membalas senyuman gadis itu.
" Iya. Mau kemana, Mbak? " Dengan sopan Zen menyapa balik.
" Mau kerumahnya Bude. Monggo Mas." Zen mengangguk. Dan gadis itupun berlalu dari penglihatan, karna dia sudah belok ke rumah yang berada disebelah rumah orang tua Zen.
Zen sudah selesai mencuci sepeda motornya, semua berjalan lancar.
" Hah, tinggal di elap." Ucap Zen lega, melihat sepeda motornya sudah bersih dari debu dan tanah padas yang menempel di ban.
Elap... Elap... Elap..., Zen mengelap tangki sepeda motornya dengan lap khusus hingga terlihat mengkilat, Zen tersenyum melihatnya.
" Warnanya merah kayak warna sepeda motor Mamam. " Tiba-tiba suara Nana terniang di telinga yang langsung merenggut senyuman di bibir Zen.
Baru saja Zen melupakan fantasy si merah yang diceritakan Nana, karna sibuk mencuci sepeda motornya. Tapi sekarang cerita itu kembali berputar dalam kepala.
" Mumum! Tunggu pembalasanku. " Ucapnya lirih, namun penuh penekanan.
" Kenapa Mas? " Tanya Rif'an yang muncul bersama Kiara, anak dari kakak perempuannya.
" Sini Kiara sama pak lek Zen. " Meraih Kiara dari gendongan Rif'an
" Emang mas Zen udah selesai? "
" Udah. Tinggal ngelap, kamu aja yang terusin ya? Tanganku agak perih. " Bohong. Bukan tangannya yang bermasalah. Hanya saja penglihatan sedang mengalami sedikit trauma dengan sesuatu yang berwarna merah.
***
Selesai sholat magrib, Nana memilih membaca buku sambil tengkurap diatas kasur Tia. Dia juga belum dapat melupakan kejadian tadi siang sepenuhnya.
" Aaaaaa, Nana O' On! " Wajahnya memerah karna malu, mengingat perbuatannya pada Zen.
__ADS_1
" Kamu ngomong apa aja sih sama Mamam-mu? Nggak aneh-aneh kan? "
Yang ada dalam ingatannya, Ia hanya menceritakan tentang bra set yang di perlihatkan Naila padanya. Untuk detail cerita yang disampaikan pada Zen, Nana tidak mengingatnya sama sekali. Semuanya mengalir begitu saja dari bibir merahnya.
Mengetahui bahwa Ia hanya menceritakan tentang bra set saja sudah membuatnya, malu. Lalu bagaimana jika Ia mengingat bahwa Ia sudah menceritakan dengan fulgar se-fulgar fulgarnya, mengenai detail pakaian dalam itu pada Zen. Yang kepolosannya sudah semakin terkikis oleh perbuatanya setiap saat.
" Aaahhh. Kenapa sih ! Perasaanku jadi nggak tenang gini. " Nana berguling sambil menutupi wajahnya. Ada perasaan bersalah disana.
" Ini semua gara-gara mbak May sama mbak Naila! Teman macam apa coba mereka? " Jadi mempertanyakan jenis pertemanan yang mereka jalin setahun ini.
Krriiinnnggggg...
Bunyi ponsel, mengagetkan Nana.
" Mamam? " dilihatnya nama yang muncul di layar ponsel. " Duh, gimana ini? " Nana gugup menerima panggilan itu.
Nana duduk menghadap tembok, membenahi roknya yang tersingkap agar terlihat rapi.
Klik. Nana menjawab.
" Assalamu'alaikum. " Mencoba bersikap manis. Agar Zen terpesona.
" Ehem. Wa'alaikum salam. " Deheman Zen sudah menjatuhkan mental Nana.
Ia melekatkan kepalanya pada tembok dengan bantalan lengan kanannya. Seperti sedang berjaga dalam permainan petak umpet dimasa kecilnya.
" Mumun-ku lagi apa? " Zen bertanya dengan intonasi seperti biasanya.
Eh!
Seketika perasaan Nana berubah menjadi terasa lega mendengar pertanyaan itu. Tadinya Nana mengira bahwa Zen akan menceramahi nya habis-habisan mengenai masalah tadi siang. Sia-sia sudah Nana merenungi kejadian itu, karna nyatanya Zen tidak mempersalahkannya sama sekali.
" Lagi baca buku. Kalau Mamam-ku lagi apa? " Nana bersemangat.
" Lagi mau meminta pertanggungjawaban Mumum-ku, masalah si merah. "
" Si merah? " Otak Nana sedang memproses kata itu.
__ADS_1
" Iya si merah, yang mau Mumum-ku beliin buat Mamam itu lho. "
Mati aku! Tiba-tiba Nana merasa kesulitan untuk bernafas.