
Selesai cek up, Zen menyuruh Nana untuk menunggu di bangku depan apotik poliklinik rumah sakit. Sementara Ia mengantrikan resep obat untuk Nana.
Setelah mengambil obat, Zen mengajak Nana untuk masuk kedalam mobil yang terparkir didepan poliklinik rumah sakit tempat Nana cek up.
" Gendong... " Nana merengek sambil merenggangan kedua tangannya pada Zen yang tegap berdiri dihadapannya.
Melihat sisi Nana yang seperti ini, membuat Zen tersenyum malu hingga memperlihatkan lesung dipipinya. Tentu saja Zen tidak merasa keberatan dengan kelakuhan Nana ini, justru dia merasa bahagia.
Kemarahan Nana tadi malam sudah seperti membuka tabir yang menjadi jarak diantara mereka. Uneg-uneg yang diungkapkan Nana semalam sudah seperti menjadi catatan penting yang harus Zen ingat dalam hidupnya.
Setelah mengantongi obat dan lainnya, Zen pun membopong tubuh Nana. Nana meronta dan menepuk-nepuk pundak Zen.
" Turunin." Bisik Nana ditelinga Zen, meminta agar dia segera menurunkan tubuhnya.
" Tadi katanya minta digendong ?" Nana menutupi wajahnya dengan sisa kain kerudung yang terjulur didadanya.
Ya bercanda kali...
Karna Nana terus meronta dan meminta diturunkan, akhirnya Zen menuruti. Setelah kakinya menyentuh permukaan Nanapun segera melarikan diri dari tempat Zen berdiri, dengan langkah pincang. Dia tidak menyangka kalau Zen akan benar-benat menuruti keinginannya. Yang mengakibatkan mereka menjadi pusat perhatian seluruh pasang mata yang berada di sekitarnya.
" Dasar !" Jadi tadi cuma godain aku doang. Zen menatap Nana yang berjalan sayuk menuju mobil.
Zen berjalan menyusul Nana, tanpa mengetahui jika masih banyak pasang mata yang mengamati langkahnya. Karna dia fokus dengan pikirannya yang masih membayang kejadian yang baru saja terjadi.
__ADS_1
Didalam mobil Nana masih menutupi wajahnya yang memerah dan terasa panas, seperti tumisan kepiting dengan bumbu saos ekstra pedas yang baru matang.
" Ih, dasar sampean itu ya !" Saat melihat Zen sudah duduk di belakang setir. Nana meninjukan tangan dibahu Zen dengan gemasnya.
" Kok aku sih? Coba diinget-inget, tadi siapa yang mulai duluan?" Tak kalah gemas melihat wajah Nana yang masih memerah.
" Ya tapikan..." Ahhh... Ingin menyangkal namun tidak menemukan alasan yang kuat.
" Tau nggak, kalau tadi orang-orang pada ngelihatin kearah kita?"
" Apa iya?" Beneran tidak ngeh.
" Beneran nggak tau ???" Gak percaya.
" Apasih !" Kata yang selalu terucap saat Nana merasa malu dengan ucapan Zen yang berhubungan dengannya. " Tapi aku malu !"
" Kenapa? Nggak kenal ini sama mereka. Ngapain malu ! Emang mbak Nana nggak tau kalau ada pepatah yang bilang, disaat orang lagi pacaran, dunia ini serasa hanya milik berdua?"
" Ya itukan bagi yang pacaran? Emangnya kita lagi pacaran?" Zen menatap heran. " Nembak aja belum pernah!" Lanjutnya bernada lirih, namun dipastikan bisa terdengar oleh telinga Zen.
" Ya ya, kita nggak lagi pacaran! Cuma bertunangan." Ucap Zen untuk membalas Nana. Yang membuat Nana kalah telak.
" Tau ah!" Nana cemberut
__ADS_1
" Hahaha. Ngambek nie ye...! Habis ini kita mau kemana, nyonyaku ?" Sambil mengeluarkan obat dan kertas yang tadi Ia kantongi. " Ini obatnya." Menyerahkan pada Nana. " Ini apa ya? Oh surat rujukan buat kontrol minggu depan. Kita mau booking dulu apa gimana?"
Booking? Wajah Nana berubah pias.
" Maksudnya booking gimana?" Selidik Nana.
" Booking antrian. Jadi besok kalau mau kontrol udah nggak perlu antri lagi di tempat pendaftaran. Tinggal konfirmasi aja ditempat booking trus tinggal nunggu di ruang dokternya." Penjelasan dari pelanggan setia beberaa rumah sakit untuk pengobatan Ayah.
" Ohhhhh..." Lega sudah hati Nana. " Kirain mau booking yang lain." Menyesal susah berfikiran yang bukan-bukan.
" Tuh kan... sering ngatain aku mesum ternyata dirinya lebih mesum."
" Hahaha. Ya kamunya sih, telat jelasinnya!"
" Ya kamunya aja nggak nanya! Sekalinya mesum ya tetap mesum." Mendekatkan tubuhnya pada Nana. Membuat Nana merem melek merasa hawatir.
" Mau ngapain?" Teriak Nana, bersamaan dengan suara laci dashboard yang terbuka.
" Eh !" Nana merapatkan kedua bibirnya. Karna sepertinya dia sudah salah paham lagi.
Zen menjauhkan tubuhnya dari Nana. Ditangannya sudah ada amplop putih, yang dia ambil dari laci dashboard yang memang susah untuk dibuka dari posisi menyamping, mungkin efek dari mobil yang sudah menua.
" Pasti berfikiran mesum lagi kan?" Menyentuh telinganya yang masih terasa mendengung, efek dari teriakan Nana.
__ADS_1
Nana terlihat tersipu malu yang berarti membenarkan tebakan yang dilontarkan Zen padanya. " Ini disimpen dulu ! Dibukanya nanti aja kalau udah nyampe rumah ya." Pinta Zen, sambil menyerahkan amplop putih yang baru dia ambil dari laci dashboard. Kemudian berlalu untuk melakukan booking antrian untuk Nana.