Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Rumah Sakit 2


__ADS_3

Setelah ditinggal Rif'an dan temannya, Nana masih saja merasa gelisah. Meski Ia sudah mendoktrin dirinya sendiri untuk tenang, namun hati Nana masih saja bergejolak bagaikan sedang berhianat pada tuannya.


Nanti kalau ketemu aku harus gimana?


Ini bukanlah pertemuan pertama Nana dan Zen. Tapi masih saja ada rasa gugup yang bahkan melampaui perasaannya saat pertama kali mereka bertemu. Yang membedakan sekarang, mereka sudah saling mengenal bahkan saling menggoda, meski baru sebatas dalam bahasa tulis, melalui pesan singkat diponsel.


Hati berdebar, tubuh bergetar namun sepasang matanya terus terjaga pada pintu masuk ruangan tempatnya berbaring. Tidak ingin sedikitpun melepaskan pandangannya, yang bagai sedang mengintimidasi pintu yang tidak kunjung memperlihatkan seseorang yang sedang dia nanti.


Ah ! Bodo amat. Mau datang mau nggak, terserah. Aku nggak peduli ? Nana menarik selimut hingga menutupi wajah kesalnya. Lalu membukanya kembali setelah perasaan kesalnya mereda.


" Mas..." Nana spontan memanggil laki-laki yang sedang mendekat padanya lalu menyalaminya.


" Ini kaki gajah kenapa disini?" Goda laki-laki itu untuk menutupi rasa sedihnya saat melihat kaki Nana yang tidak tertutup selimut.


" Ngece !" Nana cemberut.


" Hehehe." Mengelus kepala Nana yang masih berbalut hijab.


" Mas nggak ke pasar?"


" Ini juga lagi perjalanan. Mas cuma mampir bentar."


Saat mendapatkan kabar tentang Nana yang kecelakaan, Firman tengah mengendarai mobil bak terbuka miliknya menuju pasar ikan di kota Semarang. Pikirannya menjadi tidak tenang, akhirnya Ia memutuskan untuk putar arah menuju rumah sakit yang sudah cukup jauh terlewati olehnya.


" Ya udah sana berangkat. Keburu ikan-ikan yang Mas bawa bikin amis rumah sakit nanti." Masih cemberut. " Mas... yang ngasih tau Mas, kalau Adek di rumah sakit siapa? Bapak sama Ibu juga tau?"

__ADS_1


" Kepo..."


" Hihsss. Nyebelin !"


" Hehe. Orang sakit kok ngambekan."


" Punya kakak kok nggak ada yang normal ya, ya Allah..." Ucap Nana lirih.


" Apa?!" Firman tersenyum senang melihat adiknya yang mulai jengkel.


" Mas, cepetan berangkat. Biar pulangnya nggak kemaleman." Penuh penekanan disetiap kata yang Nana ucapkan.


" Ya wis. Mas pamit ya. Mas Hafid sama Zen didepan lagi ngobrol sama Rif'an."


" Heh!" Seketika perasaan yang tadi sudah leyap kini muncul kembali.


" Itu lho mas AC nya kekencengan kayaknya?"


Firman mentertawakan adiknya, dia sengaja menyebut nama Zen demi melihat reaksi Nana yang terasa menggemaskan baginya. Ada-ada aja ! Mana ada ruangan rumah sakit kelas tiga, pake AC.


***


Selesai mendengarkan cerita versi Rif'an dan Ilman tentang kecelakaan yang dialami Nana. Zen dan Hafid memutuskan untuk sholat magrib berjamaah di mushola rumah sakit terlebih dahulu, sebelum memasuki ruang perawatan Nana.


Selesai sholat mereka memasuki ruang perawatan Nana. Mereka mendapati Nana sedang tertidur dengan pulasnya. Awalnya sih cuma pura-pura tidur tapi nggak tau kenapa jadi tertidur beneran.

__ADS_1


Mbak Nana... akhirnya kita ketemu lagi. Zen berbisik dalam hati sambil memandangi wajah sang pujaan hati.


Lama nggak ketemu, kayaknya mbak Nana jadi tambah cantik deh ! Gemes lihatnya.


Bagai sedang melihat sinetron secara live, Hafid duduk dikursi disisi berbeda dari tempat Zen memandangi Nana. Hafid berniat membangunkan Nana, agar dapat segera mengetahui adegan selanjutnya. Namun dicegah oleh Zen.


" Biarin dulu aja, Mas. Mungkin mbak Nana kecapekan."


Bilang aja biar bisa bebas mandangi adekku kan? Batin Hafid.


Tak lama kemudian saat Zen dan Hafid ngobrol, Nana mengeliat lalu membuka matanya yang masih mengantuk. Ia Reflek menarik nafas dan menahanya, dengan mata yang terbelalak ditambah tangan mengepal kesamping serta satu kaki yang menekuk (Pose menggeliat yang belum terselesaikan), saat pandangan matanya dipenuhi gambar Zen yang duduk tersenyum disamping ranjangnya dan sedang menatap kearahnya.


Sambil tersenyum, pelan-pelan Nana membetulkan posisi tidurnya. Agar terlihat cantik saat dipandang.


" Sampean udah lama disini?" Sambil menyalami Zen.


" Lumayan. Nyeyak tidurnya?"


" Heehe. Lha kok nggak dibangunin sih!"


" Eheemm... ehem..." Hafid pura-pura batuk dengan kerasnya.


Secepat kilat Nana menoleh kebelakangnya,


" Mas Hafid !"

__ADS_1


" Hemmm." Dengan ekspresi ngambek.


Entah bagaimana bisa Nana sampai tidak menyadari keberadaan Hafid disana. Emang dunia udah serasa milik berdua apa ya?


__ADS_2