Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Presentasi


__ADS_3

Setelah mengantarkan Nana ke gedung Fakultas Ekonomi, Zen bergegas pergi ke sebuah masjid yang berada di kampus. Selagi menunggu Nana menyelesaikan perkuliahannya, ia juga dapat beristirahat sebentar disana.


Dari rumah, Zen sudah berencana bahwa hari ini ia akan mengajak Nana ke suatu tempat yang berada tidak jauh dari kampusnya. Dan ia berharap, apa yang akan ia tunjukkan nanti, bisa membuat Nana bahagia.


" Mas Zen! " Sapa Abi, di parkiran masjid.


" Kok kamu disini, Bi? Nggak kuliah? " Zen mengenali sosok Abi, yang adalah ketua kelas sepanjang masa. Karna meski sudah lima semester, Abi tetap dijadikan ketua kelas oleh Nana dan teman sekelasnya.


" Ketiduran aku, Mas! Ini malah Motorku rewel, nggak mau nyala. " Sambil ngoglek-ngoglek ontelan motor.


" Ayo kalau mau tak anterin! " Zen menawarkan diri. Tidak tega jika Abi sampai telat kuliah, karna jarak masjid dan Fakultas Ekonomi lumayan jauh.


" Tadi maksudku juga gitu, Mas. Tapi nggak enak aja ngomongnya sama sampean. Heehhee. "


***


Nana bersama anggota kelompoknya, yang terdiri dari tiga orang itu sudah bersiap di depan kelas untuk mempresentasikan makalah mereka. Sebelum memulai, terdengar ketukan di pintu kaca kelas.


" Ma'af Pak, kami terlambat! " Ucap Abi pada asisten dosen, yang merupakan dosen pengganti kuliah hari ini.


Dengan anggukkan, Pak Asdos (Asisten dosen) mempersilahkan Abi dan temannya untuk segera duduk.

__ADS_1


Tadinya Nana terlihat cuek, karna tau jika Abilah yang baru saja masuk kelas. Tapi bau parfum yang sangat ia kenal, tiba-tiba menusuk hidungnya. Dan mau tidak mau, ia pun menoleh ke arah datangnya Abi.


Deg. deg. Serrrrr....


Mamam! Mata Nana hampir copot, melihat laki-laki yang berjalan di belakang Abi.


Entah rayuan apa yang Abi keluarkan, sampai Zen yang tadinya ingin beristirahat di masjid, malah akhirnya ikut masuk ke dalam kelas.


" Duduk sini, Mas. " Abi mengajak Zen duduk dibarisan paling depan. Agar bisa leluasa memandangi Nana yang bertugas menerangkan materi perkuliahan hari ini.


Nana mulai tidak tenang di tempat duduknya. Karna kepercayaan dirinya seakan luntur, saat melihat Zen yang terus memandanginya sambil tersenyum.


Awas ya kamu, Bi!!! Meliriki Abi sambil menunggukkan kepalan tangan.


Meski tidak di kompori, Zen pasti akan terus memandangi Nana. Karna memang hanya ada Nana dalam hidupnya.


Hiks. Mamam jangan ngelihatin terus! Mumum-nya jadi grogi ini loh. Melarang Zen untuk melihat kearahnya, namun matanya sendiri juga tidak mau berpaling dari Zen.


Tazam dan Ulin yang berada di samping kanan dan kiri Nana, tiba-tiba menggeser tempat duduk mereka secara bersaman. Hingga tercipta jarak yang cukup jauh antara mereka dan Nana yang berada di tengah-tengah.


" Hai! Kalian ngapain? " Nana celingukkan, merasa ditinggalkan oleh kelompoknya.

__ADS_1


" Ma'af, Mbak. Aku nggak sanggup menghadapi tatapannya mas Zen. " Ucap Ulin yang masih bisa mengenali Zen.


" Sama, Lin. Apalagi auranya itu lho. "


" Apa? Aura kasih? " Nana memotong ucapan Tazam.


" Kenapa kalian duduknya jadi berjahuan? " Pak Asdos bertanya.


" Ma'af, Pak. Saya lupa, kalau kita bukan muhrim. " Ulin menunjuk ke arah Nana.


Asisten dosen yang masih singel itu ikut tertawa bersama anak-anak sekelas yang tau alasan sebenarnya, mengapa tiba-tiba Ulin dan Tazam menjauhi Nana.


Nana merasa semakin terimidasi oleh kelakuhan teman-temanya. Selagi Ulin yang bertugas menjadi moderator, membuka forum. Nana mencoba menenangkan dirinya sendiri, agar tidak membuat kacau presentasi hari ini.


Tiba giliran Nana, untuk menjelaskan poin-poin yang berada di papan layar proyektor pada teman-temannya. Semua berjalan lancar sampai akhirnya Nana salah melafalkan kata keuangan menjadi ke-tunangan. Yang langsung di banjiri sorakan dari teman-temannya.


" Mbak Nana lagi keingat sama tunangannya toh. Emang tunangannya lagi dimana, Mbak? "


" Disana, Pak! " Semua jari telunjuk mengarah tepat pada posisi duduk Zen.


Abi berdiri. " Oh, aku toh? " Menunjuk pada diri sendiri. " Iya. Tapi pertunangannya udah batal. Udah pisah! " Menatap Nana, serius. " Ma'af ya Umi, aku dan kamu harus end sampai disini. "

__ADS_1


Tertanda, Abi yang selalu membuat suasana kelas menjadi heboh.


__ADS_2