Calon Imam Pilihan

Calon Imam Pilihan
Rumah Mantan


__ADS_3

Setelah sepeda motor Zen terparkir di depan rumah, yang sepertinya belum jadi seratus persen. Bisa terlihat dari besi-besi yang menjulang di bagian atap daknya.


Nana celingak celinguk, mengamati kondisi lingkungan sekitar, yang terasa berbeda dari lingkungan rumah kostnya. Disini terasa ramai seperti daerah perkampungan pada umumnya. Bahkan, masih banyak warga yang lalu lalang dengan berjalan kaki.


" Mum, ayo sini masuk. "


Nana berjalan pelan, agar tidak tersandung sisa-sisa material bangunan yang tercecer di halaman rumah.


" Mamam kok main nyelonong aja! Emang ini rumahnya siapa? " Melihat Zen yang sudah membuka pintu rumah.


Zen tersenyum." Ini tuh rumah cewek yang dulu pernah dijodohkan sama Mamam, Mum! "


Deg. Sakit sekali rasanya dada Nana. Ia baru tau jika Zen pernah dijodohkan sebelumnya. Yang membuat Nana lebih nyesek lagi. Kenapa Zen mengajaknya kesini tanpa merasa bersalah sedikitpun.


" Udah sana, Mamam masuk aja sendiri! Mumum tunggu di luar aja. " Nana sudah mau menangis.


Bisa-bisanya dia sesantai itu masuk ke rumah mantannya.


" Udah kadung nyampe disini, masa nggak mau masuk? "


" Nggak! " Wajah Nana memerah, menahan kesedihannya.


" Kenapa? "


Bersandar pada tembok yang belum tersentuh cat, Nana menghindari bertatap muka dengan Zen, agar air matanya yang jatuh tidak dilihat.


" Udah sana! Mamam kan mau nostalgiaan sama mantan. Mumum disini aja, Mumum nggak mau ganggu. "


Sebenarnya Zen merasa tidak tega melihat Nana seperti ini. " Tapi Mamam pingin ngenalin Mumum ke dia. "


" Buat apa? Buat pamer ke Mumum, kalau mantan Mamam itu lebih baik dari Mumum. Makanya Mamam nggak bisa move-on dari dia. Iya kan? "


Tega banget sih kamu, Mam!


" Dengerin ya, Mam! Kalau Mamam berharap Mumum bisa seperti mantan Mamam itu, jangan harap! Mending Mamam nikah aja sana, sama mantannya Mamam, jangan sama Mumum. "

__ADS_1


Zen berhasil mencegah Nana yang akan melarikan diri. Seperti yang biasa dilakukan Nana, saat marah. Zen membawanya masuk ke dalam rumah dan menutup rapat pintunya.


" Awas minggir, Mam! Mumum mau keluar. " Berusaha menyingkirkan tubuh Zen menutupi pintu.


Karna usahanya tidak berhasil, Nana berjongkok. Menyangga keningnya dengan kedua lengan yang ditumpuk. Kemudian menangis sepuasnya.


" Kalau udah puas nangisnya ayo ke kamar, Mamam kenalin sama pemilik rumah. " Zen ikut berjongkok di hadapan Nana.


Kamar?


Karna ucapan Zen itu, Nana yang tadinya sudah tenang, kembali menangis dan berusaha untuk kabur lagi. Zen yang menjadi kualahan, akhirnya mendekap Nana dan membawanya masuk ke dalam kamar secara paksa. Kamar yang masih kosong melompong tanpa prabotan. Hanya terdapat lemari dengan pintu-pintu kaca yang tertanam di tembok.


" Lihat kedepan, Mum! " Pinta Zen dengan suara keras, agar katackatanya dapat di dengar oleh Nana, yang masih berontak dan menangis.


" Nggak mau! Mamam jahat! Mumum mau pulang aja! Mumum benci Mamam!!! "


Meski lengannya di pukul berkali-kali oleh Nana. Tapi Zen tetap tidak mau melepas dekapannya. Ia sendiri tidak menyangka, jika reaksi Nana akan sampai seperti ini.


