Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Kapan Nikahnya?


__ADS_3

Satu bulan yang lalu, saat dalam perjalanan untuk mengantarkan Nana kembali ke kota Semarang, Zen mengajak Nana mengunjungi sebuah pondok pesantren tanpa memberitahukan apa tujuannya.


Nana duduk di serambi masjid yang terletak di dalam pesantren. Ia tidak sendirian disana. Ada beberapa grombolan orang, mungkin mereka sedang menyambangi anak atau sanak saudara yang mukim disana.


Menengok kesana kemari, mata Nana mengamati setiap bangunan yang berada di sekeliling masjid. Dilihatnya juga para gadis bersarung yang sedang melakukan aktifitas pagi mereka. Ini adalah tempat dengan suasa asing bagi Nana yang belum pernah merasakan kehidupan di pesantren.


" Bulek Nana... " Seorang gadis melambaikan tangannya pada Nana. Ia muncul bersama Zen.


" Loh kok ada Dek Aisy? "


Rupanya ini adalah pesantren khusus perempuan, tempat Aisyah menimba ilmu agama dan juga menghafal ayat-ayat Al-Qur'an.


" Mau berangkat sekarang? " Zen bertanya pada saat sudah berada dihadapan Nana.


" Ya Allah, Paklek! Ngapain coba ngajak aku kesini kalau langsung ditinggalin kayak gini. " Ucap Aisyah penuh kelembutan. Hingga kalimat tersebut kehilangkan unsur kemarahannya. Dan tidak dapat mewakili perasaan jengkel yang sedang ia rasakan pada Zen.


" Lha emang kamu nggak ikut, Dek? "


" Aku belum siap-siap kok Bulek. Biar nanti pulang dari Semarang, Paklek kesini lagi jemput aku. "


" Kamu mau pulang? "


" Iya, Bulek. "


" Dia mau di pingit, Mum! " Zen ikut nimbrung.

__ADS_1


" Maksudnya, Mam? " Nana tidak mengerti yang di maksud Zen.


" Dia mau duluin kita. "


" Apa sih Dek, maksudnya? " Kesal tidak mendapatkan jawaban yang tepat dari Zen, Nana memilih bertanya pada Aisyah.


" Bulek Nana mau nggak jadi pendamping aku pas akad nikah nanti? " Aisyah bertanya sambil menahan rasa malunya.


" Hah, kapan? " Beneran kaget.


" Akhir bulan ini. "


" Serius??? " Nana meninggikan suaranya, hingga menarik perhatian orang-orang di sekitar. " Kok kita bisa kalah start sih, Mam! " Menatap Zen dengan wajah sedih yang dibuat-buat.


Proses singkat yang tidak menjadi pilihan Nana dalam menjalani hubungannya bersama Zen.


" Jadi menurut Mamam ini salah Mumum? Salah orang tua Mumum? Salah kakak-kakak Mumum? " Nana memperlihatkan sikap kekanakannya.


" Nggak Mum! Ini salah Mamam. " Zen memegang dagu Nana. " Jika terlalu lama menunggu, Mamam hawatir pengaruh pelet Mamam bakal luntur. "


Nana tersenyum, " Gimana bisa luntur, Mamam aja meletnya tiap hari kok. "


Aisyah, " Ehem... Ehem... Sejak kapan ya, aku jadi setan? " Karna berada diantara dua orang yang sedang berpacaran.


Itu adalah alasan mengapa pagi ini Nana berada di rumah orang tua Aisyah bersama anggota Inti keluarga Zen.

__ADS_1


Ia memenuhi harapan Aisyah untuk mendampingnya pada saat acara akad nikah. Itung-itung sebagai gladi resih untuk acara pernikahan yang akan Ia jalani sendiri nantinya.


***


Setelah dinyatakan sah, Aisyah dan Manaf, salah satu ustadz di pondok pesantren Aisyah yang kini sudah resmi menjadi suaminya itu di dudukan bersama diatas kursi pelamian.


Sedangakan Nana dan Zen serasa sedang didudukan di kursi panas, karna harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang memiliki satu makna, Kapan mereka melangsungkan pernikahan mereka seperti hal Aisyah dan suaminya hari ini.


" Mam... " Nana memanggil dengan mesra.


" Dalem, Mumum-ku. "


" Iya, Say? " Umam yang juga merasa dipanggi Nana.


Nana dan Zen tertawa, karna mereka berdua sama-sama tidak ngeh dengan nama perias yang sedang duduk disamping Zen itu.


" Gimana, Mas? Pacarmu cantik nggak? " Umam bertanya pada Zen yang tidak bisa berhenti memandangi Nana.


" Aneh ya? Ini ulah dia, Mam. Padahal tadi Mumum udah bilang nggak mau, tapi dianya maksa. " Nana hawatir jika Zen tidak menyukai riasan diwajahnya.


" Mam. " Zen mengacungkan jempolnya pada Umam. " Nanti kalau kita nikah, siap-siap tak booking ya. " Saking populernya, Umam jadi sering menolak konsumen membutuhkan jasa riasnya karna kualahan.


" Hahahaa. Siap, Mas... Tapi kapan ya nikahnya? "


Nana dan Zen saling berpandangan. Saat berdua ataupun sendiri, hanya pertanyaan seperti itu lah yang mereka dapatkan disini. Pertanyaan angker yang menghantui Nana.

__ADS_1


__ADS_2