" Kalau Mumum mau melihat kedepan, sebentar aja. Mamam janji, Mamam bakal lepasin Mumum. "


Zen melonggarkan dekapannya saat Nana sudah tenang dan terlihat mulai menegakkan pandangannya ke depan. Tapi belum sempat melihat dengan jelas, Nana menggunakan kesempatan itu untuk kabur. Zen terdiam ditempat tanpa merasa hawatir. Karna biarpun Nana bisa melarikan diri darinya. Tapi tetap saja ia tidak akan bisa keluar dari rumah ini. Karna ia sudah mengunci pintu dan mencabutnya. Karna belum dipasangi engsel, jendela-jendela di rumah ini di paku dari luar.


Mamam kok nggak nggejar aku ya?


Nana menghentikan tangis dan menyeka air matanya. Sebelum pergi, ia ingin memastikan lagi seperti apa mantannya Zen.


Diam-diam Nana mengintip dari pintu kamar. Dari pantulan cermin lemari di hadapannya, Zen dapat melihat Nana yang celingukan di ambang pintu kamar, seperti mencari-cari sesuatu.


" Mumum mau cari apa? " Nana terdiam. " Sini, duduk sini! " Melalui cermin Zen meminta Nana untuk duduk disebelahnya. Nana menggeleng. " Sini, Sayang! Mamam udah capek banget ini lho. "


Karna ada sesuatu yang membuatnya penasaran dan ingin menanyakannya pada Zen, Nana menurut. Ia berjalan pelan ke arah Zen yang duduk menyilang menghadap cermin.


" Mamam capek banget, Sayang. " Zen merebahkan kepalanya di pangkuan Nana. Ia pasrah, tidak menolak.


" Hei! Gara-gara kamu, Mumum-ku nyampe nangis tadi. " Zen menunjuk ke arah cermin.

__ADS_1


" Mamam ngomong apa sih? " Dengan nada pelan, akhirnya Nana mau membuka suara.


" Mamam lagi marahin pemilik rumah ini, Mum. Gara-gara dia kan, Mumum-ku ini jadi nangis? "


Nana celingukan. Masih belum mengerti masksud Zen.


Iya ya. Emang dimana sih yang punya rumah? Kok kita malah jadi nyantai kayak gini di dalam kamar.


" Tolong buka pintu yang itu, Mum. " Zen kembali duduk dan memerogoh saku celananya. " Ini kuncinya. "


Sambil melongo, Nana menerima kunci dari Zen. " Kok Mamam punya kuncinya? "


" Buka dulu lemarinya, nanti Mamam jelasin. "


Nana, menggeser pintu lemari yang juga difungsikan untuk cermin itu. Disana ia menemukan buku besar, dengan tulisan 'sertifikat' yang berlogo burung garuda di bagian sampulnya.


Sertifikat apa ini?


" Baca aja, sertifikat itu. Nanti Mumum juga bakal tau, siapa pemilik rumah ini. "


Antara penasaran dan gensi, Nana membuka buku sertifikat.


" Kok namanya Mumum? " Nana kaget dengan apa yang ia lihat.


" Iya. Ini emang rumahnya Mbak Nalal Muna. Cewek yang dulu pernah dijodohin sama Mamam itu lho. " Ucap Zen sambil merebahkan diri lagi di atas lantai.


" Mamam... Maksudnya apa? "


" Sini, duduk. "


Masih memegang sertifikat rumah ditangannya, Nana duduk dihadapan Zen yang juga sudah dalam keadaan duduk.


" Sayang. Rumah ini adalah hadiah buat Mumum dari Bapak. "


Hah?

__ADS_1


Deg. Air mata Nana membeludak lagi. Mulutnya tidak sanggup untuk berkata-kata.


" Ma'af ya, Sayang. Tadinya Mamam mau bikin runah dua lantai. Tapi karna pernikahan kita tiba-tiba di percepat, Mamam stop dulu pembangunannya. Jadi uanganya bisa dipakai buat ngerapihin lantai satu dulu. Kan mau segera dipakai buat bulan madu. " Zen berkedip genit, sambil tersenyum nakal. Itu adalah kode keras Zen buat Nana.


__ADS_2